|
||||
| Guru daerah terpencil, pahlawan tanpa tanda jasa |
| Ragam |
|
DEWANTI LESTARI Berpenampilan sederhana dan berwajah penuh sahaja mereka berkumpul sambil menggeret kopernya di Hotel Sahid Jakarta dan mengantri kunci kamar di meja panitia bertulis "Guru Daerah Khusus". Mereka adalah para guru di daerah terpencil dari seluruh provinsi di Indonesia yang diundang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan beberapa waktu lalu untuk mendapatkan penghargaan. Kalebi Halawa S.Pd adalah salah satunya. Guru Sekolah Dasar (SD) Negeri n0 078448 Somomo di Desa Salo'o Kecamatan Ulu Moro O, Kabupaten Nias Barat, Sumatera Utara, yang terpencil di Pulau Nias ini mengajar sejak 2001 dengan memulai karirnya sebagai guru honorer dan diangkat menjadi PNS baru pada 2006. Ia sudah biasa berjalan kaki untuk berangkat dari rumahnya di Kampung Banua Sibohou ke sekolahnya yang jaraknya 1,5 km. Tempatnya tinggal maupun sekolahnya memang agak terisolir dan tidak dilalui angkutan umum. Meski jalan yang harus dilaluinya itu jelek dan mendaki, ia tetap mengaku semangat berjalan selama 20 menit setiap hari untuk menemui 16 muridnya di kelas VI dari total 153 murid SD tersebut untuk mengajar sejumlah mata pelajaran, khususnya IPA dan matematika. Para muridnya menurut dia, adalah anak-anak tidak mampu dari petani penyadap karet yang rumahnya jauh-jauh jaraknya dari sekolah, sehingga sering terlambat masuk. "Sekitar sepertiga murid kami bahkan tinggal lebih dari 4 km dari sekolah. Namun itu jangan menghalangi mereka sekolah, meski sering terlambat mereka harus tetap sekolah agar menjadi pintar," katanya. Guru lainnya adalah Sawir. Guru SDN 007 Mentebung di Desa Pulau Mentebung, Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau ini rela jika hanya pulang sekali sebulan menengok anak istri di Kelurahan Teluk Sekuni di Pulau Tambelan. Perjalanan dari tempat tinggalnya ke sekolah tempatnya mengajar membutuhkan waktu sedikitnya lima jam dengan kapal kayu yang disebutnya "pompong", karena itu ia terpaksa tinggal di rumah dinasnya yang hanya beberapa ratus meter dari sekolah. "Kalau mau pulang ke rumah, saya tunggu air kering dulu, lalu pakai sampan menuju ke tempat pompong mangkal, baru naik pompong ke Pulau Tambelan," kata bapak tiga anak yang sudah duduk di SMP dan SMA itu. Sawir memang mengeluhkan transportasi yang sulit, yakni perjalanan lima jam dari sekolahnya di Pulau Mentebung dengan kapal kayu ke ibu kota kecamatan di Tambelan dan 24 jam perjalanan dari ibu kota kecamatan Tambelan ke ibu kota kabupaten Bintan. "Sebagai kepala sekolah, tiap tahun saya kesulitan harus ke kota kecamatan atau kota kabupaten untuk urus ijasah murid-murid dan urusan sekolah lainnya. Lalu kalau ada urusan mendadak saya harus sewa pompong dengan uang dari kantong sendiri," katanya. Kepala Sekolah yang merangkap mengajar matematika untuk murid kelas V dan VI itu sudah 25 tahun mengajar di sekolah dasar satu-satunya di Pulau Mentebong. Saat ini SD-nya hanya memiliki 54 siswa ditambah dengan kelas jauh di Pulau Pengikik sebanyak 17 siswa. Untuk melihat kelas jauh di Pulau Pengikik ini butuh waktu perjalanan 9 jam dari Pulau Mentebung, yakni dengan menumpang kapal-kapal ikan. "Tapi mereka tetap semangat belajar meski terpencil di pulau," katanya sambil menambahkan bahwa murid-muridnya merupakan anak-anak dari Suku Laut atau sering disebut Suku Mantang yang bermatapencaharian sebagai nelayan. Guru lainnya adalah Wagimin, seorang Guru SDN 04 Enggano, di Desa Meok, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara. Ia tetap betah meski telah mengajar selama 28 tahun di SD yang letaknya di Pulau Enggano, pulau terluar di Samudera Hindia itu, sejak SD itu pertama kali dibangun. Ia sebenarnya lahir di Yogyakarta namun karena telah beristrikan warga asli setempat ia pun tak pernah berpikir untuk pergi dari tempat tinggalnya di pulau yang rawan bencana gempa itu. Meski masih di desa yang sama, ia harus berjalan kaki sejauh 3 km untuk mencapai sekolahnya setiap hari atau mengendarai sepeda selama 20 menit di jalan yang telah dikeraskan dengan batu-batu itu. Untuk keperluan sekolahnya, seperti ketika mengurus ijasah murid, fotokopi dan lain-lain, ia juga mengaku kesulitan pergi ke kota Bengkulu , karena harus menghadapi ombak Samudera Hindia yang ganas dan bisa membutuhkan waktu minimal 15 jam. Belum lagi kapal motor yang hanya datang beberapa kali dalam seminggu. Sedikitnya ia butuh empat hari termasuk perjalanan untuk urusan sekolah ini. Ia berharap pemerintah lebih peduli pada masyarakat di pulau-pulau terdepan ini yakni dengan membangunkan infrastruktur jalan aspal dan yang juga penting, memasang jaringan listrik, karena selama ini warga hanya bisa memanfaatkan mesin diesel untuk menyalakan lampu dan menonton TV. Murid-muridnya, menurut dia, selain anak-anak petani kebun kakao juga anak-anak nelayan, karena hanya 70 meter dari sekolahnya sudah merupakan pantai. "Meski anak-anak di pulau terpencil mereka adalah anak-anak yang berbicara dengan bahasa Indonesia asli yang sangat bagus. Ditambah mereka juga rajin belajar," katanya. Ada pula Saihurrahim S.Pd, guru SDN 6 Pamongkong di Desa Pemogkong Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat yang rela mondok di sekolahnya dengan menggelar tikar dan hanya pulang ke rumah sekali atau dua kali dalam seminggu demi mengajar para muridnya. Dari rumahnya yang berada di pinggir kota di Lombok Timur yakni di Kelurahan Labuhan Haji Kecamatan Labuhan Haji ke sekolahnya, ia memang harus menempuh perjalanan yang sangat jauh. Diawali dengan naik motor sejauh sekitar 36 km ke dermaga, lalu dari dermaga ia naik sampan motor selama satu jam jika cuaca laut sedang bersahabat, atau tiga jam jika sedang tidak bersahabat ke daratan menuju sekolahnya. Lalu dari tepi pantai ia masih melanjutkannya dengan berjalan kaki sejauh 1 km di tanah kering berbukit-bukit untuk mencapai sekolah. "Sekolah saya masih satu pulau dengan saya, tetapi tidak terbayangkan jika saya harus ke sana dengan lewat darat," kata bapak empat anak ini memberi alasan mengapa ia harus juga naik sampan. Murid-murid di SD-nya yang jumlahnya sekitar 100 orang itu merupakan anak-anak nelayan atau peladang yang berasal dari dusun setempat yang tinggalnya 2-3 km dari sekolah. Sekolahnya, ujar dia, dibangun sejak 1984 di tengah-tengah kawasan ladang tepi pantai yang panas dan kering, dimana air minum saja harus membeli karena air tanah yang asin, namun ia bangga para muridnya tetap bersemangat untuk bersekolah. "Tidak ada yang tahan tinggal di sana. Setiap pejabat kabupaten yang berkunjung selalu mengelus dada sambil beristighfar, apa lagi jika sedang berhembus angin Australia yang penuh debu," katanya. Bukan saja orang-orang yang berjuang merebut negara dari kaum penjajah yang bisa digelari pahlawan. Guru di daerah terpencil juga patut disebut sebagai pahlawan, namun tanpa tanda jasa. (dat15/inilah) |




Comments