Friday, 16 March 2012 20:13    PDF Print E-mail
GMT+8 nyaman bagi pasar
Ekonomi & Bisnis - Bisnis
WASPADA ONLINE

JAKARTA  – Dari sisi teknis, penyatuan zona waktu Indonesia jadi WITA atau GMT+8 dinilai bisa membuat pasar nyaman memantau bursa regional Asia. Sebab, berada pada angka jam yang sama.

Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo mengatakan, secara finansial, pasar-pasar besar di sekeliling Indonesia seperti Singapura, Kuala Lumpur, dan Hong Kong, berada pada waktu yang setara dengan Indonesia Bagian Tengah. Karena itu, jika zona jadi satu yakni WITA, waktu bakal lebih kondusif bagi bursa Indonesia dari sisi kliring dan lain-lain.

Dari sisi teknis, lanjut Satrio, selama jam trading tidak bertambah dari 5 jam saat ini, perubahan zona waktu tidak masalah. “Positifnya justru, jam bursa bisa sinkron dengan Singapura dan Hong Kong,” katanya.  

Apalagi, di dalam negeri, selama 30 tahun, pembagian tiga zona waktu yakni Waktu Indonesia Barat (WIB), Waktu Indonesia Tengah (WITA), dan Waktu Indonesia Timur (WIT) telah membingungkan orang yang tinggal di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Dengan penyatuan zona waktu itu, jam WIB saat ini, dimajukan 1 jam.

Masalahnya, lanjut Satrio, apakah jadwal kegiatan dimajukan satu jam juga? Jika ya, penyatuan zona waktu itu membuat masyarakat harus hidup lebih pagi. “Jika tidak mengikuti, tak masalah. Begitu juga dengan jam transaksi di pasar modal,” paparnya.

Dia mencontohkan, jam makan siang yang berubah jadi pukul 11.00 atau masih tetap pukul 12 GMT+8 alias pukul 13 WIB. “Jika pukul 11, berarti tidak ada perubahan jam dan lama bekerja,” tuturnya.

Bagi analis yang sudah terbiasa memberikan rekomendasi untuk klien antar pulau, sebenarnya sudah terbiasa dengan jam yang dimajukan. “Dan memang, ketika memantau pasar finansial lebih enak jika kita berada pada WITA karena posisi angka jam menjadi sama dengan Singapura, Hong Kong, dan Malaysia,” ujarnya.

Kecuali, jika perdagangan bursa saham dimajukan sehingga pembukaan pasar berbarengan dengan Singapura, Malaysia dan Hong Kong. Karena online trading, pelaku pasar bisa terlepas dari waktu bursa. Sebab, orang bisa pulang pukul 16.00 WIB dengan mengikuti perdagangan melalui online trading di luar kantor.

Tapi, dari sisi sentiment, jika pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) berbarengan dengan Singapura dan Hang Seng, pelaku pasar akan susah mencari clue atau contekan pergerakan market. “Saat ini, bursa saham RI lebih gampang menentukan arah karena buka lebih lambat,” ucapnya.

Artinya, jika bursa regional menguat, IHSG pun berpeluang naik. Begitu juga sebaliknya. “Sebagai bagian dari global market, IHSG saling terkait dengan bursa lain. Karena itu, indesk terus mengikuti sentiment dari luar. Secara psikologis, penyatuan zona waktu akan terasa lebih panjang. Sebab, meski malam sudah larut, jam masih menunjukkan pukul 23 GMT+8 alias 24.00 WIB,” ujarnya.

Diberitakan, pemerintah berencana menyatukan tiga zona waktu Indonesia yang terdiri atas Waktu Indonesia Barat (WIB), Waktu Indonesia Tengah (WITA), dan Waktu Indonesia Timur (WIT) menjadi satu nama, dengan WITA (GMT+8) akan dijadikan patokan waktu. Tujuannya, agar daya saing ekonomi Indonesia meningkat dan birokrasi lebih efisien.
(dat17/inilah)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment