Home / Fokus Redaksi / Kinerja keuangan Bank Sumut anjlok
Ilustrasi (WOL Photo/Ega Ibra)

Kinerja keuangan Bank Sumut anjlok

MEDAN, WOL – Kinerja keuangan PT Bank Sumut tahun 2014 jeblok dibanding sebelumnya. Hal itu diungkapkan Bahrein H Siagian, Pemimpin Divisi SDM yang dicopot dan di PHK sewenang-wenang oleh direksi.

Dia menilai itu dari laporan keuangan publikasi posisi 31 Desember 2014 yang diterbitkan bank tersebut. Penurunan kinerja ini juga dikritisi anggota Komisi C DPRD Provinsi Sumatera Utara dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan direksi beberapa waktu lalu. Anggota DPRD Sumut Yulizar P  Lubis dari PPP bahkan tegas menyatakan, masuknya direksi dari luar mengakibatkan kinerja Bank Sumut anjlok seperti saat ini.

Ditemui wartawan, Minggu (5/4), Bahrein mengatakan seluruh aspek kinerja keuangan PT  Bank Sumut sampai dengan 31 Desember 2014 dibawah kepemimpinan direksi saat ini terus memburuk dan semakin anjlok. Perolehan laba sebelum pajak turun sebesar -15,28 persen dari Rp733 miliar per Desember 2013 menjadi Rp621 miliar per Desember 2014.

Menurutnya, beban bunga meningkat sebesar 31,34 persen, melebihi pendapatan bunga yang hanya naik 9,90 persen. Beban operasional juga meningkat 9,30 persen dimana pendapatan operasional malah turun -5,35 persen dari tahun sebelumnya. “Kenaikan beban operasional ini dipicu kenaikan gaji direksi dan dewan komisaris sebesar 30,54 persen di atas rata-rata kenaikan gaji pegawai dan banyaknya biaya perjalanan dinas mereka untuk hal-hal yang tidak perlu,” ungkapnya.

Bahrein menyatakan pencapaian Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh sebesar 11,99 persen karena didorong peningkatan deposito berbiaya mahal sebesar 24,60 persen dan giro sebesar 20,07 persen yang didominasi giro Pemda. Sedangkan posisi tabungan malah turun sebesar Rp332 miliar atau -5,43 persen dari Rp6,12 triliun di Desember 2013 menjadi Rp5,78 triliun per Desember 2014. “Ini artinya dalam meraup dana, Direktur Pemasaran Ester Junita Ginting hanya mengandalkan tawaran bunga simpanan deposito yang tinggi atau mengharapkan limpahan dana giro Pemda dan tidak mampu membuat Bank Sumut bersaing di segmen tabungan,” jelasnya.

Kredit bermasalah membahayakan
Lebih lanjut dia mengatakan penyaluran kredit tahun 2014 hanya tumbuh sebesar 6,14 persen. Sehingga, total aset Bank Sumut hanya meningkat 8,81 persen. Rasio kredit bermasalah (NPL Gross) semakin mengkhawatirkan yaitu mencapai 5,47% dibanding tahun lalu yang masih di angka 3,83 persen. “Bahkan posisi akhir Maret 2015 pasca diangkatnya Edie Rizliyanto menjadi Dirut, rasio NPL ini semakin memburuk yaitu diatas 6 persen dan nyaris menyentuh 7 persen. Ini sudah sangat berbahaya,” ujar Bahrein.

“Dibanding 2013, seluruh rasio keuangan Bank Sumut menurun. Ketidakmampuan ekspansi kredit mengakibatkan rasio LDR turun menjadi 95,89 persen, dibandingkan tahun lalu yang berada di 107,31 persen. Untuk aspek permodalan, CAR Bank Sumut turun dari 14,46 persen menjadi 14,38 persen.  Rasio efisiensi BOPO memburuk dari 74,22 persen menjadi 80,30 persen dan rasio rentabilitas NIM menurun dari 9,34 persen menjadi 8,14 persen. Demikian juga rasio keuntungan bagi pemegang saham yaitu ROE turun dari 36,52 persen menjadi 28,52 persen dan rasio ROA turun dari 3,37 persen menjadi 2,60 persen,” ungkap Bahrein.

Syariah ikut memburuk
“Hal lebih buruk terjadi pada kinerja unit usaha syariah, dimana pembiayaan turun -8,85 persen sehingga asset unit usaha syariah menjadi turun -9,11 persen. Kualitas pembiayaan atau rasio NPF syariah juga semakin menurun. Pemburukan di bidang kredit dan unit usaha syariah ini merupakan hasil kerja Direktur Bisnis dan Syariah yang saat itu dijabat Edie Rizliyanto. Sungguh sangat memalukan, hanya demi kepentingan politis, OJK sebagai pengawas Bank malah meloloskan Edie Rizliyanto ini menjadi Dirut dan juga direksi yang lain tanpa mempertimbangkan kinerja dan track record yang bersangkutan hingga akhirnya kinerja Bank Sumut anjlok. Saatnya Gubsu selaku PSP, Dewan Komisaris, Direksi dan bahkan OJK bertanggung jawab atas merosotnya kinerja bank milik masyarakat Sumatera Utara ini,” jelasnya.

Bahrein juga mengungkapkan sepanjang 2014, Bank Sumut nyaris tidak mengembangkan jaringan kantor atau ATM. Tidak ada upaya ekspansi memperluas jangkauan pemasaran. Untuk inovasi produk dan layanan pun hanya sebatas mengganti nama atau kemasan produk yang lama.

“Hampir tidak ada program strategis dalam Rencana Bisnis Bank yang terlaksana. Bahkan kesejahteraan pegawai juga berkurang dengan tidak lagi diberikan bantuan kesejahteraan akibat tidak tercapainya target kinerja keuangan sesuai rencana bisnis bank. Inilah penurunan kinerja terburuk Bank Sumut selama kurun 15 tahun terakhir, “ pungkasnya. (data2/wol/min/ags)

Editor: AGUS UTAMA

Check Also

Tambang Martabe Gelar Pekan Informasi Katarak 2018

MEDAN, Waspada.co.id – Upaya untuk menekan jumlah angka penderita katarak di Sumatera Utara, PT Agincourt ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: