Friday, 22 June 2012 03:11    PDF Print E-mail
Tor-tor Malaysia beda dengan Indonesia
Warta
WASPADA ONLINE

JAKARTA - Klaim tokoh Mandailing di Malaysia bahwa tari Tor-tor berbeda dengan tari tor-tor Batak atau Karo dinilai hanya berbeda versi.

"Tari Tor-Tor itu ada bermacam versi, walau dapat berbeda versi namun konsep gerak dan pola adalah sama," kata Wamendikbud Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti ketika dihubungi, tadi malam.

join_facebookjoin_twitter    

Guru Besar UGM ini menegaskan walaupun versi berbeda namun itu tetap tari Tor-tor. Ketika ditanya upaya pertemuan dengan pihak Malaysia mengenai masalah tersebut, Wiendu menyatakan tidak ada rencana bertemu dengan negara jiran itu.

"Namun kita memakai jalur diplomasi dan kita selalu membahas bersama Kemenlu RI," tegasnya. Ia mengemukakan, Jumat besok pihaknya akan mengadakan rapat koordinasi kembali dengan Kemenlu RI guna membahas langkah selanjutnya," pungkas Wiendu.

Anggota Komisi X DPR-RI Dedi Gumilar menilai adanya klaim tarian Tor-tor dan Gordang Sambilan oleh Malaysia justru mengingatkan masyarakat Indonesia akan pentingnya budaya negeri sendiri. Ia pun merasa perlu berterima kasih kepada pemerintah Malaysia atas kejadian ini.

"Ini bukan yang pertama kali. Kita selalu 'diingatkan' sama mereka untuk menghargai kebudayaan sendiri untuk segerlah mendaftarkan budaya bangsa ke UNESCO serta PBB. Agar terlepas dari konflik negara serumpun ini," kata Dedi, saat dihubungi wartawan, tadi malam.

Dedi pun menilai pemerintah tidak memiliki visi kebudayaan sehingga kurang tegas menaruh Kebudayaan menjadi aset utama yang dapat menjual nilai lebih untuk bangsa Indonesia.

"Saat angklung ditetapkan menjadi Warisan Budaya Dunia (The Intangible Heritage) oleh UNESCO apakah kemudian dikembangkan di sekolah-sekolah? Lalu, apa arti ini semua?," ujar Dedi.

Pihaknya mengungkapkan pemerintah hanya mengalokasikan Rp400 miliar untuk anggaran kebudayaan. Di sisi lain, Indonesia memiliki sekitar 7.000 kebudayaan dari Sabang sampai Merauke, namun yang tercatat baru 2.108.

"Apakah kita tidak malu? Aset kebudayaan kita justru dikembangkan negara lain. Jangan sekadar marah kepada Malaysia. Dia klaim atau tidak, itu suatu peringatan kepada kita," tandas Dedi.

Dedi pun menyayangkan pernyataan Wamendikbud Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti yang mengatakan tidak berencana bertemu dengan pihak Malaysia terkait masalah klaim tarian Tor-tor dan Gondang Sambilan. Hal itu, menurut Dedi, malah mengulur ketidakjelasan konflik kedua negara serumpun antara Indonesia dan Malaysia.

"Saya tidak tahu alasan Wamendikbud mengapa tidak mau menemui pihak Malaysia. Saya rasa sangat perlu membicarakan masalah ini secara serius. Kalau nggak ketemu, konflik ini tidak akan pernah selesai. Jangan hanya lewat jalur diplomasi saja," ujar Dedi.
(dat06/rmol/media/wol)




WARTA KARTUN

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment