|
||||
| 10 alasan orang beriman rindu ramadhan |
| Mimbar Jumat |
|
FASHRURROZY PULUNGAN “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah SWT ialah yang paling bertakwa. Sungguh, Allah SWT Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Alquran surah al Hujuraat ayat 13). Hanya tinggal menghitung jari, Ramadhan insya Allah datang menghapiri kita. Ramadhan adalah bulan yang sangat dinanti-nanti oleh orang beriman. Ibarat seorang kekasih, Ramadhan selalu diharap-harap kehadirannya karena rindu, rasanya tak ingin berpisah walau sedetik. Begitulah Ramadhan sebagaimana digambarkan Rasulullah SAW dalam sebuah hadisnya yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, “Seandainya setiap hamba mengetahui apa yang terkandung dalam Ramadhan, maka ia bakal berharap satu tahun itu ia terus puasa.” Hal tersebut sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Qudamah, karena Ramadhan memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya. Ada sepuluh keistimewaan yang terdapat di bulan ini, dan itu pula yang menjadi penyebab kerinduan orang beriman terhadapnya. Pertama, di bulan ini Allah SWT mensertifikasi pelaksana Ramadhan (al sha-imuna) sebagai hamba yang bertakwa. Sebagaimana kita ketahui, takwa adalah status tertinggi seseorang di sisi Allah SWT, seperti gambaran ayat pembuka di atas. Sedang takwa itu sendiri menurut bahasa adalah ‘keinsyafan diri yang diikuti kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan Nya’. Pemerintah, yang dalam hal ini Menteri Pendidikan memberikan sertifikasi kepada guru-guru, karena telah diuji kelayakannya di sekolah dan di masyarakat melalui forto folio. Demikian juga dengan sertifikasi takwa yang diberikan Allah kepada orang-orang yang berpuasa, karena mereka telah diuji ketangguhannya dalam menahan setiap keinginannya dalam makan dan minum yang dihalalkan serta menahan syahwat mereka dari pagi sampai terbenam matahari. Takwa juga ditamsilkan oleh Allah SWT laksana pakaian. Dalam Alquran surah al A’raf ayat 26 dijelaskan bahwa pakaian yang terbaik itu adalah takwa. Allah SWT memberi tamsilan takwa sebagai pakaian, secara primer (fungsional) dimaksudkan untuk menutupi segala yang dapat menyebabkan malu. Karena itu, takwa dalam hal ini menciptakan terwujudnya budaya malu dalam kehidupan sosial. Dan budaya malu inilah yang kerap kali hilang di tengah-tengah masyarakat kita. Orang tidak merasa malu lagi melakukan pelanggaran hukum, bahkan secara sengaja melanggarnya. Coba kita perhatikan di tengah jalan, di persimpangan lampu merah, berapa banyak pengendera mobil dan sepedamotor, angkot, beca bermotor seenaknya menerobos. Kata malu sepertinya telah hilang dari kamus pembicaraan dan perilaku sebagian orang. Padahal malu sangat erat kaitannya dengan dosa. Sementara orang menganggap dosa hanya dikaitkan dengan pelanggaran-pelanggaran terhadap pelaksanaan agama secara sempit. Sedang pelanggaran-pelanggaran terhadap persoalan sosial, ekonomi, politik, dianggap bukan dosa. Agama telah dipersempit, yaitu hanya mengurusi ibadah ritual semata, sedang masalah-masalah sosial, ekonomi, politik, menjadi urusan dunia, lepas dari muatan nilai-nilai agama. Ternyata, secara tak sadar, atau mungkin karena tidak mengerti, kebanyakan dari umat Islam telah melakukan proses sekularisasi, yaitu pemisahan antara wilayah agama dan wilayah dunia. Dan akibatnya manusia semakin tidak tahu malu dan tidak mengenal dosa. Nabi SAW mengajarkan kita, umatnya, bagaimana bersikap malu yang sebenarnya. Dalam sebuah hadis sebagaimana diriwayatkan imam Turmudzi dari Aisyah, “istahyu minallahi haqqal haya’ (malulah kamu sekalian di hadapan Allah dengan sebanar-benar malu). Mereka berkata (sahabat), ‘Tapi kami sudah merasa malu ya Nabiyallah, dan segala puji bagi Nya’. Nabi SAW bersabda, ‘ Itu bukanlah malu yang sebenarnya. Orang yang malu dengan sebenarnya adalah hendaklah mereka menjaga pikiran dan bisikan hatinya, hendaklah mereka mejaga perutnya dan apa yang dimakannya, hendaklah ia mengingat mati dan fitnah kubur. Orang yang menghendaki akhirat hendaklah meninggalkan perhiasan dunia. Orang yang melakukan semua ini, berarti ia memiliki rasa malu yang sebenarnya di hadapan Allah ”. Secara sekunder, pakaian dimaksudkan untuk memperindah (tahsin) diri. Dalam hal ini Allah SWT menamsilkan orang yang bertakwa adalah mereka-mereka yang memiliki akhlak, budi pekerti, sehingga ia menjadi contoh dan model di tengah-tengah keluarganya, masyarakatnya dan bangsanya. Pada ayat lain dalam surah al Baqarah ayat 197, Allah SWT memberi tamsilan takwa sebagai ‘bekal’. Watazauwadu, fainna khaira al zadi al taqwa, wattaquniya ulil albab. Allah SWT menyuruh manusia agar berbekal, dan bekal yang terbaik itu adalah takwa. Ibarat sebuah perjalanan yang jauh dalam bepergian untuk menemui seseorang yang kita cintai, tentunya kita memerlukan perbekalan agar perjalanan kita bisa sampai dengan selamat, dan orang yang kita temui pun senang. Maka perbekalan yang kita bawa haruslah cukup, dan kado yang kita bawa untuk menemui orang yang kita cintai haruslah sesuatu yang disenanginya pula. Perbekalan dan kado apa adanya tentu tidak akan sampai pada tujuan. Kalaupun akhirnya sampai juga, tetapi diri kita sudah luluh-lantak. Sementara tujuan perjalanan setiap manusia adalah akhirat dan untuk bertemu (liqo’) dengan Allah SWT, tsumma ilahi turja’un. Dalam menempuh perjalan panjang ini, diperlukan perbekalan yang cukup, bahkan berlebih, agar kita bisa selamat dan bertemu dengan Allah SWT. Dalam perjalan yang melelahkan dan penuh tantangan itu, disamping memerlukan fisik yang prima, mental yang membaja sangat dibutuhkan. Betapa pun kuatnya fisik seseorang, jika mental rapuh, maka tantangan yang kecil sekalipun dapat berakibat fatal bagi seseorang. Sebaliknya jika mental kuat, walau fisik kurang prima, maka tantangan seberat apa pun dapat dilalui dengan baik, dan mental itu ada di hati tempat bersemayamnya iman (mental). Karena itu hati harus lebih diperkuat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “ Ketahuilah bahwa dalam setiap diri manusia itu ada segumpal daging, jika baiklah daging itu, maka baiklah seluruh fisik manusia. Namun bila daging itu rusak, maka rusaklah seluruh fisik manusia, itulah hati (mental)”. Apabila mental telah rusak, maka yang timbul adalah ketamakan, kerakusan, kedengkian, keserakahan, kesobongan, keta’ajuban, kemalasan, kepalsuan (kepura-puraan), ketidak disiplinan, kemunafikan, dan sejuta sifat keburukan lainnya. Jika mental telah rusak, melihat sedikit ada kesempatan, maka langsung dimanfaatkan tak perduli yang dimanfaatkan itu haram atau subhat. Ibadah Ramadhan adalah latihan mental yang puasanya dan tarawehnya bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena puasa itu untuk Allah (kullu ‘amalibni adam lahu illa al shiyam, fainnahu li wa ana ajzibih). Akan tetapi tidak melulu berkaitan dengan Allah semata, lebih dari itu puasa berdimensi kemanusiaan. Karena orang yang puasa ia akan menghayati betapa tidak enaknya menjadi orang yang lapar dan kehausan. Karenanya ia appresiasikan penghayatan puasanya dengan lebih peduli kepada orang yang lemah dan yang dilemahkan (mustadh’afin. Orang yang berpuasa dengan benar dan baik, ia memiliki sikap kebersamaan dan kesetikawanan sosial yang tinggi. Ia akan merasa malu bermegah-megah, sementara kerabatnya, tetangganya penuh dengan kekurangan pangan. Pejabat yang puasa akan merasa malu melakukan korupsi, diskriminasi terhadap masyarakatnya. Seorang pejabat yang puasa tidak memiliki mata untuk membedakan status seseorang, apakah orang tersebut priyai, kiyai atau cuma seorang petani, apakah orang itu pengusaha atau cuma rakyat jelata. Sebuah hadis menceritakan suatu peristiwa yang menyangkut dua orang sahabat Nabi SAW, yaitu Abu Zar al Ghifari dan Bilal bin Rabah. Kedua sahabat ini terlibat pertengkaran sengit. Saking sengitnya, Abu Zar emosi dan ia tidak dapat mengontrol emosinya yang meluap. Dengan lantang ia mengatakan perkataan yang tak patut dilakukan oleh seorang sahabat Nabi. Ia berteriak, ‘Hai anak dari perempuan hitam…” Rasulullah SAW yang kebetulan berada di antara mereka memperhatikan pertengkaran mereka, lalu mendekati Abu Zar dan menepuk pundaknya, dan bersabda, “ Terlalu… terlalu…terlalu… Tidak ada kelebihan orang putih atas orang hitam, dan seseorang atas lainnya kecuali karena takwanya”. Mendengar teguran Nabi SAW kepadanya, Abu Zar serta-merta menjatuhkan dirinya dan meratakan pipinya ke tanah dan dengan berlinang airmata ia meminta Bilal agar menginjak kepalanya sebagai tebusan yang mungkin dapat melunasi keangkuhannya. Dan sebagaimana diriwayatkan, semenjak peristiwa itu Abu Zar yang kaya-raya dari keturuanan kelurga terhormat, mengubah pola hidupnya dengan menyediakan hartanya untuk bantuan sosial. Ia pembela dan juru bicara bagi para du’afa yang dilemahmiskinkan oleh struktur sosial dan sistem. Inilah Ramadhan, bulan yang hanya ada satu kali dalam satu tahun yang tahun-tahun mendatang kita tidak akan pernah tahu apakah kita masih bisa bersamanya atau tidak. (bersambung) Wallu a’lam. Penulis adalah Sekretaris Majelis Dakwah Al Washliyah Sumatera Utara. |




Comments