Monday, 06 September 2010 22:47    PDF Print E-mail
Magnit perdagangan dunia dari barus dipamerkan
Ragam
M THARIQ
 
Ribuan tahun lamanya, sejak zaman Firaun di Mesir Kuno hingga zaman perdagangan rempah-rempah bangsa Eropa, Kapur Barus atau Kamfer  (Champhor) dari Barus menjadi magnit perdagangan dunia.

Keberadaan Kamfer ini telah dicatat oleh Ptolemy,  Geograf Yunani yang dinyatakan berasal dari Barus (Barousai). Demikian pula dalam catatan-catatan pengelana asing sejak abad ke-5 hingga abad ke-11 Masehi, Kamfer menjadi daya tarik tersendiri yang diperoleh dari Barus, pelabuhan kuno di pantai barat Sumatera Utara.  

Menurut Ichwan Azhari, ketua Program Studi Antropologi Sosial Sekolah Pascasarjana (S2) Unimed, kapur atau Kamfer dari Barus ini berbeda dengan Kapur Barus yang digunakan masyarakat modern untuk membasmi serangga atau rayap. Kamfer dari Barus penting untuk farmasi/pengobatan kuno, pembalseman mummi (mummy) serta sebagai tonik sebagaimana yang disebut dalam Al Quran, kitab suci umat Islam. Kamfer tersebut diambil dari bagian tengah pohon kapur.

Pohon Kamfer dipamerkan di Universitas Negeri Medan (Unimed) dalam sebuah kegiatan Pameran dan Seminar bertajuk “Etnobotani dan Etnofotografi”  yang diselenggarakan oleh Prodi Antropologi Sosial (S2)  Unimed bekerjasama dengan Majalah Inside Sumatera dan Prodi Pendidikan Antropologi (S1) Unimed di Atrium Lantai-1 gedung Pascasarjana Unimed pada 3-4 September 2010. Sedangkan seminar dilaksanakan Sabtu (4/9) di lantai-3 gedung Fakultas Ilmu Sosial Unimed dengan narasumber, yakni Ashar Hasairin, Dosen Biologi FMIPA Unimed dan Ichwan Azhari, Dosen Antropologi Sosial Unimed.

Pohon kapur yang dipamerkan itu dibawa dari hutan Singkel oleh Samanudin, salah seorang mahasiswa Antropologi Sosial Pascasarjana Unimed.

Ichwan dalam kegiatan itu mengatakan, dipilihnya dua tema ini, Etnobotani dan Etnofotografi, memiliki alasan utama yakni, untuk mempopulerkan tanaman etnis masyarakat Sumatera Utara yang sudah sejak dahulu digunakan. Sebagaimana diketahui Etnobotani tidak saja mencakup tanaman obat (medis), tetapi juga sebagai bumbu atau bahan makanan (pangan),  kecantikan  dan bahkan ritual. Oleh sebab itu, untuk memperkenalkan jenis-jenis tanaman etnis dimaksud, Prodi Antropologi Sosial Pascasarjana melakukan kegiatan pameran. Demikian pula etnofotograpi sebagai bagian dari Antropologi Visual adalah salah satu model penelitian etnografi yang mengedepankan visualisasi etnis dan budaya tersebut dalam bentuk gambar atau foto. “Jadi, dua tema ini berkaitan erat dengan kegiatan manusia sebagai bagian dari masyarakat dan budaya di Sumatra Utara,” ujarnya.

Ashar Hasairin dalam seminarnya menitikberatkan pada tanaman-tanaman etnis yang umum digunakan pada etnis Melayu dan Batak. Salah satu contohnya adalah Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium) yang berfungsi sebagai sumber antioksidan alami, pengawet dan antimikroba. Sementara itu, Ichwan Azhari cenderung menitikberatkan pada tanaman-tanaman etnis sebagai komoditas herbal yang sangat potensial yang terhindar dari bahan kimia yang bila dibudidayakan dengan baik, dapat memperbaiki kualitas kesehatan dari masyarakat pengunanya.
        
Jadi, disamping bermanfaat dalam kerangka ilmu pengetahuan antropologi, kegiatan seminar dan pameran ini sekaligus berguna untuk sosialisasi  tanaman etnis maupun visualisasi etnis sebagai potret khazanah budaya dan masyarakat Sumatra Utara.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Belfrik Manulang, Direktur Pascasarjana Universitas Negeri Medan.
(dat04/wsp)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment