Thursday, 12 August 2010 05:47    PDF Print E-mail
Ketua KPK harus berani usut Presiden
Warta

WASPADA ONLINE

JAKARTA - Panitia Seleksi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memilih tujuh nama. Dua di antaranya akan dikirim ke DPR. Syarat mutlak Ketua KPK: berani mengusut presiden!

Anggota Komisi III DPR, Gayus Lumbuun, menyebutkan mencari Ketua KPK lebih susah daripada mencari presiden. Yang terpenting, sambung Gayus, Ketua KPK harus memiliki keberanian untuk mempersoalkan presiden.

“Ketua KPK harus berani mempersoalkan presiden jika salah,” cetus politikus PDI Perjuangan, tadi malam. Ia menilai, KPK saat ini, tepatnya pasca-kriminalisasi dua komisioner KPK beberapa waktu lalu, sama sekali tidak memiliki keberanian.

“Ukurannya dalam kasus Bank Century. KPK sampai hari ini dari berbagai argumen, belum dapat dipastikan uang negara atau tidak dalam bailout. Artinya, KPK sekarang tidak seperti yang diidamkan,” ulasnya.

Terkait rumor adanya skenario pimpinan KPK yang telah disetting oleh pemerintah, Gayus mengaku tidak mengetahui informasi tersebut. “Tapi kalaupun ada settingan Ketua KPK dari pemerintah, maka kita tolak,” cetusnya.

Gayus menegaskan, Ketua KPK yang bakal terpilih kelak merupakan orang yang tidak memiliki sejarah KKN serta mempunyai keberanian untuk menghadapi puncak kekuasaan dengan segala risikonya.

Dalam kesempatan yang sama, Peneliti Hukum Indonesia Corruption Watch (ICW), Febridiansyah, menegaskan pimpinan KPK harus memiliki keberanian. Febri juga menegaskan Ketua KPK harus memiliki integritas terutama terkait kekayaan yang dimilikinya. “Apakah wajar kekayaannya dengan pemasukan yang diterima,” imbuhnya.

Yang terakhir, sambung Febri, pimpinan KPK harus bukan berasal dari unsur Kejaksaan dan Kepolisian.

“Bagaimana KPK bisa membersihkan institusi kepolisian dan kejaksaan kalau KPK menjadi 'Polsek Kuningan' atau 'Kejari Kuningan' (KPK berkantor di wilayah Kuningan, Jaksel)," ujarnya.

Terkait tujuh nama kandidat Ketua KPK yang telah lolos seleksi Pansel, pihaknya telah melakukan profiling jejak rekamnya. “Seperti Jimly yang diduga terkait kasus penerimaan Dana Abadi Umat (DAU) yang menyeret Mantan Menteri Agama. Bagaimana kelanjutan kasus tersebut?” ujarnya.

Febri menegaskan yang terpenting dari profil Ketua KPK adalah yang ekstrem ordinary people, bisa tegas dalam memimpin dan fokus pada penindakan. “Persoalannya ada yang masih berkutat pada pencegahan,” cetusnya.

Terkait skenario Ketua KPK dari pemerintah, Febri justru melihat skenario tersebut muncul di Pansel KPK dengan memunculkan calon dari unsur Kejaksaan. “Alasannya untuk menutupi kursi lowong yang ditinggalkan Pak Antasari dari unsur Jaksa,” katanya.

Padahal, menurut Febri, unsur Jaksa yang lolos dalam seleksi tahap ketiga merupakan yang pernah terlibat penanganan kasus IB Sudjana, Ginandjar Kartasasmita, Tommy Soeharto, Adelin Lis, Akbar Tandjung.

Sementara salah satu kandidat Ketua KPK, I Wayan Sudirta, menyebutkan yang terpenting dari Ketua KPK selain memiliki kecerdasan adalah keberanian dan memiliki pengalaman. “Yang paling penting berpengalaman dalam pemberantasan korupsi selain cerdas,” tegasnya.

Selain itu, sambung anggota DPD RI dari Provinsi Bali itu, jika KPK ingin kuat dukungan politik presiden tidak dapat dihindari. “Kalau KPK ingin kuat, dukungan politik presiden penting dalam pemberantasan korupsi,” tegasnya.

Editor: IMANIURI SILABAN
(dat02/wol/ini)
 
WARTA KARTUN HARI INI   

 
 

 

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment