WASPADA ONLINE
JAKARTA - Pesawat penumpang terbaru buatan Rusia, Sukhoi Superjet-100 hilang dari radar saat uji coba terbang dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, hari ini. Ada 44 penumpang di dalamnya.
Seperti dimuat situs berita Rusia, RT, pesawat tidak kembali ke bandara pada waktu yang telah dijadwalkan. Saat diketahui hilang, bahan bakar yang ada dalam pesawat diperkirakan telah habis.
  Sebelum hilang dari radar, RIA Novosti memberitakan, awak pesawat minta izin untuk turun dari ketinggian 10.000 kaki ke 6.000 kaki, ke arah kanan. Padahal di dekat lokasi tersebut ada gunung setinggi 6.200 kaki. Ada 44 penumpang dalam pesawat tersebut, termasuk 8 warga Rusia dan 36 penumpang dari warga negara lain, sebagian besar adalah perwakilan dari perusahaan penerbangan ternama.
Sementara, pesawat tersebut dikemudikan awak Rusia. Berdasarkan Twitter yang dikirimkan blogger dan traveller Sergey Dolya, pesawat tersebut dipiloti penerbang senior Aleksandr Yablontsev dan kopilot Aleksandr Kochetkov.
RIA Novosti juga merilis nama-nama enam warga Rusia lainnya. Mereka adalah, aero navigator Oleg Shvetsov, insinyur penerbangan Aleksey Kirkin, insinyur uji terbang terkemuka Dennis Rakhmanov, Nikolay Martyshenko, direktur penjualan "Sukhoi", Evgeny Grebenshchikov, dan kontrak manajer Kristina Kurzhukova.
Sebelumnya, Atase Pers Kedutaan Besar Rusia, Dmitry Solodov mengatakan, pesawat tersebut hilang saat melakukan demonstrasi terbang sesi kedua. "Sampai sekarang belum ada tanda-tanda keberadaan pesawat itu. Hilang sinyal," tambah dia pada wartawan.
Pesawat Sukhoi tersebut tiba di Indonesia pada 9 Mei 2012. Ini adalah negara keempat yang dikunjungi selama safari ke enam negara Asia. Sebelumnya pesawat telah mengunjungi Myanmar, Pakistan dan Kazakhstan. Setelah Jakarta, ia direncanakan mengunjungi dua negara lain, Laos dan Vietnam.
Mengutip Wikipedia, pesawat ini ditujukan untuk menggantikan Tupolev Tu-134 dan Yakovlev Yak-42 peninggalan Soviet yang sudah tua dan sering mengalami kecelakaan. Di pasar global, Superjet 100 berkompetisi dengan seri pesawat regional Bombardier CRJ dan Embraer E-Jets serta Antonov An-148. Proyek Superjet 100 didukung sepenuhnya oleh pemerintah Rusia dan dikatakan sebagai salah satu proyek nasional terpenting.
Sukhoi Superjet 100 pertama kali mengudara pada 2011. Pengguna pertamanya adalah maskapai penerbangan nasional Armenia, Armavia, yang membeli sebanyak 4 unit. Aeroflot, maskapai penerbangan nasional Rusia memesan sebanyak 50 unit, tiga diantaranya sudah masuk dinas.
Di Indonesia, pesawat ini telah dipesan Kartika Airlines sebanyak 15 unit, dan Sky Aviation, juga sebanyak 15 unit. Sukhoi Superjet 100 bermesin SaM146, dikembangkan oleh Powerjet, sebuah joint venture antara NPO Saturn Rusia dan Snecma Perancis. Pesawat ini mulai diproduksi pada tahun 2007, namun perancangannya dimulai mulai tahun 2000 dengan dukungan perusahaan kedirgantaraan Barat seperti Boeing sebagai konsultan proyek, Alenia Aeronautica sebagai partner strategis.
Snecma sebagai risk-sharing partner, dan berbagai perusahaan lainnya seperti Thales sebagai penyedia paket avionik. Pesawat ini telah disertifikasi laik terbang oleh Komite Penerbangan Antarnegara pada 3 Februari 2011 dan diharapkan sertifikasi Uni Eropa segera menyusul. (dat17/inilah/viva/wol)  WARTA KARTUN
|
Comments