Friday, 09 September 2011 21:54    PDF Print E-mail
Sumatera Utara rawan gempa darat
Warta

WASPADA ONLINE

MEDAN – Pulau Sumatera saat ini masih belum aman dari ancaman gempa bumi, potensi gempa ini cenderung terjadi di darat seperti gempa bumi yang terjadi di Singkil, Aceh, beberapa waktu lalu.

Pakar geologi dari Universitas Sumatera Utara (USU), Jonathan Tarigan, mengatakan bahwa Medan belum aman dari gempa, karena potensi gempa tersebut bisa datang dari mana saja. “Seluruh kawasan pantai barat adalah daerah rawan bencana gempa, untuk pulau Sumatera sendiri secara keseluruhan juga rawan gempa karena ada yang disebut patahan besar Sumatera. Patahan besar ini terbentang dari Aceh hingga ke Lampung dan mempunyai 19 ruas patahan yang menjadi sumber gempa,” ujarnya hari ini.

 

join_facebookjoin_twitter


Khusus untuk daerah Sumut, kepada Waspada Online Jonathan mengatakan, Sumut adalah daerah yang mempunyai potensi besar terjadinya gempa bumi. Hal ini disebabkan karena Sumut mempunya 4 ruas patahan yang menjadi sumber gempa, yakni patahan renun, patahan toru, patahan angkola dan patahan barumun.

Patahan Renun merupakan jalur sumber gempa bumi yang dapat mengguncang Dairi, Karo, Langkat, Pakpak Barat, Tobasa dan Humbang Hasundutan, Patahan Toru merupakan jalur sumber gempa bumi yang dapat mengguncang Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah. Patahan Angkola merupakan jalur sumber gempa bumi yang dapat mengguncang Tapanuli Selatan dan Mendailing Natal. Dan patahan Barumun merupakan jalur gempa bumi yang dapat mengguncang daerah Padanglawas.

Tercatat ada dua kali gempa besar yang terjadi di Sumut. Yang pertama yakni di patahan angkola yang mengguncang daerah Mandailing Natal pada tahun 1892 dengan kekuatan gempa 7,7 Skala Ritcher (SR) dan yang kedua terjadi di patahan renun yang menerpa Kabupaten Karo. Dari catatan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa Sumatera Utara daerah yang mempunyai sejarah bencana gempa bumi darat yang paling besar di Indonesia. “Kalau untuk gempa darat ya dari gempa Sumut ini yang paling besar,” ujarnya.

Jonathan menjelaskan bahwa selama ini masyarakat berpendapat jika gempa bumi terjadi maka akan ada tsunami yang menyusul. “Jelas ini beda, gempa yang terjadi di Aceh dan Mentawai disusul tsunami karena terjadi di kedalaman laut. Sedangkan gempa yang terjadi di dataran Sumatera seperti yang terjadi di Singkil, Aceh karena berada di patahan besar Sumatera," ujarnya.

Melihat Pulau Sumatera yang rawan gempa, Jonathan menghimbau agar pemerintah kabupaten terutama yang daerahnya dilalui oleh ruas-ruas patahan gempa agar siaga bencana. Jonathan menunjuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebagai pihak yang harus siaga apabila bencana ini datang. “Harus ada sosialisasi soal bencana gempa yang dilakukan oleh BPBD kepada masyarakat agar seluruh elemen dapat tanggap bencana,” jelasnya.

Sementara itu, analis geologi dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Gagarin, menambahkan bahwa potensi gempa bisa datang dari mana saja, apalagi Pulau Sumatera merupakan daerah yang rawan akan bencana gempa. Pulau Sumatera sendiri mempunya patahan besar yang dinamakan patahan besar Sumatera, patahan ini sendiri membentang dari Aceh hingga Lampung.

Gagarin juga mengatakan khusus untuk Sumatera Utara, mempunya 3 segmen yang juga berpotensi menimbulkan bencana gempa yakni Angkola, Renun, dan Toru. Artinya baik masyarakat maupun pemerintah harus selalu siap dan waspada apabila bencana ini datang kembali. Gagarin menekankan, perlu adanya upaya mitigasi untuk mencegah dampak buruk dari bencana gempa tersebut, “Mitigasi perlu digalakkan oleh pemerintah untuk mengantisipasi bencana itu datang lagi,” ujarnya.

Editor: PRAWIRA SETIABUDI
(dat03/wol-yudi)


WARTA KARTUN HARI INI

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment