Saturday, 27 August 2011 01:32    PDF Print E-mail
Mengintip Nazaruddin kecil (Bagian 2)
Ragam
HARLES SILITONGA
Asisten Redaktur Pelaksana
WASPADA ONLINE


Nazaruddin, dikagumi lalu dikasihani

MEDAN – Eli ‘Bono’ bin Raminah, pengusaha warung nasi di Nagori Bangun Bah Jambi, Simalungun, tak kuasa menahan tangisnya ketika Muhammad Nazaruddin dibekuk di Kolombia. Pun tetes air matanya turun ketika melihat kedatangan Nazaruddin Jakarta dari dari Kolombia melalui tayangan televisi.
Sebagai pengasuh Nazaruddin sejak kecil, Bono mengaku menitikkan air matanya karena tak kuasa melihat Nazaruddin dalam kawalan petugas keamanan. “Saya sampai menangis melihat Udin (panggilan akrab Nazar di kampungnya, red) ditangkap di Kolombia hingga dibawa ke Jakarta,” ujar Bono.

Namun dibalik ibanya, Bono, mengaku bangga dengan posisi Nazar sebelum dinyatakan tersangka opleh KPK. “Kagumlah,” ujarnya kepada Waspada Online, ketika disambangi di kedai makannya Cahaya di jalan perkebunan Nagori Bangun Bah Jambi, Simalungun, Rabu (24/8).

Dikagumi, karena mampu sebagai orang besar meskipun dilahirkan di Nagori Bangun, kawasan perkampungan ditengah perkebunan milik PTPN. “Sebagai pengasuhnya waktu bayi, saya bangga dan kagum melihat Nazaruddin bisa sehebat itu padahal dia bukan berasal dari keluarga orang besar,” ujar Bono.

Namun, cerita penangkapan Nazaruddin yang menggemparkan Indonesia membuat Bono iba dan kasihan. Naluri keibuan dan orang yang pernah mengasuh Nazar kecil, membuat hatinya miris melihat Nazar saat ini yang dijadikan seperti teroris. Bahkan berita Nazar yang tak mau makan di tahanan Rutan Mako Brimob mengembalikan bayangannya ke masa kecil Nazar saat diasuhnya 32 tahun silam. Nazar saat itu adalah bayi yang gemuk, kuat dan lahap makan dan minum susu.

“Nangis hati ini tapi mau dibilang apa kami juga mau mengantar makannya ke penjara kalau bisa,” ujar Bono.

Kekaguman dan rasa kasihan juga disampaikan mantan guru Nazaruddin semasa SMP Teladan Bangun 13, Nagori Bangun, Halimah Tus Sakdiah. Menurut Halimah yang juga menjadi guru mengaji Nazar, ia bangga melihat bekas muridnya ini mampu jadi orang besar di DPR dan duduk sebarisan dengan orang-orang besar di Jakarta, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Sebagai gurunya, saya bangga melihat Nazar karena dapat jadi orang besar dari kampung kami sekecil ini,” ujar Halimah. Namun, kekaguman tersebut kali ini justru mendatangkan rasa kasihan melihat Nazaar saat ini yang ditahan dalam kasus suap menurut KPK.

“Kasihanlah, padahal dia baik sopan dan ramah kalau pulang, walaupun telah menjadi anggota DPR dan orang kaya,” ujar wanita yang sekarang ini telah menjadi PNS.

Ia juga menuturkan, kalau Nazar pulang kampung, ia selalu menyapanya,” Bu lagi ngapain Bu,” ujar Halimah menirukan Nazar.

Begitupun di mata Ketua Nahdatul Ulama Simalungun, Ahmad Rifai Damanik yang merupakan tetangga orangtua Nazar, Latif-Haminah, sosok Nazar sangat fonomenal. Melihat Nazar dari sejak kecil hingga lepas SMA sebelum merantau ke Pekan Baru, Riau, Damanik tak menyangka ketenaran Nazar seperti sekarang ini. Walaupun ketenaran itu ternoda dengan kasus yang menerpanya.

“SMA kan disini, itu yang didepan SMA Teladan itu. Tetapi kita kagum bisa seperti itu dan orang hebat. Kita banggalah karena kita tak menduga bisa seperti itu,” ujar Damanik.

Damanik berharap, agar Nazar tetap tabah dan tawa’kal dalam menghadapi kasus sekarang ini. “Kita berdoa dan berharap agar Nazar tabah menghadapinya dan harus bersikap jujur atas apa yang dialaminya,” ujarnya kepada Waspada Online.

Editor: IMANIURI SILABAN
(dat03/wol)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment