Monday, 18 June 2012 09:25    PDF Print E-mail
Pertunjukan 'Gordang Sambilan' berirama mistik
Warta
WASPADA ONLINE

MEDAN - Memainkan alat musik suku Mandailing, Gordang 9, memerlukan ketelatenan dan latihan yang serius. Ketua Lembaga Adat Sidimpuan, Haji Saleh Salam Harahap, mengakui, dalam memainkan Gordang 9, kerap terjadi nuansa magis. "Saya sendiri pernah mengalaminya," kata Saleh kepada wartawan, tadi malam.

Alat musik khas etnik Mandailing itu, tidak berdiri sendiri. Dalam memainkan Gordang 9, disandingkan dengan alat musik lainnya. "Gong, serunai, seruling dan nongneng (gong kecil)," kata Saleh. Untuk memainkan seluruh instrumen musik itu, membutuhkan 10 orang. Penabuh Gordang 9, lumrahnya dilakukan oleh empat orang. "Salah satunya pemain kunci, disebut janat," sebut Saleh.

Pada1996 silam, Saleh menuturkan, pernah diminta menabuh Gordang 9, dalam satu hajatan di Kuala Lumpur, Malaysia. "Saya tidak pernah menabuh Gordang 9. Kalau Gondang 2, saya mahir," ujar Saleh. Lantaran diminta, Saleh menerima kayu penabuh.

"Usai menabuh saya muntah-muntah. Oleh pemain dikatakan saya kerasukan, mereka juga takjub karena ketukan yang saya lakukan, irama yang sulit dilakukan. Ketukan Robah Namosih, irama menyerupai hutan terbakar," kata Saleh.

Menguasai menabuh Gordang 9, kala dulu, diperlukan latihan dan menjalani proses karantina. Para pemainnya itu latihan di rumah raja dan dipondokkan (karantina), cerita Saleh. Dari empat penabuh Gordang 9, satu diantaranya pemain kunci, janat. "Dialah (pemain kunci) menabuh dua gendang yang besar, tujuh gendang lain ditabuh oleh tiga temannya," ujar Saleh.

Dalam memainkan Gordang 9, janat kerap mengalami kerasukan. "Dia akan menari dan melompat ke atas gendang, tapi irama tabuh gordang 9 tidak keluar dari pakemnya," ujar Saleh.

Kesenian tradisi suku Mandailing itu, kini jarang dipertontonkan. Hiburan musik pada perhelatan pernikahan dan hajatan lainnya, kini digantikan dengan alat musik modern. Gordang 9 salah satu alat musik yang akan diklaim Malaysia menjadi warisan budaya negara tersebut, selain tarian Tor- Tor.

Kantor berita Bernama di Malaysia menyebutkan, Menteri Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Datuk Seri Rais Yatim berencana mendaftarkan kedua budaya masyarakat Sumatera Utara itu dalam Seksyen 67 Akta Warisan Kebangsaan 2005.

"Tetapi (pengiktirafan ini) dengan syarat, pertunjukan berkala mesti ditunjukkan, bermakna tarian mestilah ditunjukkan, paluan gendang dipelbagaikan dalam pertunjukan di khalayak ramai," kata Rais dalam acara peresmian Perhimpunan Anak-Anak Mandailing di Kuala Lumpur sebagaimana diberitakan situs Bernama.

Dalam situs itu disebutkan pula bahwa rencana itu penting dilakukan untuk memperjuangkan seni dan budaya masyarakat Mandailing. Upaya ini juga bertujuan membuka wawasan warga di negara tersebut tentang asal usul mereka.

Masyarakat Sumatera Utara, Indonesia, mengenal Tari Tor-tor sebagai salah satu bagian dalam upacara-upacara adat untuk menghormati para leluhur. Adapun Mandailing merupakan salah satu suku di Sumatera Utara.

Sebelumnya, Malaysia pernah mengklaim sejumlah kesenian asal Indonesia sebagai milik mereka. Malaysia pernah menampilkan tari Pendet asal Bali dalam video iklan 'Enigmatic Malaysia' di Discovery Channel.
(dat18/antara/tempo)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment