Newsticker
WOL / Artikel Pembaca / Terorisme Adalah Proxy War

Terorisme Adalah Proxy War

Oleh: Irwan Daulay

WOL – Umat Islam harus menyadari bahwa saat ini posisi kita sedang dalam suasana perang, perang yang membatasi ruang gerak dakwah Islam untuk mengajak manusia menegakkan yang makruf dan meninggalkan kebatilan.

Dalang dari proxy ini adalah peradaban liberalisme, zionisme dan sosialisme (saya singkat Lizis) ketiga peradaban tersebut hari ini sama-sama memiliki kepentingan besar utk melumpuhkan dakwah Islamiyah, karena relasi Lizis dengan Islam adalah hubungan yang saling melemahkan, jika Lizis kuat maka Islam lemah, sebaliknya jika Islam kuat maka Lizis akan lemah pula.

Fakta ini memiliki argumen yang sangat kuat karena sudah merupakan janji Allah kepada Iblis dan Adam ketika kakek umat manusia tersebut diturunkan ke bumi akibat khilaf oleh godaan iblis. Saat itu ditabuhlah genderang perang antara kebenaran dengan kejahatan, dimana kejahatan disponsori iblis dengan atheisme-nya di pihak lain Adam dengan jalan yang lurus yaitu Ideologi Islam.

Untuk memenangkan pertarungan tentu kedua belah pihak akan menggunakan segala jurus dan kekuatan untuk memenangkannya, dalam perjalanan perang sampai akhir zaman tersebut iblis telah berhasil membangun purwarupa ideologi atheis yang dianutnya untuk strategi melumpuhkan lawannya, yaitu Liberalisme, Zionisme, dan Sosialisme.

Dua dari tiga ideologi tersebut, merupakan proxy dari iblis untuk menghancurkan Islam dari internalnya sendiri, karena iblis dan pengikutnya sudah ribuan bahkan jutaan tahun mencoba menghadapi Islam head to head namun selalu berkhir dengan kekalahan fatal.

Tersebut dalam peristiwa Musa vs Firaun, Luth dengan umatnya yang membangkang, Nuh, Muhammad vs Kaum Jahiliyah, dan berbagai perang dahsyat dari sejak runtuhnya ke khalifahan Ottman sudah hari ini ternyata tidak menjadikan ajaran Islam punah, malah sebaliknya terus berkembang dan pengikutnya semakin banyak dan penyebarannya semakin meluas.

Iblis yang tidak akan pernah menyerah tentu tidak akan kehabisan akal, melalui pengikut-pengikutnya Lizis terus mempertajam strategi melumpuhkan dakwah Islam dengan menciptakan perang di jantung basis umat Islam itu sendiri yaitu Timur Tengah, kekhalifahan sebagai institusi politik Islam yang berperan mencerahkan bumi selama 13 abad, mereka pecah belah hingga dengan memunculkan berbagai macam komunitas Islam berdasarkan suku, bahasa, mazhab dan state, diantaranya Turki, Saudi, Iran, Irak, Mesir, Syria, dan negara lainnya.

Dari sisi mazhab tersebut Sunni, Syiah, Wahabi, dan lain sebagainya. Hingga umat Islam terpecah dan akarnya sebagai umat yang satu, satu jamaah, bersaudara.

Tidak cukup dengan strategi tersebut, karena Islam tidak dapat dihadapi head to head, maka di ciptakanlah proyek terorisme global yang memiliki kepentingan ganda, baik kepentingan ekonomi, politik, dan yang pasti adalah proxy. Dan yang lebih menarik dalam konflik global saat ini ketiga peradaban yang di besut oleh iblis tadi sama-sama bermain di medan yang sama, baik Liberalis (barat), Zionis (israel) dan Sosialis (Rusia cs).

Mereka sama-sama memanfaatkan umat Islam untuk saling bunuh dan saling menghancurkan, maka tersebutlah beberapa front, baik perang Saudi dengan Yaman, Saudi dengan Suriah, perang urat syaraf Saudi, Iran dan Turki. Dalam pelaksanaan strateginya diciptakanlah ISIS agar proxy-nya semakin sempurna, mereka dibiayai dengan imbalan minyak rampasannya harus diserahkan kepada para sponsor, mereka dilatih, menurunkan senjata canggih dan lain sebagainya.

Perang proxy kali ini sangat canggih, dalam satu waktu umat Islam di-setting saling bunuh dan sekaligus menciptakan teror di seluruh pelosok bumi baik terhadap umat Islam itu sendiri maupun non Muslim, sehingga terbentuklah opini bahwa Islam itu kasar, jahat, pembunuh, perusak, teroris dan uncivilized.

Dan hari ini Indonesia dapat jatah untuk proxy tersebut dan biasanya kita akan langsung bergumam, ini teroris, ini Islam yang jahat, dan ini ISIS, tanpa pernah kita sadari telah terjebak kepada Proxy War yang disponsori Iblis dan Lizis. (**)

Penulis Adalah Direktur North Sumatra Investigation Agency (Dir NSIA)

Baca Juga

Wakil Dewan Pembina Golkar Akbar Tanjung (Foto: Okezone)

Akbar Tanjung Sebut Ambang Batas di Pemilu Sudah Tak Relevan

  JAKARTA – Keberadaan ambang batas atau parliamentary threshold dan presidential threshold di pemilu legislatif ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.