AVIAN E TUMENGKOL
Kebiasaannya, disaat dia memerlukan fokus dan keseriusan sambil membuat dirinya nyaman, lengan kemejanya selalu digulung, batik sekalipun. Nampak ketika melibatkan diri dalam percakapan dengan forum, dia selalu tegas dan tanpa basa-basi, selalu merencanakan implementasi dan mencari solusi dalam mengatasi tiap persoalan.
Gaya itu pula yang diperlihatkan Wakil Presiden Jusuf Kalla, dalam dua rapat tertutup sebelumnya membahas pembangunan Kuala Namu. Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin dan beberapa menteri yang mendampinginya, terlibat dalam diskursus yang serius, tegas, fokus dan cepat dalam mengambil keputusan. Para bupati dan pejabat Angkasa Pura serta Dinas Perhubungan tampak serius pula.
Semua permasalahan terungkap, termasuk akhirnya soal pembebasan tanah yang menjadi salah satu masalah yang menghambat pembangunan ini. Solusi pun didapatkan. Meski para pejabat daerah saling menoleh, mereka tidak punya pilihan lain, tetap harus menjalankan direktif Wakil Presiden.
Soal anggaran, tak masalah. JK menoleh ke Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta. “Ada masalah soal anggaran, pak menteri?” Pertanyaan JK langsung dijawab oleh Paskah: “Tidak ada pak.”
Suasana ruangan langsung menjadi sedikit cair. Terlihat beberapa pejabat, termasuk Gubsu, serentak minum air yang tersedia, sebelum mengakhiri rapat yang berlangsung sekitar 70 menit.
Lengan kemeja yang biasanya digulung, dalam kunjungannya yang ketiga Jumat (7/8) kemarin, tidak terjadi. Satupun menteri tidak mendampinginya, hanya Gubsu dan Tursandi Alwi, sekretaris Wakil Presiden, yang duduk disamping JK.
Rapat kali ini terbuka, tidak seperti sebelumnya dimana hanya jajaran tertentu yang diperbolehkan hadir. Perwakilan media satu pun tak ada, kecuali Waspada Online. Tapi kali ini, media bebas berkeliaran.
Sebelumnya, pembangunan Kuala Namu yang akan menggantikan bandara Polonia Medan, sempat terhambat. Rencana awal, akhir tahun 2009 sudah beroperasi. Tapi berdasarkan laporan Angkasa Pura yang dipresentasikan kepada peserta rapat kali ini, menunjukkan bahwa pembangunan bandara ini baru mencapai 24%.
Direktur PT Angkasa Pura II, Edy Hartono, mengaku pembangunan ini akan menghabiskan anggaran hampir Rp7 triliun. Pahadal anggaran awal yang telah disubmisi hanya Rp4,3 triliun. Pembengkakan anggaran disebabkan kondisi tanah yang dijadikan menjadi runway membutuhkan teknologi khusus karena tanahnya lembek dan bermasalah sehingga tidak cukup kuat untuk menampung beban. Apalagi rencananya pesawat Boeing 747 dengan 113.709 pergerakan pesawat per tahun bakal menjadi salah satu ‘tamu’ langganan di Kuala Namu, meliputi pembangunan runway sepanjang 3.000 x 60 meter.
Tanah di landasan atau runway harus dikeringkan terlebih dahulu. Kata Edy, sudah beberapa kali kita lakukan pengeringan dan pembuangan air yang menyebabkan kelembahan tanah. Untuk runway pesawat, kita membutuhkan teknologi khusus karena setelah proyek berjalan ternyata kondisi tanah yang bertepatan diatas runway, tidak cukup kuat untuk terima beban. "Tanah di landasan harus dikeringkan dulu berkali-kali dan dikeluarkan airnya. Maka untuk runway kita memerlukan dana tambahan sekitar Rp1,4 triliun karena sampai sekarang belum berhasil secara penuh," lapornya. Paparan Angkasa Pura yang hanya 8 menit ditanggapi JK dengan santai saja. “Oke, nanti saya akan koordinasi dengan Bappenas untuk itu (anggaran, red),” kata JK. Wapres juga mengingatkan pembangunan harus tetap memementingkan kualitas pembangunan runway sesuai standar internasional. Yang paling penting keselamatan penerbangan, katanya.
“Saya lihat disini ada 3 masalah pokok. Pertama soal anggaran, kedua soal teknis, dan ketiga soal pembebasan lahan. Segera lah diatasi karena bandara ini besar, dapat menjadi hal yang baru pula memperbesar Sumut untuk menjadi lebih baik,” dengan singkat Wapres merespon.
Suasana rapat pun sempat terdiam sunyi hampir 1 menit, terlihat pula beberapa pejabat bingung, ketika JK bertanya: “Jadi apa solusi kita supaya proyek ini berjalan lancar?”
Satu dua kalimat itu mengakhiri rapat yang berlangsung selama hanya 23 menit. Padahal beberapa pejabat sudah siap untuk memberikan laporannya, termasuk bupati dan pimpinan PLN Sumut. Dengan santai, JK langsung berdiri untuk melakukan peninjauan.
Sambil jalan menuju miniatur Kuala Namu, JK terdengar meminta Gubsu segera menuntaskan pembebasan tanah 40 kepala keluarga yang masih bertahan di areal pembangunan lokasi. Gubsu pun serius menanggapi JK dan menganggukkan kepala.
Tiga menit saja mendengarkan penjelasan pengelola pembangunan sambil mempelajari miniaturnya, JK tak banyak bercakap. Tapi sambil meninggalkan miniatur itu, JK sempat berbisik sendiri, “Tahun 2020 lah baru selesai ini.” Para pejabat disekitarnya terdiam lagi, dengan ekspresi wajah serius.
Berakhirnya masa bakti Jusuf Kalla Oktober nanti mungkin menjadi alasan dia hilang keseriusan, hilang semangat dan hilang ketertarikan menyelesaikan Kuala Namu. Tentu, kekalahan sementara dalam Pilpres 2009 menjadi alasan yang mengkomplementir.
Suasana percakapan salah satu kelompok ‘orang dekat’ JK sempat santai dan penuh canda, sambil menunggu JK melakukan peninjauan mengelilingi lokasi pembangunan yang diakui banyak kalangan sangat sangat lamban. ‘Orang terdekat’ JK ditanya sambil berbisik kenapa tak ada satu pun menteri yang mendampingi dari Jakarta.
Terjawablah..dengan senyuman penuh kata-kata tersembunyi.. Senyum pula awak. Cocok?.. (dat04/wol-mdn)
|
Comments