Wednesday, 16 May 2012 00:03    PDF Print E-mail
Penanganan sampah di Medan
Opini

WASPADA ONLINE


“Yang perlu dituntaskan justru memperbaiki kinerja agar pengelolaan sampah di Medan bisa dimaksimalkan.
 
Tidak dapat dipungkiri, sampah masih saja menjadi masalah di ibu kota provinsi ini. Lihat saja saluran air, dari mulai parit sampai sungai. Lihat pula tempat-tempat umum, sampah masih berserakan di mana-mana, mengundang penyakit, bau menyengat dan jorok.
Harus pula diakui, telah ada upaya pemerintah kota untuk menangani masalah ini. Tapi wujud kota Medan yang asri bebas sampah sepertinya masih jauh dari kondisi yang terjadi sekarang ini.

 

Upaya itu misalnya ketika di Kelurahan Binjai, Kecamatan Medan Denai, didirikan Bank Sampah Mutiara yang baru-baru ini diresmikan Menteri Negara Lingkungan Hidup Prof Dr Balthasar Kambuaya MBA, sampah justru terasa menjadi makin berharga.           

Secara nasional, kita sudah memiliki 477 bank sampah setelah kehadiran Bank Sampah Mutiara di Medan. Dari 476 bank sampah yang beroperasi sebelumnya mampu menghasilkan pendapatan sekira Rp.1,7 miliar dan menyerap lebih dari 1 juta tenaga kerja.           

Untuk membahas masalah sampah ini, Irham Hagabean Nasution (IHN) mewawancarai Direktur Pelaksana Lembaga Studi dan Advokasi (Elsaka) Bekmi Darusman (BD) dan Kepala Dinas Kebersihan Medan Pardamean Siregar, SH (PS) di Medan, kemarin.
 
IHN: Bagaimana tanggapan Anda mengenai pendirian bank sampah di Medan?
BD: Idenya sih bagus. Namun, menurut saya, yang perlu dituntaskan justru memperbaiki kinerja agar pengelolaan sampah di Medan bisa dimaksimalkan. Selama ini, kan, masyarakat membayar retribusi, tetapi faktnya kita sama-sama tahu, sampah terkadang tidak terkontrol, tidak terkendali.               

Padahal, sekali lagi, masyarakat dikutip retribusi. Katakanlah untuk rumah yang sangat sederhana dikutip retribusi Rp5 ribu. Tapi kadang-kadang belum tentu diangkut sekali seminggu, sehingga sampah menumpuk.
           
IHN: Jadi, kinerja yang seharusnya ditingkatkan?
DB: Saya pikir begitu. Saya pikir Pemko juga harus membangun suatu sistem sehingga Dinas Kebersihan Medan mampu lebih maksimal melaksanakan pengelolaan sampah secara baik. Kemudian, Pemko Medan melalui Dinas Kebersihan harus terus mensosialisasikan kepada masyarakat untuk memilah sampah. Ya, sampah organik dan anorganik.            

Sangat perlu menyediakan tempat-tempat sampah. Faktanya, untuk menampung sampah sendiri sering memakai swadaya masyarakat. Buat bak sampah sendiri, buat ember di depan rumah, buat keranjang sendiri. Kita tidak tahu menempatkan di mana kita tempatkan sampah organik dan anorganik. Itu saya pikir tanggungjawab pertama yang harus dilakukan Pemko dalam hal ini Dinas Kebersihan.
Meningkatkan kinerja di internal Dinas Kebersihan, itu sangat diperlukan. Baru kita kemudian bicara mengenai bank sampah yang merupakan bagian dari partisipasi masyarakat.
 
IHN: Tapi, Bank Sampah Mutiara yang kemarin diresmikan Menteri LH, kabarnya merupakan proyek percontohan untuk mendirikan bank sampah di kecamatan lain di Medan, bahkan di kelurahan. Komentar Anda?

BD: Boleh saja, tapi harus dimaksimalkan jangan sampai gagal. Jadi, ini bagus, tapi lebih bagus lagi kalau sekarang dituntaskan pengelolaan sampah di tingkat lingkungan. Tapi, kalaulah bank sampah ini dikelola aktivis lingkungan, tetapi pemerintah tentu tidak boleh dong lepas tangan.
 
IHN: Sebenarnya, untuk apa ada bank sampah di Medan?
PS: Terus terang, pertambahan penduduk dan perubahan pola konsumsi masyarakat menimbulkan bertambahnya volume, jenis dan karakteristik sampah yang semakin beragam. Sampah telah menjadi masalah nasional, sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir agar memberikan manfaat secara ekonomi, sehat bagi masyarakat dan aman bagi lingkungan serta dapat mengubah perilaku masyarakat.
         
IHN: Jadi ini bagian dari upaya pengelolaan sampah yang sistematis?           

PS:  Memang kita berupaya melakukan kegiatan pengelolaan sampah yang sistematis, menyeluruh dan berkesinambungan meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Ini sejalan dengan Undang-Undang No 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah.           

Padahal, pengelolaan sampah yang masih membakar, menimbun, membuang sampah sembarangan memunculkan paradigma baru dalam pengelolaan sampah sehingga dapat lebih bermanfaat. Paradigma baru yang menjadi salah satu wadah pengelolaan sampah di antaranya bank sampah.            

IHN: Apa manfaat nyata dari kehadiran bank sampah?

PS: Terus terang, ini bisa mereduksi jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan sampah terhadap lingkungan, meningkatkan pendapatan masyarakat melalui menabung sampah, menstimulus kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan sampah.

Bayangkan, begitu banyak manfaat yang bisa diperoleh dari kehadiran bank sampah. Karena itu, kita sangat berharap agar Bank Sampah Mutiara dapat melakukan operasional secara maksimal. Kita juga berharap bank sampah ini menjadi motor untuk untuk mendirikan bank sampah lainnya, kita harapkan tidak saja di kecamatan, tapi juga sampai ke kelurahan.

IHN: Bagaimana dengan peran-serta masyarakat terhadap lingkungan?  
PS: Kita mengharapkan Bank Sampah Mutiara menjadi acuan untuk mendirikan bank sampah lainnya di kecamatan lainnya dan terus ke kelurahan, tentu saja berharap peran-serta masyarakat dan aktivis lingkungan. Tentu saja, menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, tidak hanya tugas pemerintah, tapi ini tugas kita bersama.
Makanya, kita akan terus melakukan sosialisasi mengenai bank sampah dan pengelolaan sampah sampai tingkat kelurahan. Bagaiamana pengomposan. Tidak membuang sampah sembarangan, tapi justru membuang pada tempatnya atau menabungkan sampah ke bank sampah. Sosialisasi yang terus kita lakukan diharap dapat melahirkan kader-kader bank sampah.

Tahun lalu kita fokus melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah, tahun ini antara lain ke kader PKK dan masyarakat di bantaran sungai.
 
IHN: Mungkin ada saran Anda?
PS: Kita harapkan masyarakat sudah memilah sampah mulai dari rumah. Sampah ditempatkan di wadah sesuai jenisnya. Kalaupun akan disetor ke bank sampah, tidak lagi susah melakukan pemilahan.

Kita juga harus bergandengan tangan untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat,  untuk kemaslahatan bersama. Mari kita jadikan sampah sebagai sahabat, karena kenyataannya memang dapat memberi kontribusi secara finansial. Bisa menjadi mutiara, emas. Bisa menghasilkan rupiah.
(dat03/rmol/wol)