|
||||
| Pemilu Denmark beda dengan Pemilu Aceh |
| Warta |
TARMIZI AGE Helle Thorning-Schmidt pimpin DenmarkNegara Denmark sudah selesai mengadakan pilihan raya pada Kamis, 15 September 2011. Masyarakat di negara tersebut telah memberi suara kepada kandidat kepercayaan mereka masing–masing, yang bisa diharap membawa Denmark ke arah yang lebih baik, meningkat ekonomi, membuka lapangan kerja serta memajukan pendidikan dan banyak lagi yang lainnya. Brian Klemmensen, salah seorang rakyat Denmark memberitahu saya tengah malam di hari pemilihan melalui sms, bahwa Rød Blok (Blok Merah) yang dikoordinir oleh Helle Thorning-Schmidt (Perdana Menteri Baru) mendapat 92 mandat, sedangkan Blå Blok (Blok Biru) dikoordinir Lars Løkke Rasmussen (perdana mentri sebelumnya) mendapat 87 mandat, kira – kira 4,1 juta orang keluar memilih, Denmark dipimpin perdana mentri baru sejak Jumat, 16 September 2011. Sebagai informasi bahwa Helle Thorning-Schmidt lahir pada 14 Desember 1966 di Rødovre, Denmark. Beliau adalah pimpinan Partai Sosial Demokrat, dan kini menjadi perdana menteri wanita yang pertama di Denmark. Denmark adalah sebuah negara Demokrasi yang di ketahui memiliki rakyatnya yang sangat taat undang-undang, menganut nilai- nilai kebebasan, menghargai hak asasi, tidak korupsi, serta merupakan salah satu negara yang menampung para pencari suaka. Mayoritas rakyat Denmark memiliki rasa sosial dan solidaritas yang tinggi, terhadap bangsanya, negaranya, bahasanya dan juga dalam unrusan kemanusiaan. Kampanye Pemilu Sebelum pemilu tiba pada hari H, semua kandidat berkampanye secara bebas dan terbuka di telivisi, radio, koran (media cetak), dan bertemu warga di kota besar dan kecil terutama di daerah pencalonan mereka masing-masing. Saya penah ikut menyaksikan bagaimana dua buah partai yang berbeda yaitu satu kubu dari partai Socialistisk Folkeparti (SF) yang di pimpin Villy Søvndal, sekarang wakil perdana mentri Denmark, yang satu lagi dari partai Venstre yang di pimpin Lars Løkke Rasmussen ”Perdana Menteri Denmark sebelumnya”. Saya melihat mereka dengan bebas berbicara kepada penyokong mereka masing-masing dan orang ramai, mereka tidak saling memburukkan, tapi saling memaparkan dan menjelaskan apa yang akan mereka lakukan jika mereka menang. Para tokoh partai juga bekerja keras, misalnya pimpinan-pimpinan partai masih berdebat di televisi hinga 24 jam lagi pemilu akan berlangsung. Mereka memberitahu pemilih, akan dibawa kemana Denmark jika mereka menang, apa yang akan mereka lakukan untuk memulihkan ekonomi, bagaimana tindakan mereka untuk memperbaiki hal-hal menyangkut kesehatan, pendidikan, trasportasi, orang lanjut usia, anak-anak, termasuk menyangkut pendatang yang setiap tahun terus bertambah di Denmark. Media memberi hak yang sama kepada setiap partai, misalnya TV mengatur jadwal yang bagus, bagi setiap partai untuk menyampaikan visi dan misi mereka, pimpinan-pimpinan partai di pertemukan dalam debat-debat terbuka, jadi rakyat bisa menilai secara langsung, partai mana yang paling layak didukung untuk menjaga negaranya. Tidak ada tayangan yang menunjukkan pendukung sebuah partai sedang memaki partai lain dengan bahasa-bahasa yang kotor yang bisa memanaskan suasana, tidak ada juga pendukung sebuah partai terlihat sedang menampar pendukung partai lainnya. Saya kira tidak salah kalau pemilu Denmark dijadikan salah satu contoh untuk pemilu di Aceh dan mungkin juga di daerah lainnya. Melihat kondisi pemilu di Denmark secara langsung, tentu sekali menjadi bahan perbandingan dengan Aceh di mana asal mula saya dating. Pemilu Denmark beda dengan pemilu Aceh, apakah hal seperti ini bisa di lakukan di Aceh? Tanya saya pada diri sendiri, tentu saja bisa, tinggal apakah orang Aceh mau pemilu damai atau pemilu yang ribut-ribut, begitu juga dalam memilih pemimpin, apakah dipilih yang punya banyak ide serta mau melaksanakannya untuk kepentingan dan kemajuan bersama atau asal sudah memilih. Sulit mendapat pimpinan yang cerdas, maju dan amanah jika tidak lahir dari hasil pilihan rakyat setelah ada penyampaian misi secara terbuka kepada umum, sekaligus tampil dalam perdebatan secara terbuka di hadapan umum, di televisi, media cetak, internet, dan lainnya, kemana Aceh ini akan dibawa, jadi apa Aceh ini jika kami menang, sehingga rakyat cukup serius dalam memilih dan orang yang menang tentunya punya tanggung jawab besar terhadap apa yang telah dipertontonka. Sudah sering kita mendengar jawaban dari pemenang pemilu, bahkan sudah memimpin 3 sampai 4 tahun, jika ditanya oleh rakyat menyangkut yang tidak berjalan, jawaban yang di dapat, “Kita kan baru duduk”, sembari melanjutkan mebangun sebuah daerah bukan seperti membalik telapak tangan, jawaban yang sangat tidak bersahabat, bila kita banding dengan batas waktu 5 tahun bagi setiap pemilihan, bayangkan jika setiap kali pemilu rakyat dapat jawaban itu itu juga dari penang, sangat tidak produktif. Kembali pada pemilu Denmark, sejumlah pendatang yang menetap di Denmark, berpandangan kemenangan Rød Blok (Blok Merah) yang dinahkodai Social Demokrat, merupakan hal yang baik, karena Blok Merah dianggap memiliki pandangan yang positif terhadap pendatang di Denmark. *Tarmizi Age (Mukarram) adalah Koordinator World Achehnese Association di Denmark* (dat08/wol) |




Helle Thorning-Schmidt pimpin Denmark
Comments