|
||||
| Jangan terlalu tinggi tanggapi korupsi Al Quran |
| Warta |
|
WASPADA ONLINE "Terhadap korupsi Al Quran kita tidak perlu reaktif, dalam artian kita jangan terlalu memberikan porsi tinggi bahwa Al Quran ini adalah korupsi yang memiliki nilai paling tinggi," jelas Jaleswari usai Talkshow DPD RI berjudul Korupsi Al Quran Penanda Moral yang Rusak Parah? di Jakarta, hari ini Menurut dia, korupsi tetaplah korupsi, baik bentuknya korupsi proyek pengadaan Al Quran, pengadaan Alutsista, alat-alat kesehatan dan dana untuk orang miskin. "Saya justru melihat sebaliknya, karena korupsi Al Quran di Kemenag itu sebetulnya justru menyadarkan kita perlu hati-hati melihat persoalan semacam ini. Di mana moralitas itu terlalu sederhana kalau hanya diserahkan kepada Kemenag," terangnya. Menurutnya, kasus ini harus menjadi ajang refleksi dari masyarakat yang terlalu menumpukan persoalan moral ke Kemenag. "Korupsi proyek Al Quran ini tetap harus diletakan sebagai korupsi yang sama dengan yang lainnya, bahwa itu memuat simbol-simbol Islam yang lainnya itu adalah foktor yang berbeda,” ujarnya. Jaleswari menegaskan, korupsi tidak boleh dipilah-pilah dalam berbagai kategori karena bisa berbahaya. "Kalau ini kita membuat level yang berbeda kepada tindak pidana korupsi maka itu memiliki bahaya sendiri. Nanti kita melihat bahwa ternyata korupsi yang bisa mengambil dana rakyat untuk kepentingan rakyat miskin itu levelnya lebih rendah daripada Al Quran," paparnya. Sebenarnya, sambung dia, implikasi kepada kehidupan itu lebih besar dana untuk rakyat miskin yang dikorupsi ketimbang proyek pengadaan Al Quran. Namun, ini bukan berarti mengecilkan Al Quran. "Kesalahan kita adalah kegairahan kita terhadap kehidupan keagamaan itu kemudian terputus dengan bagaimana relasi kita dengan manusia lainnya. Keadilan dalam konteks Al Quran itu sebenarnya bagaimana kita menghargai pluralisme dan sebagainya," simpulnya. (dat18/mediaindonesia) |




Comments