_
Home / Fokus Redaksi / Insiden Aceh Singkil: Kapolres Dicopot, Bupati Harus Mundur
foto: Istimewa

Insiden Aceh Singkil: Kapolres Dicopot, Bupati Harus Mundur

BANDA ACEH , WOL – Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan Kapolres Aceh Singkil AKBP Budi Samekto dicopot dari jabatannya setelah bentrok antarkelompok warga di Aceh Singkil Selasa (13/10) pekan lalu.

“Kapolres sudah dicopot gara-gara lalai. Saya pikir kelemahan ada pada Kapolres,” kata Badrodin di Jakarta, Selasa (20/10).

Menurut Badrodin, Budi dianggap lalai sehingga pecah bentrokan di wilayah itu. “Waktu di awal sudah ditanyakan apa perlu back up? Dia jawab tidak. Padahal itu harus diperhitungkan dan menjadi tanggung jawab seorang pemimpin,” kata Badrodin tentang Budi Samekto.

Polisi saat ini sudah mengamankan dua orang di bawah umur yang diduga berperan menyebarkan sms provokatif ke banyak nomor untuk aksi massa. “Keduanya tidak ditahan, hanya diberi pembinaan,” katanya.

Polisi juga menangkap satu orang yang diduga pelaku penembakan. “Satu tersangka penembak yang menimbulkan korban jiwa, sudah diamankan,” kata Badrodin.

Sebelumnya ada tiga orang tersangka pelaku perusakan dan pembakaran rumah ibadah. Ketiga orang berinisial S, N dan I ini telah ditahan, sedangkan enam orang lainnya masih dikejar polisi. “Ada enam (orang) lagi yang masih DPO,” imbuh Badrodin.

Bentrok antarwarga yang menyebabkan satu orang tewas itu terjadi Selasa siang pekan lalu (13/10), berawal dari persoalan perizinan gereja yang didesak warga untuk dibongkar karena tidak memiliki izin.

Bupati Diminta Mundur
Terkait insiden yang telah menelan korban di Aceh Singkil, Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil dinilai menutup mata terhadap aspirasi Ummat Muslim yang ada di bumi Syekh Abdurrauf As Singkil. Bahkan, dinilai bahwa awal terjadinya kerusuhan di kabupaten itu akibat pembiaran Pemkab Aceh Singkil.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan Ketua Barisan Mahasiswa dan Pemuda Aceh Singkil (BM-PAS) Delky Nofrizal Qutni, Koordinator Forum Mahasiswa Peduli Syeikh Abdurrauf As-Singkily (FAMILY) Jirin Capah dan Koordinator LSM Solidaritas untuk Rakyat Daerah Terpencil (SuRaDT) Mawardi.

“Persoalan awal terjadinya insiden Aceh Singkil dikarenakan pembiaran yang dilakukan oleh Pemkab Aceh Singkil. Selama ini Pemerintah Aceh Singkil menutup mata terhadap aspirasi ummat muslim yang ada di Bumi Syekh Abdurrauf As-Singkili,” terangnya lewat keterangan tertulis kepada Waspada Online, Selasa (20/10).

Ketiganya sangat berharap agar pihak penegak hukum juga tidak menutup mata dan hanya mempersoalkan tindakan pembakaran gereja tanpa melihat lebih jauh akar permasalahannya.

“Selama ini terkesan yang didengung-dengungkan hanya persoalan mayoritas dan minoritas, atau tindakan intoleran,” tulisanya dalam keterangan pers.

Padahal menurut mereka, jika dilihat lebih jauh, ada kearifan lokal di bumi Hamzah Fansuri yang di injak-injak, ada perjanjian antar ummat beragama tahun 1979 dan tahun 2001 yang dikhianati, peraturan hukum yang dilanggar. “Jelas ini bermuara kepada bentuk pembiaran yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil,” tegasnya.

Dalam hal ini, BM-PAS, FAMILY dan SuRaDT juga meminta penegak hukum segera mengusut tuntas benar atau tidaknya surat perjanjian yang dibuat oleh Bupati dan Wabup Aceh Singkil saat Pilkada 2012 lalu.

“Harus dilakukan investigasi terkait persoalan ini agar keadilan hukum dapat terwujud tanpa pandang bulu. Jika terbukti benar maka jelaslah ini alasan kuat non muslim untuk mendirikan rumah Ibadah, berani mendirikan ibadah,” pinta Delky, Ketua BM-PAS.

Pun jika terbukti surat itu benar adanya, maka pihaknya dkk mendesak bupati mundur. “Jika terbukti, maka kami desak Bupati Aceh Singkil mundur dari jabatannya,” pungkas Delky. (chai/ant/data1)

适适

Editor: AGUS UTAMA

Check Also

Ratusan Rumah di Aceh Singkil Banjir, Warga Belum Mau Mengungsi

  SINGKIL – Ratusan rumah warga di lima kecamatan di Kabupaten Aceh Singkil sejak Senin ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.