Home / artikel / Kabut Asap Riau Ganggu Sumatera Utara
WOL Photo/Ega ibra

Kabut Asap Riau Ganggu Sumatera Utara

Kebakaran hutan di Riau menjadi trending topic hangat akhir- akhir ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau menyatakan luas kebakaran lahan dan hutan di daerah tersebut mencapai sekitar 1.957 hektare yang terjadi selama periode Januari hingga akhir Agustus 2015 dengan 1.288 titik api. Memang, kondisi tahun ini memang turun drastis jika dibandingkan dengan luas kebakaran lahan dan hutan di Riau periode tahun 2014,. Data BPBD Provinsi Riau menyebutkan luas lahan yang terbakar pada 2014 mencapai 22.037 hektare dengan 3.951 titik api di Provinsi Riau. Akan tetapi, ancaman kebakaran hutan di Riau akan berdampak sangat serius apabila tidak diantisipasi secara intensif.

Tahun ini memang bukan hanya Riau saja yang mengalami kebakaran lahan dan hutan, di Provinsi Sumatera lainnya mengalami hal sama yaitu Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung dan Bengkulu. Kebakaran ini sangat berdampak bagi masyarakat Riau terutama akibat asap yang menyebar pada wilayah Riau ini bahkan merambat pada daerah hingga daerah bagian utara Sumatera seperti Sumatera Utara dan Aceh.

Adanya asap tersebut berakibat signifikan di beberapa Provinsi di Sumatera seperti ditutupnya bandara yang berakibat pada hilangnya akses udara ke daerah Riau sehingga akan berakibat pada melemahnya arus perekonomian daerah tersebut. Selain itu, beberapa sekolah terpaksa diliburkan sehingga kegiatan belajar mengajar terhentikan. Lebih parah lagi, semakin hari semakin banyak masyarakat Riau yang terserang penyakit. Informasi yang berhasil didata tercatat lebih 53.553 kasus penyakit akibat asap di Riau. Lebih 4 ribu jiwa mengidap penyakit mata dan kulit akibat asap tebal. Selain itu juga ada korban yang terserang penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) seperti sesak napas, asma, paru-paru, bahkan juga penyakit jantung.

Pengaruh El Nino

El Nino adalah peningkatan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Ekuator di sebelah barat Amerika Selatan di atas rerata klimatologisnya. Peningkatan suhu terjadi di wilayah yang sering juga disebut sebagai kolam hangat (warm pool) di Pasifik. Menurut BMKG, El Nino tahun ini bersifat moderate.

Dikarenakan lautan dan atmosfer adalah dua sistem yang saling terhubung, maka penyimpangan yang terjadi di menyebabkan terjadinya penyimpangan pada kondisi atmosfer juga yang pada akhirnya berakibat pada terjadinya penyimpangan iklim.

Dalam kondisi iklim normal, suhu permukaan laut di sekitar Indonesia (pasifik equator bagian barat) umumnya hangat dan karenanya proses penguapan mudah terjadi dan awan-awan hujan mudah terbentuk dengan adanya awan- awan hujan yang terdorong masuk kawasan Indonesia maka curah hujan di beberapa kawasan Indonesia akan relatif stabil . Namun ketika fenomena El Nino terjadi, saat suhu permukaan laut di pasifik equator bagian tengah dan timur menghangat, justru perairan sekitar Indonesia umumnya mengalami penurunan suhu (menyimpang dari biasanya).

Akibatnya, terjadi perubahan pada peredaran masa udara yang berdampak pada berkurangnya pembentukan awan-awan hujan di Indonesia sehingga berkurangnya intensitas curah hujan di beberapa wilayah Indonesia yang dilalui oleh El Nino. El Nino kali ini sangat mempengaruhi kemarau tahun ini, selain memperpanjang lamanya musim kemarau, El Nino kali ini juga semakin menaikkan suhu di wilayah yang dilaluinya termasuk bagian selatan Sumatera seperti Sumatera Selatan , Jambi dan termasuk Riau. Adanya faktor ini membuat beberapa lahan dan hutan rentan terhadap kebakaran.

Sumatera Utara kena dampaknya

Kabut asap akibat kebakaran hutan di beberapa provinsi di Sumatera bagian Selatan merambat hingga daerah bagian utara Sumatera, kondisi cuaca di Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatera Utara sejatinya normal seperti biasa dan memiliki intensitas curah hujan yang normal di periode Juli sampai Oktober, sejatinya juga kabut asap yang berasal dari Riau dan Provinsi lainnya di bagian Selatan Sumatera dapat dinormalkan karena adanya curah hujan yang tinggi. Akan tetapi arah angin yang bergerak dari Timur ke Tenggara membuat asap langsung terbawa menuju Sumatera Utara dan sekitarnya.

Beberapa penerbangan pesawat di Bandar Udara (Bandara) di Sumatera Utara sendiri terpaksa mengalami penundaaan keberangkatan akibat kabut asap kerbakaran yang berasal dari Riau dan Provinsi lain disekitarnya. Kabut asap di Bandara seperti Bandara Kuala Namu dan Bandara Pinangsori Sibolga menghalangi jarak pandang. Pada Sabtu pagi , 29 Agustus 2015 jarak pandang di Kuala Namu menurun hingga 2.000 meter. Walaupun pada siang harinya jarak pandang sudah meningkat menjadi sekitar 4.000 meter.

Pada Selasa, 1 September 2015 sebanyak 3 penerbangan di Bandara Kuala Namu kembali mengalami penundaan keberangkatan diantaranya adalah maskapai GarudaIndonesia dengan nomor penerbangan GA 266 tujuan Palembang, Air Asia QZ 8040 tujuan Palembang, dan Garuda Indonesia GA 263 tujuan Pinangsori, Sibolga. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan jarak pandang di Bandara Kualanamu pada Selasa 1 September 2015 terpantau kurang dari 1500 meter walaupun siangnya kembali meningkat menjadi sekitar 2.000 meter sampai dengan 2.500 meter.

kabut asap kebakaran hutan di Riau adalah terganggunya aktivitas warga Kota Medan. Kondisi kabut asap dari Riau selain membuat jarak pandang untuk pengendara kendaraan terganggu juga dapat menggangu kenyamanan dan kesehatan warga Medan sendiri.

Selain di Kota Medan dan Deli Serdang , kabut asap kebakaran hutan juga dirasakan masyarakat Kota Binjai. Kabut tebal itu membuat masyarakat mengurangi aktivitasnya.Cuaca di Kota Binjai juga semakin panas dan membuat gerah bahkan kabut asap ini juga membuat beberapa anak- anak mengalami gangguan kesehatan seperti batuk- batuk dan mata perih.

Kabut asap juga menyelimuti Kota Padangsidimpuan dan sekitarnya. Bahkan jarak pandang  warga dan pengendara yang melintas di Jalan Thamrin (tugu) lampu Merah pusat Kota Padangsidimpuan hanya sekitar 100 meter sampai dengan 200 meter. Kondisi ini tentunya dapat menyebabkan kecelakaan lalu lintas dan sebaiknya pengendara kendaraan bermotor senantiasa menghidupkan lampunya agar terhindar dari kecelakaan.

Udara di Sumatera tidak sehat

Akibat dari kabut asap kebakaran hutan di Riau dan beberapa Provinsi di Selatan Sumatera membuat konsentrasi Partikulat PM10 di Medan mengalami peningkatan dan penaikan status menjadi level tidak sehat sampai dengan berbahaya. Bahkan pada Rabu, 2 September kondisi konsentrasi Partikulat PM10 yang dilansir oleh BMKG dari pukul 00:00WIB sampai dengan 11:00 WIB di Kota Medan naik turun di level tidak sehat sampai dengan level berbahaya.

Tingginya konsentrasi Partikulat PM10 akibat kabut asap kebakaran hutan di Riau adalah terganggunya aktivitas warga Kota Medan. Kondisi kabut asap dari Riau selain membuat jarak pandang untuk pengendara kendaraan terganggu juga dapat menggangu kenyamanan dan kesehatan warga Medan sendiri. Masyarkat Kota Medan mulai mengalami batuk- batuk dan iritasi mata dikarenakan kabut asap ini.

Kondisi tingginya Konsentrasi Partikulat PM10 ini dapat membuat masyarakat terserang penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) seperti sesak napas, asma, paru-paru, bahkan juga penyakit jantung. Konsentrasi Partikulat PM10 yang dapat masuk kategori baik adalah pada rentang 0- 50 ugram/m3sementara batas konsentrasi polusi udara Partikulat PM10 yang diperbolehkan berada dalam udara ambien. NAB PM10 = 150 ugram/m3. Sementara di Kota Medan dan sekitaranya mencapai diatas 400 ugram/m3 pada pukul 00:00- 02:00 Wib Rabu, 2 September 2015 dan rata-ratanya adalah 250- 300 ugram/m3. Hal ini sangat membahayakan bagi kesehatan di Kota Medan dan sekitarnya.

Selain di Kota Medan dan Deli Serdang , kabut asap kebakaran hutan juga dirasakan masyarakat Kota Binjai. Kabut tebal itu membuat masyarakat mengurangi aktivitasnya.Cuaca di Kota Binjai juga semakin panas dan membuat gerah bahkan kabut asap ini juga membuat beberapa anak- anak mengalami gangguan kesehatan seperti batuk- batuk dan mata perih.

Kabut asap juga menyelimuti Kota Padangsidimpuan dan sekitarnya. Bahkan jarak pandang  warga dan pengendara yang melintas di Jalan Thamrin (tugu) lampu Merah pusat Kota Padangsidimpuan hanya sekitar 100 meter sampai dengan 200 meter. Kondisi ini tentunya dapat menyebabkan kecelakaan lalu lintas dan sebaiknya pengendara kendaraan bermotor senantiasa menghidupkan lampunya agar terhindar dari kecelakaan.

Dengan kondisi kabut asap yang sudah menyelimuti beberapa daerah di Sumatera Utara, sangat diharapkan Pemerintah serta pihak- pihak yang berkewajiban dapat turun tangan selain itu warga juga harus ngeprotect (menjaga) dirinya sendiri dan orang- orang terdekat. Apabila keluar rumah senantiasa menggunakan masker jika kondisi kabut asap diluar tidak menyehatkan. Warga juga diminta agar senantiasa berhati- hati bila berkendara di jalan yang diselimuti kabut. Jadi segala dampak yang terjadi akibat kebakaran hutan di Riau dan Provinsi lain disekitarnya dengan lapang dada kita harus menerimanya dan senantiasa melalukan langkah- langkah mitigasi untuk mengatasinya.

(Presli Panusunan Simanjuntak, Mahasiswa Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika/STMKG Dephub)

Check Also

Ternyata, Semakin Banyak Lansia di Hong Kong Jadi Pemulung

HONG KONG, Waspada.co.id – Di bawah gedung-gedung mewah, Hong Kong tengah berjuang dengan warganya yang ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: