Friday, 27 January 2012 11:14    PDF Print E-mail
Pembangunan Kota Balige dinilai belum maksimal
Warta
WASPADA ONLINE

BALIGE– Kalangan pemerhati menilai, capaian pembangunan di Kota Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara belum tersentuh secara maksimal, terbukti dengan semrautnya penataan kota dan sejumlah infrastruktur yang kurang terpelihara.

“Padahal, sebagai ibukota Kabupaten, idealnya wajah kota Balige harus dibenahi sebagai representasi kemajuan pembangunan secara total,” kata seorang pemerhati pembangunan, Vincent Silalahi di Balige, hari ini.

Menurutnya, tidak terlihat adanya kemajuan, pasca pemekaran Kabupaten tersebut dari Kabupaten Tapanuli Utara sejak 1998 meski Bupatinya telah berganti hingga tiga kali.

Dulu, kata dia, era kepemimpinan Sahala Tampubolon sebagai Bupati yang pertama, percepatan pembangunan masih terlihat berproses dengan lancar, sehingga masyarakat dapat merasakan hasil kemajuan pembangunan dalam berbagai sektor secara optimal.

Vincent menyebutkan, pencapaian yang belum begitu memuaskan hingga akhir tahun 2011, diharapkan menjadi evaluasi bagi Bupati periode 2009-2014 Kasmin Simanjuntak untuk memperbaikinya pada 2012, sehingga hasil pembangunan bisa lebih maksimal dan dapat dinikmati masyarakat.

Jika diperhatikan, lanjutnya, wajah kota Balige sebagai pusat Kota dengan pasar tradisional “Balerong” yang dibangun pada zaman Belanda, juga tidak pernah mendapat sentuhan pembangunan berarti, termasuk pada saat kepemimpinan Bupati sebelumnya, Monang Sitorus.

“Hampir tidak terlihat capaian pembangunan yang signifikan di daerah tersebut, terutama di Kota Balige sebagai ibukota Kabupaten, meski Bupatinya telah berganti hingga tiga kali,” ujarnya.

Mantan Bupati Toba Samosir, Sahala Tampubolon mengaku, dirinya cukup prihatian dengan pencapaian pembangunan di daerah itu, apalagi minimnya komunikasi yang dibangun Bupati Kasmin Simanjuntak dengan para pemerhati serta tokoh masyarakat, sehingga hasil pembangunan terkesan lambat dan tidak maksimal.

“Idealnya, seluruh pemangku kepentingan di kabupaten tersebut harus diajak guna membicarakan langkah dan strategi percepatan pembangunan yang perlu dilaksanakan,” sebutnya.

Ia mengatakan, salah satu indikator tidak maksimalnya pembangunan daerah itu, terlihat dari serapan anggaran yang diperuntukkan Pemerintah setempat yang lebih memprioritaskan pembelian mobil dinas pejabat dibandingkan pengadaan truk pengangkut sampah atau penambahan mobil pemadam kebakaran.

Bahkan, kata Sahala, satu unit saja pun mobil sedot tinja tidak dimiliki Kabupaten berpenduduk sekitar 217 ribu jiwa yang tersebar dalam 16 Kecamatan tersebut.

Editor: PRAWIRA SETIABUDI
(dat16/antara)


 

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment