|
||||
| Rusia bingung, pesawat canggih kok jatuh |
| Warta |
|
WASPADA ONLINE
Menurut Sunaryo, saat ini Tim di lapangan tengah melakukan pengumpulan data secara komprehensif sehingga bisa diketahui dan diteliti penyebab kecelakaan pesawat tersebut. Ia juga menambahkan,data-data penyebab terjadinya kecelakaan belum semua lengkap dan terkumpul. "Sejauh ini kendalanya Fact Finding belum lengkap, apa yang dibutuhkan dicatat, engine (mesin) nya dicek, data-data yang diperlukan belum lengkap," jelasnya. Selain itu, dia mengatakan, untuk bisa mengetahui penyebab jatuhnya sebuah pesawat butuh waktu penyelidikan bertahun-tahun untuk bisa terkuat penyebabnya. "Saya 35 tahun di Angkatan Udara permasalahan-permasalah seperti ini sudah berpuluh kali. Penyebabnya bisa diketahui sampai satu tahun lagi. Itu juga sulit, kebukanya baru berapa tahun kemudian. Selama ini begitu," tandasnya. Ketua tim ahli forensik Rusia, Andry Kovalev, menyatakan lama waktu pengerjaan identifikasi korban kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 tergantung pada jumlah potongan tubuh jenazah korban yang dikumpulkan. Hingga saat ini, ada dua potongan besar tubuh yang berhasil diidentifikasi milik warga Rusia. Ada delapan warga Rusia yang menjadi korban jatuhnya pesawat SSJ 100 di Gunung Salak 9 Mei lalu. Mereka semua adalah awak pesawat. "Jumlah potongan tubuh sangat banyak, susah mengatakan berapa lama waktu yang dibutuhkan, karena tujuan utama identifikasi adalah menetapkan kepribadian korban, milik siapa potongan itu sebenarnya," kata Kovalev dalam jumpa pers di RS Polri Soekanto, Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu, 13 Mei 2012. Andry mengungkapkan dari potongan-potongan tubuh korban yang ditemukan tim SAR di lokasi kejadian, dua potongan tubuh besar adalah milik warga negara Rusia. Pihaknya memperkirakan waktu identifikasi paling sebentar dilakukan selama dua minggu. "Sebagian kami selidiki sekarang, lainnya butuh waktu lebih lama, seperti seorang tidak bisa membangun pesawat dalam satu hari, sama dengan identifikasi potongan, tak bisa selesai dalam waktu sehari," katanya. Sementara, Direktur Eksekutif DVI Indonesia, Anton Castilani, membenarkan bahwa kondisi jenazah korban sudah tidak utuh sehingga pekerjaan 45 post mortem dilakukan dengan jigsaw puzzle, diacak dan dikumpulkan menjadi satu. Masing-masing potongan akan diberikan label, baru kemudian dikelompokkan. "Saya bisa katakan begitu, tidak ada korban utuh," ungkapnya. (dat03/inilah/vivanews/wol) |




JAKARTA - Tim dari Rusia dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Indonesia, masih menyelidiki penyebab kecelakaan pesawat komersil Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di lereng Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, Rabu kemarin.
Comments