Monday, 28 November 2011 10:40    PDF Print E-mail
Kemana arah rupiah?
Ragam
DESTRY DAMAYANTI

Dalam 1 minggu terakhir ini rupiah kembali bergejolak. Dari sebe lumnya stabil di kisaran Rp8.900­Rp9.000 per dolar AS, rupiah tiba-tiba bergerak di luar batas itu, bahkan sempat melewati Rp9.200/US$ sebelum akhirnya ditutup di level Rp9.175 pada Jumat, 25 November 2011.

Bank Indonesia pun langsung memberikan pernyataan akan terus menjaga rupiah agar tetap stabil, bahkan dalam 2 hari terakhir BI sudah menggunakan cadangan devisa sekitar Rp1,5 trilun belum termasuk intervensi pada Jumat untuk menstabilkan rupiah. Hasilnya rupiah sempat kembali ke tingkat 8.900 sebelum akhirnya berbalik lagi di atas 9.100-an, sehingga dalam 1 minggu rupiah mengalami pelemahan (depresiasi) sebesar 2%.

Bukan hanya rupiah yang terpuruk, pasar saham dan obligasi Indonesia selama 1 minggu lalu juga mengalami tekanan cukup dalam. Indeks harga saham gabungan (IHSG) turun sebesar 3,1% ke tingkat 3.637 dengan asing mencatatkan total net sell sebesar Rp965 milar, sementara di pasar obligasi yield obligasi peme rintah jangka waktu 10 tahun mengalami peningkatan (atau penurunan harga) sebesar 53 bps menjadi 6,89% dengan net sell asing sebesar Rp1,3 triliun.

Ironisnya, fluktuasi yang terjadi di pasar kita justru terjadi pada saat beberapa pakar ekonomi menyatakan bahwa ekonomi Indonesia merupakan salah satu ekonomi yang mempunyai daya tahan tinggi terhadap goncangan krisis ekonomi global, karena didukung dengan ekonomi domestik yang kuat.

Bahkan Kamis pekan lalu lembaga internasional Asian Development Bank memperkirakan perekonomian Indonesia masih akan tetap resilient dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 6,6% pada 2012, di tengah makin memburuknya perekonomian global.

Faktor utama yang diperkirakan memengaruhi pergerakan pasar minggu lalu adalah makin memburuknya kondisi ekonomi dan keuangan di kawasan Eropa.

Hal ini membuat sentimen negatif menjalar ke negara lain, termasuk di kawasan Asia, yang sebenarnya kondisi perekonomiannya jauh lebih baik dibandingkan dengan kondisi perekonomian di negara barat.

Penurunan peringkat utang pemerintah di Portugal dan Hungaria hingga di bawah investment grade yang dilakukan oleh lembaga pemeringkat Moody’s and Fitch, serta adanya perbedaan pendapat antara tiga negara terbesar di zona euro yaitu Jerman, Prancis dan Italia, dalam mengatasi masalah utang pemerintah di kawasan ini, menambah ketakutan pelaku pasar.

Ketakutan ini sebenarnya sudah ter cermin pada awal minggu lalu di mana yield obligasi pemerintah Italia dan Spanyol meningkat menembus 7%, tingkat yang dianggap sangat berbahaya bagi kondisi keuangan kedua negara tersebut. Ditambah lagi kegagalan Jerman dalam menjual obligasi pemerintahnya sesuai dengan target karena minimnya peminat obligasi tersebut.

Keadaaan ini pada akhirnya menimbulkan ketakutan para investor akan masa depan kawasan Eropa yang dapat mendorong terjadinya krisis likuiditas global, seperti kondisi pada 2008. Akibatnya mereka mengambil posisi aman dengan melarikan aset mereka ke safe haven asset, yaitu aset yang dianggap paling aman dengan risiko terkecil, yaitu dolar AS dan obligasi AS (US T-bond).

Dengan demikian koreksi pasar dan tekanan mata uang domestik yang terjadi dalam 1 minggu kemarin bukan hanya terjadi di Indonesia, namun juga terjadi di negara lain, karena adanya dampak penularan dari kondisi ekonomi dan keuangan Eropa yang makin memburuk.

