Tuesday, 04 January 2011 06:02    PDF Print E-mail
Globalisasi dan liberalisasi ekonomi
Opini
HASRUL HARAHAP

Globalisasi dapat dipahami sebagai mata uang yang mempunyai dua sisi. Saat ini, proses globalisasi telah terjadi hampir di seluruh bagian dunia, di kawasan Asia, termasuk di Indonesia sendiri. Pada tingkat global dan regional proses integrasi telah semakin cepat.

Tidak hanya arus barang dan jasa, orang, uang dan modal yang telah melintasi batas-batas negara, tetapi juga teknologi, informasi, dan bahkan juga gagasan dan ideologi. Dunia telah menjadi satu. Kesemua jenis arus itu sulit dibendung masuk dan keluar. Teknologi informasi berperan besar mengatasi hambatan-hambatan dalam perdagangan. Semua negara membuka diri selebar-lebarnya tidak hanya ekonomi, juga pemikiran dan budaya.

Dalam globalisasi ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Dengan perkataan lain, ada yang menang dan ada yang kalah. Ada kalanya kekalahan ini dirasakan oleh seluruh industri yang berada di suatu daerah. Pihak yang diuntungkan dan menang biasanya sangat tersebar, tidak terkonsentrasi, dan seringkali tidak tahu bahwa keuntungan itu diperoleh dari globalisasi. Akhirnya, siapa yang untung dan menang sangat ditentukan kesiapannya dalam menghadapi persaingan.

Hal yang dipahami bagi sebagian kalangan sangat wajar, terbuka bagi siapapun. Di sinilah salah satu sisi dimana globalisasi pada tingkat praksis mengalami objektifikasi sebagai sebuah keniscayaan. Hampir seluruh negara di dunia menerima keberadaan World Trade Organization (WTO), mencabaut semua hambatan tarif dan nontarif, mengurangi subsidi untuk orang miskin dan mencabut proteksi terhadap sektor-sektor ekonomi vital seperti pertanian.

Bersamaan dengan itu, media massa bekerja untuk mengubah penduduk dunia untuk berprilaku, mempunyai selera konsumsi yang sangat tinggi, bahkan berperadaban yang berkiblat pada peradaban hegemonik dunia yaitu Amerika Serikat. Di sisi lain, globalisasi merupakan bentuk imperialisme baru negara-negara maju terhadap negara yang sedang berkembang. Globalisasi akhirnya menjadi sesuatu terminologi yang menakutkan bagi setiap negara-negara berkembang hingga mewabah kemana-mana. Kalangan pemerintah, politisi hingga akademisi kemudian menggunakan globalisasi sebagai alasan untuk menutupi ketidakmampuan mereka dalam mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Hal ini terjadi hampir di seluruh negara berkembang termasuk Indonesia sendiri.

John Perkins mengatakan dalam bukunya “The Confession of Economic Hit Man (2005) petualangan ekonom pembunuh bayaran, sebenarnya sejak tahun 1970-an telah menjadi strategi besar bahwa negara-negara maju khususnya Amerika Serikat harus menguasai ekonomi dunia sebagai prasyarat penguasaan hegemonik faktor-faktor lain. Oleh sebab itu, negara-negara yang memiliki sumberdaya yang sangat strategis seperti minyak, gas, emas, batubara, uranium tembaga, nikel timah dan lain-lain direkayasa agar pengolahannya harus jatuh ke tangan perusahaan-perusahaan mulitnasional yang berasal dari Amerika Serikat. Economic Hit Man bekerja untuk korporatokrasi dengan lembaga-lembaga internasional dunia sepertia World Bank (WB), Internasional Monetary Fund (IMF), World Trade Organization (WTO) untuk menguras sekering-keringnya sumber daya alam yang ada didalam negara berkembang.

Antisipasi “Economic Hit Man”

Economic Hit Man bekerja dengan segala macam cara untuk mengeksploitasi sekering-keringnya sumber daya alam yang dimiliki negara tertentu. Salah satu caranya yang dilakukan adalah penyuapan, hegemoni pemikiran, memberikan bantuan dengan bunga yang sangat tinggi dan lain sebagainya. Jika negara yang menjadi target operasi rahasia intelijen yang bekerja untuk mengkudeta pemimpinnya dan inilah yang terjadi di negara Panama termasuk juga Indonesia dan sejumlah negara Amerika latin lainnya.

