Monday, 02 January 2012 18:40    PDF Print E-mail
Penduduk miskin Sumut berkurang
Warta

WASPADA ONLINE

MEDAN - Jumlah penduduk miskin di Sumatera Utara pada September berkurang  atau tinggal 1.421.400 orang dibandingkan posisi bulan Maret sejumlah 1.481.300 orang. 

"Berkurangnya jumlah penduduk miskin itu akibat indeks harga konsumen d September yang naik menjadi  130,84 dari Maret yang 126,72 dan berkurangnya tingkat pengangguran terbuka menjadi tinggal 6,37 persen pada Agustus dari 7,18 persen di Februari," kata  Kepala Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Sukardi, di Medan, hari ini.

join_facebookjoin_twitter  

Penduduk miskin di Sumut itu terbanyak berada di pedesaan atau mencapai 769.300 orang dan sisanya sebanyak 652.100 orang di perkotaan. Dia menjelaskan, pada September 2011, garis kemiskinan di Sumut secara total sebesar Rp263.209 per kapita per bulan, dimana untuk daerah perkotaan garis kemiskinan sebesar Rp288.023 dan untuk di pedesaan Rp239.208 per kapita per bulan.

"Paling banyak pengurangan kemiskinan di September 201 adalah di daerah perkotaan dimana kurang 39.000 orang dan di pedesaan turun  20.900 orang," katanya.

Berkurangnya jumlah penduduk miskin di Sumut pada September 2011 itu menggembirakan karena tingkat kedalamam dan keparahan dari kemiskinan juga berkurang. Indeks Kedalamam Kemiskinan turun dari 1,84 pada Maret 2011 menjadi 1,80 di September. Sementara Indeks Keparahan Kemiskinan juga tinggal 0,47 dari Maret yang masih 0,51.

Pengamat ekonomi Sumut, Jhon Tafbu Ritonga mengatakan, jumlah penduduk miskin yang berkurang di Sumut dibantu terjadinya kenaikan harga jual berbagai komoditas dan termasuk bertambahnya daya serap tenaga kerja di sektor perkebunan dan industri hasil perkebunan khususnya kelapa sawit. "Karena itu harusnya, pemerintah membantu meningkatkan produksi tanaman petani dan termasuk mendukung pengusaha perkebunan dan industri hasil perkebunan di daerah itu," katanya.
 
Penyediaan infrastruktur dari dan  ke pedesaan serta menuju pelabuhan ekspor atau kawasan industri harus semakin ditingkatkan karena semakin lancar transportasi, maka harga jual berbagai hasil pertanian/perkebunan bisa meningkat dan itu mengurangi angka kemiskinan.

Perusahaan yang mendapat untung dari produksi dan ekspor yang meningkat juga bisa meningkatkan daya serap tenaga kerja yang akhirnya mengurangi jumlah pengangguran yang otomatis menekan jumlah penduduk miskin, kata Jhon yang juga Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (USU).
(dat03/antrara)

WARTA KARTUN

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment