Monday, 25 June 2012 23:59    PDF Print E-mail
Sumut jangan dipimpin gubernur instan
Warta

WASPADA ONLINE

MEDAN – Jika tidak hati-hati bisa saja Sumatera Utara (Sumut) akan dipimpin oleh gubernur instan. Tidak teruji kapabilitasnya sebagai pemimpin.
 
“Ini jelas sangat merugikan bagi Provinsi Sumatera Utara, baik dari segi pembangunan perekonomian maupun harapan dari masyarakat untuk bisa merubah kehidupan mereka dapat semakin lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya,” kata Wakil Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan, Hasrul Azwar.
 
Ia mengatakan, gubernur yang dipilih secara instan atau tanpa melalui proses yang benar-benar teruji, akan sulit untuk membuat terobosan, inovasi maupun program-program pembangunan yang diharapkan masyarakat.

join_facebookjoin_twitter  
 
Oleh karena itu, kata Hasrul  masyarakat juga memiliki peran yang cukup besar dan penting untuk menentukan kemana arah pembangunan di Provinsi Sumatera Utara lima tahun kedepan. “Jadi, dalam pemilihan gubernur Sumut itu, masyarakat juga harus berpikir lebih cerdas, hati-hati dan jangan sampai terpengaruh dengan bujuk rayu atau iming-iming segala. Dan siapa yang pantas dan tepat untuk dipilih pada Pilkada nantinya adalah tergantung dan penilaian dari masyarakat,” kata Ketua Fraksi PPP di DPR RI itu.
 
Sebab, jelasnya, apabila masyarakat salah dalam menentukan pilihan terhadap gubernur Sumut pada periode 2013-2018, maka pembangunan yang diharapkan atau dicita-citakan seluruh rakyat yang ada di provinsi tersebut tidak akan terwujud dan jauh dari harapan. “Hal-hal yang seperti ini juga harus dipikirkan oleh masyarakat yang ikut memilih dan memberikan suaranya pada Pilkada 2013 nanti. Sekali salah dalam menentukan pilihan, maka yang akan menanggung kerugian adalah masyarakat itu sendiri,” ucap Hasrul mantan Ketua DPW PPP Sumut.
 
Dia menambahkan, dalam pemilihan gubernur Sumut yang lebih kurang sembilan bulan lagi itu, sulit rasanya untuk menghilangkan adanya dugaan “permainan uang”, karena hal seperti ini sudah sering terjadi dan tidak bisa dipungkiri. Dan ini juga terjadi dalam pemilihan gubernur di provinsi lain di tanah air ini.
 
Sehubungan dengan itu, maka diharapkan pada masyarakat jangan mau dipengaruhi atau juga terlibat dalam praktik permainan uang untuk memilih calon gubernur. “Tindakan seperti ini, jelas adalah perbuatan yang tidak terpuji dan melanggar hukum, karena menghalalkan segala cara untuk meraih sesuatu yang dicita-citakan. Masyarakat juga harus dapat memahami perbuatan yang salah itu,” ucap dia.

Namun, jelasnya, yang harus dipikirkan oleh masyarakat saat ini adalah bagaimana caranya menghindari atau “menjauhi” praktik permainan bagi-bagi duit yang dilakukan terhadap rakyat.

Selain itu, menurut Hasrul, perlu juga dilakukan kegiatan berupa sosialisasi kepada masyarakat baik di provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan/desa maupun dusun agar tidak menerima uang untuk memilih calon gubernur. Bahkan, katanya, dengan melakukan sosialisasi secara gencar terhadap masyarakat di Sumut itu, diharapkan dapat memberikan pencerahan dan penyegaran, sehingga rakyat tidak akan terpengaruh dengan permainan uang tersebut.
 
“Sehingga Sumut ini nantinya, tidak akan dipimpin gubernur instan. karena hanya mengandalkan uang yang banyak. Tentunya rakyat akan memilih gubernur dambaan mereka yang sesuai dengan hati nurani, serta mengharapkan adanya pembangunan yang semakin lebih baik, serta mampu mensejahterakan perekonomian masyarakat,” kata Hasrul.  

Kekhawatiran Hasrul ini ternyata mendapat perhatian dari calon gubernur Sumut. RE Nainggolan, menegaskan pemimpin adalah figur yang mampu menyerap keinginan rakyat lewat program-program pembangunan. Tak hanya berpikir strategis, seorang pemimpin juga figur yang mampu menjalankan tugas, pokok, dan fungsi (tupoksi) secara sistematis demi target daerah tersebut.  “Tapi pemimpin juga harus mampu merubah karakter sosial yang negatif,’’ katanya.

RE menekankan masyarakat lebih jernih melihat siapa yang mampu memimpin Sumut ke depan. Solusi soal kepemimpinan ada di tangan rakyat sendiri karena memilih pemimpin jangan lagi seperti ‘memilih kucing dalam karung,” katanya, hari ini.
 
Kamaluddin Harahap mengatakan output pemilihan langsung untuk memilih kepala daerah tercatat lebih mengedepankan gesekan kepentingan politik. Sebagai contoh, dia mengatakan, hasil  perdana Pilkada Wali Kota Medan yang memenangkan pasangan Abdillah dan Ramli justru berakhir tragis sekaligus menyeret keduanya ke pengadilan. Begitu juga pasangan Syamsul-Gatot. "Saat ini Sumut masih krisis ketauladanan kepemimpinan,’’ katanya.

Kamaluddin melihat pengganti Syamsul yakni Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho dinilai belum bisa dijadikan teladan karena kurang menghargai waktu dan tak disiplin saat melayani masyarakat. ‘’Gatot juga baru masih baru di Sumut. Baru terbilang 4 tahun atau serupa ‘bayi dibawah lima tahun’ (balita) lamanya menginjak kaki di Sumut, dan mendadak jadi Plt Gubsu pula. Boleh dibilang dia tak paham karakter sosial politik Sumut. Kepemimpinannya  tak bisa menjadi keterwakilan  multietnis di Sumut,” ungkapnya.
 
Sementara, Chairuman Harahap mengingatkan krisis kepemimpinan dan ketauladanan di Sumut dapat dilihat dari kasus hukum adanya Dai yang tiba-tiba tersangkut dugaan korupsi. Tak ada yang berani ambil risiko memberikan pembelaan. ‘’Jadi pemimpin itu harus punya keberanian dan bertanggungjawab. Berani mengambil kebijakan dan berani juga menerima risiko,’’ ujarnya.

Editor: ANGGRAINI LUBIS
(dat03/antara)

 

WARTA KARTUN

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment