|
||||
| Kondisi bu penderita kanker berulat di Padangsidimpuan menyedihkan |
| Ragam |
|
SARMIN HARAHAP Seorang ibu rumah tangga penderita kanker, Elvi Mariani, 48, terbujur kaku saat disambangi Waspada, Senin (14/6), di kediamannya di Jalan Sejahtera, Kel. Padangmatinggi, Kota Padangsidimpuan. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya yang membengkak, kecuali raungan dan erangan menahan rasa sakit akan derita yang dialaminya sejak setahun lalu. Begitu juga dengan kedua matanya yang bengkak terbalut wajah sembab, semakin memperjelas kesedihan dan kepasrahannya. Saat ini, kondisinya makin lemah karena tidak ada makanan yang bisa masuk ke perutnya. Ia hanya bertahan dengan suntikan neurobion, minum, dan makan air nasi yang diperas. Kondisi kaki dan tangan makin kecil, begitu juga suhu tubuhnya yang panas, sehingga terpaksa memakai kipas angin, dan sesekali kakinya dibasahi anaknya dengan kain basah. Kondisi ibu malang ini 22 hari terakhir makin parah, sehingga suaminya, Dirlan Rangkutiy, 48, yang berprofesi sebagai tukang beca untuk menutupi kebutuhan rumah tangga, tidak bisa lagi menjalankan aktifivasnya. Bapak lima anak yang bicaranya tenang itu terlihat tegar, dan kepada Waspada dia bercerita tentang asal- muasal penyakit yang diderita isterinya. Diawali rasa gatal pada leher membentuk benjolan kecil. Mulanya, dianggap masuk angin biasa saja dan diobati, namun, keluarga heran karena berbulan-bulan rasa gatal tidak hilang, malah bejolan terus bertambah besar. Melihat perkembangan penyakit yang makin aneh, selain menjalani pengobatan tradisional, mereka juga menjumpai dokter-dokter spesialis dan juga THT di Padangsidimpuan, yang oleh dokter dikatakan isterinya menderita penyakit kanker kelenjer getah bening. Selama berobat, dokter menyarankan mengonsumsi obat dan tidak boleh putus selama lima bulan. Tapi selama minum obat tidak ada tanda-tanda kesembuhan, dan belakangan diketahui obat yang selama ini dikonsumsi isterinya hanya sebatas obat penenang dan penahan rasa sakit. Keluarga pernah membawanya ke rumah sakit daerah, karena tidak mampu kemudian dirujuk ke salah satu rumah sakit di Medan. Di Medan, operasi kembali gagal. Karena kartu Jamkesmas yang dipakai ternyata bukan atas nama isterinya, tapi nama orang lain. Itu terpaksa dilakukan karena isterinya memang tidak memiliki kartu Jamkesmas. Upaya berobat tidak berhenti sampai disitu, demi kesembuhan, isteri tercintapun dibawa kembali berobat ke Medan untuk melakukan pemeriksan jenis kemotrafi dengan biaya Rp5 juta per kemotrafi, dan diwajibkan kemotrafi 5 kali. Akibat kekurangan dana, kemotrafi gagal dilakukan, sehingga keluarga hanya pasrah dengan keadaan sambil menyerahkan semuanya pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kini, kanker itu makin parah, makin membesar dan menutupi lehernya, tidak hanya mengeluarkan nanah dan darah, tapi sudah membusuk dan berulat, bahkan mengeluarkan bau busuk terutama menjelang sore. Untuk mengatasi bau tidak sedap dan mengeluarkan ulat-ulat dari kanker itu menggunakan korek kuping, dan kelurga menggunakan air tembakau campur minyak tanah, kemudian menyiramkannya pada bagian yang sakit. Dirlan Rangkuty, kini tidak berdaya, ia hanya pasrah pada penguasa semesta, berharap iba dari penguasa, dan juga kepada orang berada, kiranya membuka mata hati untuk meringankan beban derita keluarga. Segala daya dan upaya telah ditempuh untuk mencari biaya pengobatan, harta benda dipertaruhkan, kini yang tersisa hanya sebuah rumah tempat tinggal. “Hanya inilah yang tersisa untuk dijual, namun isteri saya tidak setuju dengan alasan anak-anak,” ucapnya dengan suara parau dan mata berkaca. Itulah gambaran duka dari sebuah keluarga yang berharap derma dari dermawan. Tidak ada lagi kata yang bisa mereka ucapkan selain harapan dan pertolongan dari semua insan, yang dinanti untuk mengulurkan tangan. (dat04/wsp) |




Comments