Saturday, 24 March 2012 12:08    PDF Print E-mail
Pencitraan PKS terlalu vulgar
Warta
WASPADA ONLINE

JAKARTA -  Sikap Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menolak penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dinilai sebagai politik pencitraan yang vulgar.

"Bagaimana bisa anggota koalisi berbeda langkah dengan pemerintahan yang didukungnya. Dalam teori politik manapun itu tidak dikenal," kata Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Publikasi, Zaenal A Budiyono, Jakarta, hari ini.

PKS, kata Zaenal, tidak pernah jantan menghadapi situasi yang dilematis. Hal ini, lanjutnya, tercermin dalam sikapnya yang selalu menjadi oposisi didalam koalisi.

"Kalaupun memang sikap PKS demikian dan tidak bisa diubah, seharusnya PKS gentel dengan keluar dari koalisi. Nyatanya itu tidak pernah dilakukan," ujarnya.

Etika politik PKS juga dinilai buruk. Partai yang dikenal publik sebagai partai Islam puritan tersebut selalu berbeda kata dan perbuatan.

"PKS bukan kali ini saja melakukan politik ambigu terkait kebijakan pemerintah. Kalau memang berseberangan dengan banyak kebijakan pemerintah, kenapa mereka tidak keluar dari koalisi," tukas Zaenal.

Manuver PKS, katanya, terlalu kasar dalam 'bermain' pencitraan, sehingga melupakan etika politik yang berlaku. "Jelas ini politik pencitraan PKS, dengan mengesankan partainya membela kepentingan rakyat," ujarnya.

PKS sendiri dinilai Zaenal sebagai partai yang terlalu sibuk berwacana dengan jargon-jargon populis. "Namun sayang, bentuknya terlalu kasar sehingga mudah dibaca, apalagi dengan posisi PKS di dalam koalisi," tukasnya.
(dat17/media)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment