|
||||
| Pulau "sarang malaria" mulai berbenah |
| Ragam |
WASPADA ONLINE BANDA ACEH - Ada beberapa pantangan jika tidak mau terjangkit penyakit malaria, seperti tidak minum air kelapa muda dan buru-buru mandi setibanya di Pulo Aceh, kata sejumlah orang di dermaga kecil Ulee Lhue Kota Banda Aceh. Meski secara ilmiah belum ada penelitian yang membuktikan virus malaria tertular akibat minum air kelapa muda, namun tidak sedikit orang di wilayah itu percaya sehingga tidak berani mengonsumsi air kelapa sesampainya di Pulo Aceh. "Meski saya gerah sekali, namun belum berani meminum air kelapa karena khawatir bisa berakibat terkena penyakit malaria. Pesan para orang tua itu hingga kini masih saya ingat," kata Anwar Ibrahim, warga Banda Aceh. Bahkan, Pulo Aceh sebelum bencana alam gempa bumi dan tsunami 26 Desember 2004, terkenal sebagai salah satu daerah "produsen" narkoba jenis ganja, sudah dijadikan sebuah pengetahuan yang tidak tertulis menghindari malaria. Tapi untuk tanaman yang diharamkan itu, konon prokdu Pulo Aceh disebut-sebut memiliki kualitas terbaik di Indonesia dan para mafia narkoba memberikan kode "P-I". Begitulah kesan miris sebagian warga daratan terhadap kondisi Pulo Aceh, sebelum bencana alam tsunami yakni dari sebutan "sarang malaria hingga penghasil ganja". Sebelum tsunami, pulau yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan itu hanya ditemukan satu atau dua mobil dan beberapa sepeda motor milik warga setempat. Tidak ada jalan aspal hotmix, dermaga terbuat dari kayu dan transportasi sangat terbatas, yakni dua kapal ikan nelayan yang setia melayani penumpang dari Pulo Aceh ke Kota Banda Aceh. Bahkan, ketika Aceh masih dilanda konflik bersenjata atau masa darurat militer pernah muncul ide untuk membangun sebuah lembaga pemasyarakatan (LP) di pulau berpenduduk sekitar 7.500 jiwa itu. Ikhsan, seorang pemuda Pulo Aceh menyatakan pandangan negatif itu terlalu berlebihan meski fakta sebelum tsunami memang menunjukkan banyak kasus malaria di daerahnya. Tanahnya subur Selain itu, ganja di Pulo Aceh memang banyak karena memang tanahnya cukup subur kendati ada oknum masyarakat yang sengaja menanam barang haram tersebut. Soal kasus penyakit malaria, katanya, saat ini sudah jarang ditemukan khususnya setelah tsunami yang mengakibatkan hampir 30 persen penduduk Pulo Aceh meninggal dunia dan hilang. "Kami heran, sebab setelah tsunami kasus malaria berkurang dan nyamuk juga sudah jarang di daerah ini," katanya menambahkan. Fakta hilangnya kasus malaria itu juga dibuktikan saat tim medis menggelar bakti sosial pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis selama dua hari di Pulo Aceh, dari 300 warga yang berobat tidak ditemukan kasus malaria. Ikhsan yang juga guru salah satu SMP Pulo Aceh itu menyebutkan, warga bersyukur mulai adanya perhatian berbagai pihak terhadap kondisi keterbelakangan daerah kepulauan tersebut. "Pascatsunami, orang-orang mulai melihat Pulo Aceh sebagai daerah bakal maju karena potensi sumber daya alamnya melimpah, khususnya di sektor pariwisata dan perikanan tangkap," kata dia. Artinya, Pulo Aceh akan dilirik sebagai daerah investasi baru sehingga kesan seram "sarang nyamuk malaria" secara perlahan berubah menjadi "sarang wisatawan" karena potensinya menjanjikan. Bupati Aceh Besar Bukhari Daud juga menyadari jika potensi kekayaan alam seperti sektor perikanan tangkap dan budiya serta pariwisata, tidak segera diekploitasi maka Pulo Aceh akan terus tertinggal dan masyarakatnya tidak sejahtera. Oleh karena itu, pihaknya bersama Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) dan dukungan Pemerintah Aceh, terus menggalakkan pembangunan berbagai infrastruktur dasar di Pulo Aceh. Geliat pembangunan sarana dasar seperti jalan raya, dan dermaga itu dimulai sejak 2010, sehingga memudahkan akses bagi pelaku usaha yang akan menanamkan investasinya di Pulo Aceh. Untuk tahun anggaran 2011, BPKS mengalokasikan dana sekitar Rp50 miliar guna membangun jalan menghubungkan beberapa kawasan di Pulo Aceh. Akses jalan itu sangat penting untuk pengembangan sektor pariwisata. "Kalau infrastruktu sudah terbangun, saya optimistis Pulo Aceh akan menjadi salah satu daerah tujuan wisata Aceh, sebab pulau itu cukup banyak objek wisata khususnya pantai dan perairan laut," kata bupati. Objek wisata Pantai Lamtieng, contohnya saat ini sudah banyak wisatawan yang berlibur setiap akhir pekan terutama warga Kota Banda Aceh dan Aceh Besar. Pantainya berpasir putih dan air lautnya masih alami selain panorama gunung yang indah. Gubernur Aceh Irwandi Yusuf