|
ROMI IRWANSYAH Kontributor Medan WASPADA ONLINE
MEDAN - Kalangan masyarakat daerah Pemilihan I, terdiri dari Kecamatan Medan Denai, Medan Area, Medan Kota dan Medan Amplas, mengaku bosan dengan aktifitas Reses DPRD Medan. Pasalnya, semua usulan yang disampaikan pada Reses tiap tahunnya tak pernah direalisasikan Pemko Medan.
“Untuk apa ada kegiatan reses seperti ini, kalau akhirnya tak pernah direalisasikan,” kata Ali Afwan, perwakilan dari masyarakat Tegal Sari Mandala III, Tumpal Nainggolan, utusan warga Tegal Sari Mandala II, dan Badaruddin, Kelurahan Siti Rejo I, Kecamatan Medan Kota, dan utusan warga lainnya.
Menanggapi persoalan ini, koordinator reses, Ahmad Arief mengatakan, semua usulan dalam Reses yang dilakukan DPRD kota Medan sudah dimasukkan dalam setiap tahun anggaran Pemko Medan. Hanya saja, keterbatasan dana tadi, akhirnya usulan warga kota ini tak semuanya biasa direalisasikan dalam pembangunan.
Sementara itu, Ahmad Parlindungan Batubara mencontohkan, kalau reses yang dilakukan DPRD Medan seluruhnya sudah diusulkan dalam setiap anggaran Pemko Medan. Hanya saja kembali keterbatasan dana yang mengakibatkan tak bisa direalisasikan semua program kerja Pemko Medan tadi.
”Kalau Musrembang Pemko, bahasa pembangunan pakai kata minta tolong. Sementara dalam reses, usulan pembangunan yang disampaikan perwakilan warga melalui anggota DPRD Medan bukan kata minta tolong lagi, melainkan sudah hampir perintah. Namun, lagi-lagi karena keterbatasan dana Pemko, akhirnya semua usulan tak bisa direalisasikan secara menyeluruh,” katanya.
Kadis Perkim, Iriadi Irawadi menegaskan, semua usulan warga yang tertuang dalam Reses sudah dialokasikan. Hanya saja, tak semua usulan program kerja usulan warga ada di Dinas Perkim, tapi juga bagian dari kerja Dinas PU. Karenanya, sering terjadi tumpang tindih usulan warga dalam reses.
Ancam bubar Dalam pelaksanaan Reses kali ini juga terjadi miskomunikasi antara warga dengan anggota DPRD Medan, dan SKPD yang hadir dilokasi. Akibatnya, warga yang hadir dalam reses tersebut mengancam akan membubarkan diri dari forum tersebut.”Kalau masih seperti ini, lebih baik kita bubar dari acara seperti ini,” ungkap sebagian besar warga yang hadir.
Syukurnya, keingan warga untuk membubarkan diri, bisa ditahan sebagian peserta reses lainnya. Parlindungan Batubara juga mengambil peran penting, sehingga keinginan warga tadi bisa ditahan, dan kegiatan resespun bisa dilanjutkan kembali.Kurang kondusifnya pelaksanaan reses ke II tahun 2011 ini, juga diakibatkan kurang representatifnya lokasi pelaksanaan Reses.
”Ruangan Hotel Antares ini sangat kecil. Jadi tak mampu menampung utusan warga kota ini diacara reses,” kata warga yang terpaksa harus berdiri diruang reses.
Managemen Hotel Antares yang tak bersedia menyebutkan namanya mengaku, ruangan aula hotel hanya bisa menampung 200 orang peserta. Namun yang hadir pada kesempatan kali ini lebih dari 200 orang,” ungkapnya.
Editor: PRAWIRA SETIABUDI (dat03/waspada)
|
Comments