|
||||
| Penderita kelainan hati bertahan hidup dari bantuan dermawan |
| Ragam |
|
MURSAL AI Penderita kelainan hati atau atressia billier Melati, 5, warga Cilacap Barat Kel. Belawan II Kec. Medan Belawan tampak tegar melewati hari-harinya, meski penyakit yang sudah diidapnya selama lima tahun itu terus menggerogoti tubuhnya. Di ruang Merak I RS. Sari Mutiara Medan, sesekali dia tersenyum ketika kakaknya mengajak Melati bercanda. Penyakitnya ini membuat tubuhnya hitam legam. Warna matanya tak lagi hitam putih, melainkan hitam kuning. Acap kali dia menggaruk badannya karena gatal. Perutnya juga tampak buncit. Seluruh giginya juga sudah hancur akibat penyakitnya ini. Penyakit kelainan hati ini sudah kelihatan saat Melati berumur 2 bulan. Badannya menguning. Kedua orang tuanya Meirika, 32, dan Yuli Afrizal, 39, mengira, Melati hanya terkena penyakit biasa. “Saya pikir dia kurang jemur atau kurang minum gitu, tapi setelah dicek ke spesialis anak ternyata ada saluran yang tersumbat dan terjadi pembengkakan di hatinya,” cerita Meirika. Mendengar penyakitnya itu, segala daya dan upaya sudah dilakukan kedua orang tuanya. Dari membawa anaknya berobat alternatif sampai ke dokter spesialis. Hanya saja, belum ada perubahan yang terjadi pada diri Melati hingga saat ini, meski dana yang dikeluarkan sudah cukup besar. “Allah Maha Besar, banyak peduli sama Melati. Melati mendapat bantuan dari para dermawan. Grup band ST 12 dan D’Masiv juga pernah menjenguk dia,” ujarnya sembari mengaku ayah imel bekerja sebagai ABK di Surabaya. Dalam perjalanannya untuk sembuh, Melati pun pernah dibawa di RS. dr. Karyadi Semarang. Di RS. dr. Karyadi Semarang, harapan untuk sembuh Melati cukup besar, karena di RS tersebut, penderita kelainan hati banyak yang berobat ke sana. Pemeriksaan demi pemeriksaan pun telah dilewatinya. Namun, karena lebaran, Melati pun ijin pulang ke Medan untuk sementara. “Sampel darah Imel (panggilan Melati) yang dikirim RS. Karyadi ke Singapura belum keluar. Jadi saya ijin pulang ke Medan. Dan sampai di Medan, saya mendapat tawaran dari donatur dari Jerman agar Imel berobat ke Jerman,” tuturnya sembari berharap Imel sembuh. Bertahan Tanpa Bantuan Pemerintah Kota Medan Semangat Melati untuk sembuh memang besar. Dia mampu bertahan selama lima tahun meski sampai saat ini belum ada perhatian dan bantuan dari Pemko Medan dan Pempropsu kepada Imel. Sepertinya dia luput dari perhatian pemerintah. Padahal untuk membeli obat saja, dia harus menghabiskan uang ratusan rupiah tiap harinya. Untung saja, banyak dermawan peduli pada Imel. Bapak Imel juga sudah bolak-balik ke Dinas Kesehatan Medan agar Imel mendapatkan jamkesmas atau Medan Sehat. Namun, nasib berkata lain, surat jamkesmas dan Medan Sehatnya tidak keluar. “Gaji bapaknya sudah tak mampu lagi untuk membiayai Imel, untung saja banyak para dermawan yang membantu. Askeskin juga diurus Pak Parlindungan Purba. Kalau tidak, saya terutang Rp. 65 juta di RS. Karyadi Semarang sana. Di RS. Sari Mutiara ini saya juga digratiskan. Keluarga Pak Parlindungan Purba banyak membantu saya.” Sementara itu, Direktur RS. Sari Mutiara dr. Tuahman F. Purba, Mkes, Sp.An mengaku siap mendampingi Imel ke Jerman. Di RS. Sari Mutiara ini, katanya, pihaknya siap membantu apapun yang dibutuhkan Imel. “Mana yang bisa kita bantu kita bantu, orang asing (Jerman-red) saja mau bantu Imel, masa kita enggak mau bantu untuk anak kita si Melati,” tuturnya berharap Melati cepat sembuh. (dat04/wsp) |




Comments