Apabila misi mereka gagal maka skenarion operasi militer dilakukan sehingga nantinya terbentuk pemerintahan baru yang didukung oleh Amerika Serikat. Kematian Perdana Menteri Iran Mohammad Mosaddeq (1951-1953) yang menasionalisasi industri pertambangan termasuk settingan dari Economic Hit Man. Menurut John Perkins, Economic Hit Man juga mengatur terjadinya kecelakaan yang menewaskan Presiden Ekuador Jaime Roldos dan Presiden Panama Omar Torrijos. Jika pengakuan John Perkins di atas benar maka Indonesia harus mengantisipasi dan mewaspadai barbagai kepentingan yang didalam Economic Hit Man dibalik semakin gencarnya arus globalisasi sekarang ini.

Dengan demikian, isu globalisasi yang tidak bebas nilai tersebut harus disikapi dengan penuh kecerdasan dan kritisisme sambil mencari solusi untuk menciptakan peluang-peluang yang bermanfaat bagi pembangunan ekonomi Indonesia. Dengan demikian, bangsa Indonesia dapat melakukan antisipasi terhadap misi dari Economic Hit Man dan inilah yang dilakukan oleh Jepang pasca Restorasi Meiji dimana segala Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, manajemen, cara kerja, dan budaya yang positif dari Barat di serap yang kemudian nilai-nilai teknis tersebut diperlakukan sebagai nilai instrumental dan bukan nilai fundamental.

Liberalisasi ekonomi
Menurut Chacholiades (1978) partisipasi dalam perdagangan internasional bersifat bebas sehingga keikutsertaan suatu negara tersebut dilakukan secara sukarela. Dari sisi internal, keputusan suatu negara melakukan perdagangan internasional merupakan pilihan sehingga perdangangan seharusnya memberikan keuntungan pada kedua belah pihak. Hal ini didasarkan pada argumen bahwa perdagangan akan memberikan manfaat pada negara pelaku dan akan meningkatkan kesejahteraan yang lebih besar dibandingkan tidak ada perdagangan (Kindleberger dan Lindert, 1978).

Dengan kata lain, perdagangan akan meningkatkan efisiensi ekonomi sekaligus memberikan keuntungan akibat perbedaan harga relatif dan spesialisasi dalam berproduksi. Secara teoritis, penghapusan berbagai bentuk intervensi dan hambatan menjadikan penerapan liberalisasi perdagangan akan mendorong peningkatan volume perdagangan lebih besar sehingga nilai tambah yang diciptakan juga makin besar.

Kondisi tersebut selanjutnya diperkirakan akan memacu pertumbuhan ekonomi dunia. Dalam prakteknya, proses liberalisasi perdagangan dilakukan melalui berbagai skenario. Selain proses liberalisasi unilateral, ratifikasi kerjasama perdagangan internasional melalui pembentukan kelembagaan seperti APEC, AFTA dan WTO merupakan pilihan skenario liberalisasi bagi negara pelaku perdagangan termasuk Indonesia.

Sebagian ekonom menganggap liberalisasi akan menguntungkan bagi negara yang sedang berkembang dan penduduk miskin karena ekspor produk yang bersifat padat karya akan meningkat. Selain itu, liberalisasi yang menuntut peningkatan daya saing produk akan mendorong peningkatan nilai tambah melalui pembangunan industri-industri manufaktur pengolahan hasil pertanian.

Namun ekonom lainnya berpendapat bahwa liberalisasi ekonomi justru akan merugikan dan memperburuk kondisi ekonomi dalam negeri. Laju pertumbuhan ekspor pertanian tidak akan mampu mengimbangi laju pertumbuhan impor terhadap produk-produk teknologi negara-negara lain. Apalagi negara-negara maju enggan untuk mengurangi subsidi yang berjumlah miliaran dollar Amerika Serikat terhadap produk-produk pertanian mereka, sementara negara-negara berkembang dipaksa untuk membuka pasar mereka terhadap produk-produk pertanian negara-negara maju.

Ekonomi konvensional di bawah dominasi kapitalisme saat ini sedang menghadapi masa krisis dan reevaluasi. Sebagaimana kapitalisme menghadapi serangan kritikan dan berbagai penjuru. Mulai dari Karl Max sampai pada era tahun 1940-an, 1950-an, 1960-an, bahkan diawal abad 21 kritikan tersebut semakin tajam dan meluas hingga kritikan tersebut semakin tajam dan meluas hingga kritik yang muncul dari kalangan ekonom kontemporer seperti Joseph E. Stiglitz. Ekonomi konvensional ternyata semakin menciptakan ketimpangan yang hebat dan ketidakadilan ekonomi dan kemudian kapitalisme tersebut juga telah menciptakan krisis moneter dan ekonomi di banyak negara.

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta
(dat09)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment