Monday, 26 March 2012 04:44    PDF Print E-mail
Pemerintah coba 'cuci otak' mahasiswa
Warta
WASPADA ONLINE

JAKARTA - Pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan pemuda Indonesia termasuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Beijing, China, menunjukkan pertemuan tersebut memang sudah terencana sejak awal. Pertemuan itu justru akan menjadi pematik kemarahan mahasiswa di Indonesia.

Pemerintah tidak bisa berkelit lagi bahwa keberangkatan BEM ke China tidak ada hubungan dengan kunjungan Presiden SBY. "Bohong besar kalau pemerintah masih berkelit mereka tidak tahu. Agenda ini dilakukan sebagai upaya menekan perlawanan terhadap kenaikan harga BBM," ujar pengamat politik UI, Boni Hargens tadi malam.

join_facebookjoin_twitter 

Sulit untuk menampik, bahwa tidak ada campur tangan pemerintah dalam pendanaan para pemuda dan mahasiswa tersebut. "Beberapa aktivis yang saya tanya, mereka menerima undangan dua atau tiga hari sebelum keberangkatan. Kalau berangkat sendiri tidak mungkin persiapannya hanya sehari dua hari, belum persiapan visanya. Paling tidak butuh waktu satu bulan."

Menjadi tidak masuk akal, jika pendanaan para mahasiswa dan pemuda itu dilakukan oleh pemerintah China. "Apa kepentingan pemerintah China? Apa klasifikasi dan kegiatannya?"

Langkah pemerintah memboyong para mahasiswa dan pemuda ini, dinilai sebagai upaya cuci otak untuk meredam gelombang unjuk rasa atas rencana pemerintah menaikkan harga BBM. "Ini politik model Soeharto, tetapi kekanakkan. Ngapain sih ngajarin anak-anak mahasiswa itu terjebak dalam permainan kotor."

Selain itu, hal ini juga menunjukkan bahwa Presiden tidak memahami substansi protes yang dilayangkan kepada pemerintah. Sikap kritis mahasiswa dan pemuda, hanya dibaca sebagai ancaman untuk menggulingkan kekuasaan Presiden. "Ini mencerminkan pemerintah tidak memahami protes dan respon pemuda. Yang dilihat hanya sebagai ancaman menjatuhkannya dari kekuasaan. Padahal bukan itu poinnya, tapi bagaimana kritik ditampung, ditangkap, dicerna ketika mengubah kebijakan," tuturnya.

Langkah pemerintah ini, tidak akan efektif meredam protes. Sebaliknya, justru akan menyulut kemarahan mahasiswa di tanah air semakin menguat. "Yang berangkat itu aktivis yang tidak memiliki posisi sentral. Tidak mungkin mahasiswa disini mau digiring begitu saja dan mau menurut. Perlawanan akan semakin keras, upaya pemerintah meredam akan gagal," tukasnya.

Sebelumnya diberitakan, sebanyak 87 orang anggota organisasi kepemudaan dan mahasiswa telah terbang ke Beijing seiring kunjungan kenegaraan Presiden SBY ke negeri berpenduduk 1,3 miliar itu. Keberangkatan mereka ke sana atas undangan dari Republik Rakyat Tiongkok dan bukan bagian dari rombongan resmi kenegaraan atau turut dalam pesawat kepresidenan. "Memang benar ada 87 pemuda termasuk unsur mahasiswa itu diundang pemerintah rakyat Tiongkok dan itu di bawah koordinasi Kementerian Pemuda dan Olahraga," Jurubicara Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha, di Jakarta.

Berdasarkan daftar rombongan kenegaraan yang turut serta dalam pesawat kepresidenan, tidak ada unsur organisasi kepemudaan dan mahasiswa yang di dalamnya. Seperti biasa rombongan selain terdiri dari Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono, juga ada anggota DPR dan sejumlah menteri teknis terkait. "Mereka berangkat sendiri, saya dengar biaya dan akomodasinya ditanggung pemerintah Republik Rakyat Tiongkok selaku pengundang. Tidak memakai dana APBN," sambung Julian.
(dat06/media/wol)






WARTA KARTUN

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment