WASPADA ONLINE
MEDAN – Sekolah-sekolah yang dijadikan para calon siswa sebagai SMA yang di favoritkan ternyata belum tentu mempunyai kualitas yang bagus. Karena banyak SMA yang swasta yang lumayan bagus, namun tidak menjadi favorit.
“SMA favorit sebenarnya belum tentu mempunyai kualitas yang tinggi,” kata pendidikan dari Universitas Negeri Medan (Unimed), Zulkifli Simatupang, kepada Waspada Online, tadi malam.
  Dia menilai, kalau kebanyakan SMA yang dijadikan favorit adalah SMA Negeri, namun diantaranya ada yang paling di favoritkan di Kota Medan, yakni SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, dan SMAN 4 sudah menjadi SMA yang di foritkan oleh masyarakat Kota Medan.
SMA Negeri yang paling di favoritkan, biasanya lebih mahal dibandingkan dengan SMA Negeri yang biasa saja. Karena Pendidikan pendidikan itu sangat mahal, dalam SMA favorit biasanya ada biaya yang dikenakan kepada siswanya. “Kalau SMA favorit biasanya dikenakan biaya sama siswa, seperti biaya informasi teknologi (IT),” kata Zulkifli.
Sebenarnya, menurut Zulkifli, Semua sekolah menjadi favorit kalau sudah memenuhi standar pendidikan nasional yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005, yakni, standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar pendidikan dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan pendidikan, standar pembiayaan pendidikan, dan standar penilaian pendidikan.
Dia mengharapkan, sekolah melaksanakan standar nasional tersebut, supaya kualitas pendidikan menjadi merata di semua sekolah.
Sementara itu, Koordinator Komunitas Airmata Guru, Abdi Saragih kepada Waspada Online, tadi malam, menyikapi tidak terulangnya praktek curang dalam penerimaan siswa baru khususnya sekolah menengah atas di Medan seperti tahun silam. Dia melihat, banyaknya siswa-siswa siluman sejumlah SMA favorit di Medan terjadi karena adanya akecurangan dan praktek nepotisme para pihak sekolah. “Kalau pendidikan dinilai dari kantong orang tua siswa, bukan dari kualitas siswa, maka nilai pendidikan akan semakin buruk bukan lagi semakin maju. “Seharusnya penerimaan siswa baru jangan pake uang,” ujar Abdi. Untuk mengantisipasi hal ini, lanjut Abdi, seleksi dilakukan dengan murni dan peraturan yang murni sehingga siswa yang masuk juga murni. Editor: PRAWIRA SETIABUDI (dat17/wol-irwans)
WARTA KARTUN
|
Comments