|
||||
| Harga jagung di Sumut anjlok |
| Ekonomi & Bisnis |
WASPADA ONLINE MEDAN - Petani jagung di Sumatera Utara kembali "menjerit" karena harga anjlok lagi sebesar Rp400-Rp500 per kilogram atau tinggal Rp1.700-Rp1.800 per kilogram untuk jenis pipil basah akibat masuknya terus produk impor."Sudah sepekan ini harga anjlok tinggal Rp1.700-Rp1.800 per kg dari sebelumnya masih di kisaran Rp2.200 per kg karena jagung impor semakin banyak masuk dan harga di pabrikan turun," kata Ketua Himpunan Petani Jagung Indonesia (Hipajagin), Jemat Sebayang, di Medan, hari ini. Harga jagung dewasa ini bukan hanya anjlok dari harga sebelumnya, tetapi sudah di bawah harga referensi daerah (HRD) jagung yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Sumut tahu ini yang sebesar Rp2.133 per kg. Petani benar-benar kesulitan dan semakin khawatir harga bakal anjlok lagi mengingat awal atau pertengahan Juli hingga September, sudah memasuki masa panen raya kedua. "Kalau di saat produksi ketat seperti dewasa ini, harga sudah anjlok, bagaimana nanti kalau panen raya. Petani benar-benar berharap, pemerintah turun tangan membantu petani,"katanya. Hipajagin berharap Pemerinta Provinsi Sumut segera membentuk tim monitoring harga, apalagi nyatanya harga jagung di pabrikan juga turun dari Rp2.800 per kg menjadi Rp2.400-Rp2.500 per kg. Ketua Gabungan Perusahaan Pakan Ternak Sumut, Bethman Siagian yang dihubungi, membenarkan adanya penurunan harga jagung di pabrikan pakan ternak atau tinggal Rp2.500 akibat berbagai faktor termasuk mekanisme pasar. Biaya produksi pakan ternak yang bahan bakunya 40-50 persen diimpor semakin mahal sementara di satu sisi harga pakan sulit dinaikkan sehingga harga jagung terpaksa diturunkan. "Perdagangan jagung memang rada aneh juga, kalau harga di pabrikan sedikit tertekan justru pasokan jagung dari lokal semakin banyak,"katanya. Namun, dia mengakui pengusaha pakan ternak sebagian besar tetap melakukan impor karena pasokan dari lokal tetap belum mencukupi kebutuhan pabrikan yang terus naik. "Impor memang tetap ada, apalagi kalau pasokan memang kurang seperti selama ini. Tetapi perusahaan juga tetap menerima produksi petani lokal maupun daerah lain,"katanya. Dia menyebutkan, kebutuan delapan pabrikan pakan di Sumut mencapai satu juta ton per tahun, tetapi hingga kini belum bisa juga dpenuhi jagung dalam negeri sehingga sekitar 40 persen dari yang dibutuhkan tersebut diimpor. Jagung impor Sumut dewasa ini sebagian besar diisi oleh India yang harga jualnya hingga pabrikan di Sumut hampir sama dengan harga produk lokal. "Tak mungkin pengusaha memberhentikan impor kalau memang pasokan dari dalam negeri terus tidak memenuhi kebutuhan,"katanya. Kepala Badan Ketahanan Pangan Sumut, Setyo Purwadi tidak bisa dikonfirmasi di kantornya atau melalui telepon selularnya. Namun sebelumnya, dia mengatakan, Pemerintah Provinsi Sumut sudah menaikkan HRD Jagung tersebut dari harga sebelumnya sebesar Rp1.640 per kg dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Sumut berupaya terus bisa mencapai swasembada agar kebutuhan pabrikan pakan di Sumut dan industri lainnya termasuk konsumsi yang terus meningkat bisa terpenuhi, sehingga tidak perlu impor. Editor: SASTROY BANGUN (dat18/antara) |




MEDAN - Petani jagung di Sumatera Utara kembali "menjerit" karena harga anjlok lagi sebesar Rp400-Rp500 per kilogram atau tinggal Rp1.700-Rp1.800 per kilogram untuk jenis pipil basah akibat masuknya terus produk impor.
Comments