menilai Kecamatan Pulo Aceh strategis dibangun industri transit minyak dan gas (migas), disamping sektor perikanan dan pariwisata. "Selain sektor pariwisata, Pulo Aceh cocok untuk industri migas dan bukan berarti di wilayah ini ada kandungan migas, tapi sebagai transit (bungker) dari daerah asal sebelum didistribusikan ke negara tujuan," katanya. Gubernur menyebutkan, dua tahun lalu ada sebuah perusahaan asing yang berkomitmen untuk membangun bungker di Pulo Aceh. Tapi, hingga kini tidak terealisasi dan mungkin diakibatkan adanya perubahan iklim ekonomi dunia. Potensi alam lainnya yang akan dikembangkan di Pulo Aceh, sekitar 16 mil laut dari pesisir Kota Banda Aceh adalah industri perikanan tangkap dan budidaya serta pariwisata, ujar Irwandi Yusuf. Karena potensi sumber daya alam cukup mendukung, gubernur mengatakan pemerintah telah memasukkan Pulo Aceh sebagai gugus kepulauan yang menjadi bagian dari wilayah kerja BPKS. "Tapi kami mengakui bahwa BPKS belum banyak menjalankan program kerjanya di wilayah Pulo Aceh," katanya menambahkan. Untuk mendorong bangkitnya gairah dan semangat masyarakat Pulo Aceh, gubernur mengatakan setelah pembangunan pelabuhan bebas Sabang selesai maka program selanjutnya akan diarahkan ke pulau ini. "Kami akan mengarahkan pembangunan ke Pulo Aceh, sehingga harapan masyarakat agar daerahnya tidak lagi tertinggal diberbagai bidang bisa terwujud," kata Irwandi Yusuf. Program infrastruktur Karena itu, sebagai program awal maka pemerintah dan BPKS membangun berbagai infrastruktur pendukung, seperti jalan raya dan energi kelistrikan, sehingga kedepan tidak ada lagi investor enggan masuk Pulo Aceh. Kecamatan Pulo Aceh terbentuk berdasarkan PP No.5 Tahun 1983 dengan Ibu kota Lampuyang. Luas wilayah Pulo Aceh mencapa 240,75 kilometer persegi (KM2), dengan 17 desa. Kondisi topografi gampong (desa) di Pulo Aceh umumnya terletak di tepian pantai (desa nelayan), di sekitar perbukitan (desa petani/perkebunan) dan di area dataran (kawasan perdagangan dan jasa). Sebelah utara Pulo Aceh berbatasan dengan Selat Malaka, selatan daratan Kecamatan Peukan Bada, timur Selat Benggala dan barat dengan Samudera Hindia. Pulo Aceh juga memiliki 10 pulau besar dan kecil dan tiga diantaranya memiliki penduduk yakni Pulau Breueh, Nasi (Peunaso), dan Teunom (Keureusek). Sedangkan pulau yang tidak dihuni penduduk yakni Pulau Jroeh, Teungkurak, Tuan Diapit, U (kelapa), Sidom, Geupon dan Lhee Blah, Gubernur Irwandi Yusuf juga mengatakan untuk menjadi Pulo Aceh sebagai daerah baru investasi maka tidak kalah pentingnya partisipasi dari pihak PT PLN guna menyiapkan energi listrik di wilayah itu. "Bagaimana swasta mau berinvestasi, sementara energis listrik pas-pasan, jangankan untuk industri bagi kebutuhan rumah tangga saja tidak mencukupi. Karenanya saya berharap masalah energi itu juga menjadi perhatian PLN," kata dia. Guna membuktikan bahwa Pulo Aceh sebagai daerah baru untuk investasi di sektor perikanan tangkap dan budidaya, maka Pemkab Aceh Besar telah mengembangkan ikan kerapu dan rambe (kue) dengan menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA). "Pulo Aceh memiliki potensi besar untuk budidaya ikan laut seperti ikan kerapu dan rambe, karena kondisi perairan tidak berombak besar," kata kepala Dinas Kelauatan dan Perikanan (DKP) Aceh Besar, M Adil. Budidaya ikan kerapu dan rambe tersebut dilakukan melalui bantuan lembaga donor kepada masyarakat setempat dengan jumlah keramba saat ini sebanyak 16 petak ukuran 3x4 meter/petak. Budidaya ikan laut dengan membeli hasil tangkapan ikan rambe yang masih hidup dari para pemancing untuk dibesarkan dalam Keramba Jaring Apung tersebut. Setiap petak bisa menampung sebanyak 400 ekor dengan jumlah produksi sebanyak 400 kilogram. Dengan rentang waktu enam bulan petani bisa membesarkan satu kilogram untuk satu ekor. "Program budidaya KJA ikan rambe dan kerapu oleh masyarakat itu hanya sebagai bukti dari salah satu potensi besar di Pulo Aceh, kami berharap peran swasta menanamkan modalnya untuk kegiatan ini, sehingga produksinya tidak hanya konsumsi lokal tapi menjadi komoditas ekspor," kata dia. Melalui geliatnya pembangunan dan investasi, selain diharapkan menyejahterakan masyarakat, maka Pulo Aceh sebagai "sarang malaria dan ganja" juga tidak lagi menjadi momok bagi warga daratan. (dat01/antara) |




BANDA ACEH - Ada beberapa pantangan jika tidak mau terjangkit penyakit malaria, seperti tidak minum air kelapa muda dan buru-buru mandi setibanya di Pulo Aceh, kata sejumlah orang di dermaga kecil Ulee Lhue Kota Banda Aceh.
Comments