|
||||
| Cagubsu jangan mainkan marga |
| Warta |
WASPADA ONLINE MEDAN - Dalam diskusi yang digelar sebuah televisi swasta nasional terjadi perdebatan antara politisi Partai Golkar Chairuman Harahap dengan Politisi Partai Demokrat, Sutan Batugana Siregar (SBS). Perdebatan itu sendiri bermula saat Karni Ilyas, host dalam acara itu memberi pertanyaan kepada SBS, mengapa marga Siregar mulai dipakai belakangan ini? Apakah ada kaitannya mulai pakai marga karena Pilkada?Chairuman Harahap, saat disinggung Waspada Online soal perdebatan di diskusi itu hanya tertawa. “Tidak ada itu debat,” sebutnya. Hanya saja ia memegang teguh bahwa soal kultur dan budaya itu prinsipil. Menurut dia hal tersebut tak dapat ditawar-tawar dan harus kita junjung tinggi. “Tak masalah siapa yang pertama kali membangun Huta (desa), bisa marga apa saja, dan itulah yang harus kita junjung tersebut,” sebutnya. Sekedar mengingatkan, perdebatan di forum itu muncul saat SBS mengatakan bahwa marga itu bisa dipakai bisa tidak. Sontak Chairuman bereaksi bahwa pernyataan SBS itu dianggap telah melanggar kultur. “Soal kultur dan budaya itu adalah prinsip, yang bicara ini Harahap,” sebutnya saat itu. Chairuman juga tak bisa menerima saat SBS mengemukakan bahwa ia menanggalkan marganya pada saat situasi dan kondisi tertentu. “Itu kondisional bukan disengaja, saat saya berkuliah di Jogya,” sebutnya. Ia melanjutkan yang penting semua tahu bahwa Bathoegana itu nama satu desa di Tapanuli dan ayah saya bermarga Siregar, kata SBS. SBS menolak jika pemakaian marganya kembali terkait semakin dekatnya jadwal Pilgubsu. “Belakangan ini saya pulang ke kampung. Di sana para orang tua kita minta agar marga itu dipakai kembali, itu saja alasannya,” kata SBS di acara itu. Pengamat Sosiologi dari UMSU Shohibul Anshor Siregar mengatakan soal marga ini sebenarnya juga diterangkan di dalam Al Quran. Intinya ada ayat yang artinya adalah wahai sekalian manusia , kami ciptakan engkau dari laki-laki dan perempuan , bersuku-suku dan bangsa agar kalian saling kenal. “Jadi pernyataan SBS yang marga bisa dipakai bisa tidak itu menafikan identitas, itu bisa diartikan juga krisis identitas,” sebutnya saat dihubungi Waspada Online. Alasan menanggalkan sementara marga saat hendak berkuliah di Jogya juga dipandang tak logis. “Banyak kali senior kita yang bermarga di sana, dosennya juga banyak, saya juga alumni sana tapi tak tanggalkan marga,” sebut Shohibul. Menurutnya kalau sekadar kesalahan administrasi, hal itu masih bisa diterima, namun seperti kita ketahui, SBS sudah sengaja menanggalkan marganya. “Dia harus jelaskan itu, saya sendiri tak tahu SBS itu Siregar dari mana,” sebutnya. Menurut Shohibul ini penting mengingat, SBS sedang melakukan investasi popularitas dan elektabilitas di Sumut. (dat18/wol-robbyef) |




MEDAN - Dalam diskusi yang digelar sebuah televisi swasta nasional terjadi perdebatan antara politisi Partai Golkar Chairuman Harahap dengan Politisi Partai Demokrat, Sutan Batugana Siregar (SBS). Perdebatan itu sendiri bermula saat Karni Ilyas, host dalam acara itu memberi pertanyaan kepada SBS, mengapa marga Siregar mulai dipakai belakangan ini? Apakah ada kaitannya mulai pakai marga karena Pilkada?
Comments