Antisipasi
Apa  yang  harus diantisipasi Indonesia ke depannya? Walaupun secara ekonomi keterkaitan antara Indonesia dengan ekonomi global relatif terbatas, namun tingginya eksposur dana asing di pasar obligasi dan saham, serta masih rendahnya kedalaman sektor keuangan kita dibandingkan dengan regional menyebabkan pasar Indonesia menjadi jauh lebih rentan dibandingkan dengan pasar regional.

Tidak heran apabila terjadi koreksi, pasar Indonesia akan mengalami koreksi yang lebih dalam dibandingkan dengan lainnya, dan demikian pula apabila terjadi kenaikan, maka pasar kita akan meningkat lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain. Artinya, volatilitas di pasar kita lebih tinggi dibandingkan dengan negara lainnya.

Implikasinya terhadap rupiah adalah tekanan terhadap mata uang lokal ini juga akan meningkat.
Pembalikan arus modal secara tibatiba dapat terjadi, seperti yang dialami pada Agustus dan September yakni sekitar Rp60 triliun dana asing keluar dari pasar saham, obligasi dan Sertifikat Bank Indonesia, sehingga BI harus menjual sekitar US$10 miliar cadangan devisanya untuk mendukung rupiah.

Dalam kondisi ini apa yang dilakukan oleh BI adalah tepat karena bank sentral menjaga volatilitas rupiah walaupun dari sisi tren mata uang local ini mengalami pelemahan searah dengan pergerakan mata uang regional.

Pola kebijakan intervensi semacam ini tampaknya yang harus terus dipegang oleh BI, yaitu melakukan intervensi rupiah di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, namun juga diupayakan searah dengan perkembangan regional lainnya, sehingga tidak bergerak secara anomali. Seperti pengalaman lalu pada saat krisis keuangan 1997/98 dan 2008, pasar tidak dapat dilawan, tapi kita harus dapat bermain cantik untuk mengimbangi permainan pasar tersebut.

Kebijakan intervensi yang salah justru akan membuka peluang ke untungan bagi para spekulan yang melakukan posisi hit and run dan bah kan melakukan arbitrase di 2 pasar rupiah kita, yaitu pasar do mestik dan pasar offshore non-deliverable forward (NDF) .

Ke depannya yang perlu kita an tisi pasi bersama adalah kondisi perekonomian dan keuangan Eropa yang kemungkinan besar akan ma kin memburuk, sehingga probabilita terjadinya pelarian dana ke safe haven asset makin tinggi. Artinya te kanan terhadap mata uang regional juga akan meningkat.

Perkembangan rupiah saat ini jika dibandingkan dengan mata uang regional lainnya jauh lebih baik, dengan depresiasi periode Januari– November hanya 2,8% dibandingkan dengan mata uang regional yang mencapai rata-rata 4%-5%. Bahkan jika kita lihat secara riil (dengan mengeluarkan unsur inflasi dan tahun dasar akhir 2009), rupiah mengalami apresiasi relatif lebih tinggi dibandingkan dengan apresiasi mata uang regional. Artinya daya saing produk Indonesia tergerus secara relatif dibandingkan dengan pesaing kita.

Ke depannya dengan kita mengantisipasi fenomena penguatan dolar AS secara global dan masih tingginya nilai riil rupiah relatif terhadap mata uang regional lainnya, tampaknya secara teoritis ruang gerak bagi penguatan rupiah makin terbatas. Dalam hal ini kita semua harus mencoba untuk berpikir secara realistis dan mulai mengubah mind-set kita terhadap rupiah yang biasanya bermain di bawah 9.000 per dolar AS untuk dapat menerima rupiah di atas 9.000.

Terlebih lagi dengan depresiasi rupiah terbatas akan membantu daya saing ekspor kita, khususnya untuk produk manufaktur yang selama ini mendapat tantangan hebat dari negara tetangga. Namun demikian, peran BI dalam menjaga volatilitas rupiah tetap akan sangat diperlukan, dengan tentunya memperhatikan arah angin yang terjadi di pasar global.
(dat06/bisnis)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment