Breaking News
Home / Artikel Pembaca / Tentang Sosok Sentral di Balik Penanggulangan Bencana Tsunami Aceh 2004
Ilustrasi
Ilustrasi

Tentang Sosok Sentral di Balik Penanggulangan Bencana Tsunami Aceh 2004

Satu minggu yang lalu, saya mengunjungi Banda Aceh, setelah sebelumnya mengunjungi Pulau Weh, menikmati panorama KM 0 Indonesia, di kota Sabang. Inilah perjalanan pertama saya, setelah peristiwa tsunami Aceh 11 tahun yang lalu.

Saya sangat terkesan melihat Banda Aceh yang menunjukkan perkembangan sangat luar biasa, dibanding kunjungan saya yang terakhir kali. Kota yang tertata dengan baik, pengelolaan lalu lintas yang teratur, gedung-gedung modern yang mengesankan, juga penataan kota yang menunjukkan adanya perencanaan dan tataruang yang baik. Semua itu, saya pikir akan menjadikan Banda Aceh sebagai sebuah kota yang akan terus berkembang di masa mendatang.

Ini situasi yang sangat bertolak belakang, bila kita mengenang kembali peristiwa tsunami Aceh tahun 2004 yang menelan korban meninggal tidak kurang dari 220.000 jiwa di Indonesia saja, dan total korban meninggal mencapai 280.000 jiwa di seluruh negara yang terkena dampak gelombang tsunami.

Dalam kunjungan tersebut, secara khusus, saya memang mengunjungi berbagai situs memorial bencana tsunami yang terdapat di sana, seperti situs PLTD Apung seberat 2600 ton yang terdampar, dan hingga kini semakin banyak dikunjungi masyarakat. Ada juga sebuah situs Kapal Apung Lampulo yang terdampar di atas sebuah rumah. Namun yang paling menarik bagi saya adalah situs Museum Tsunami Aceh yang terletak di jantung kota.

Museum tersebut memiliki arsitektur menarik dan kabarnya dirancang oleh seorang arsitek kenamaan dari Bandung. Di museum tersebut tergambar jelas dan rinci semua peristiwa tsunami. Pengunjung akan disambut oleh sebuah “bangkai” helikopter milik Polri, yang terdapat di depan gedung museum. Di bagian dalam museum banyak sekali gambaran peristiwa tsunami secara lengkap dan menyeluruh.

Tidak itu saja, pengunjung juga akan semakin kaya wawasannya tentang bencana tsunami, karena di museum tersebut juga tersedia berbagai rekaman audio-visual, termasuk dokumentasi bencana itu. Bahkan dalam sebuah ruangan khusus, tertera nama-nama korban jiwa dalam bencana dimaksud.

Inilah bencana gempa dan tsunami yang menelan korban terbanyak yang tercatat dalam sejarah manusia. Titik gempa terletak di Samudera Hindia, kira-kira 160 km di sebelah utara pulau Simeulue, lepas pantai barat Sumatera, pada kedalaman 30 km di bawah permukaan laut. Bagian utara megatrust Sunda patah sepanjang 1.300 km.

Gempanya sendri melepaskan energi 9,2 Mw lalu diikuti tsunami dan secara bersamaan gempa tersebut mengguncang Banglasdesh, India, Malaysia, Malaysia, Myanmar, Thailand, Singapura dan Maladewa, selain Indonesia, yang merasakan dampak paling dahsyat.

*****
Berbagai kilasan memorial itu, tanpa terasa membawa saya kembali kepada peristiwa 11 tahun lalu. Dan tiba-tiba saya teringat akan satu sosok luar biasa, yang menjadi komando pengendali upaya besar-besaran berskala multinasional, dalam rangka recovery Aceh. Sosok itu adalah Bapak Mayor Jenderal TNI (Purn) Tengku Rizal Nurdin, yang juga Gubernur Sumatera Utara ketika itu.

Sebagai salah seorang staf di Pemprovsu saat itu, saya melihat dan terlibat langsung dalam berbaga persiapan dan gerakan yang dilakukan di Medan yang menjadi pusat distribusi barang, obat-obatanan, peralatan bahkan pusat komunikasi dan koordinasi semua kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan oleh pemerintah, SAR, LSM dan bantuan negara sahabat untuk pemulihan kondisi Aceh pasca gempa dan tsunami.

Itulah barangkali, upaya recovery bencana paling besar yang pernah ada di Indonesia. Semua kegiatan itu dikendalikan dari Medan, di bawah komando Pak Rizal Nurdin. Beliau hampir tidak pernah meninggalkan Lanud Polonia selama berbulan-bulan dalam proses pemulihan Aceh, dan kemudian Nias. Beliau sangat concern untuk memastikan semua kegiatan recovery tetap terkoordinasi dan berjalan dengan baik, mengingat banyaknya pihak yang terlibat, serta beranekaragamnya persoalan dan kegiatan yang harus dilakukan. Apakah itu distribusi barang, alat berat, bantuan, obat-obatan, termasuk para tenaga medis dan relawan, baik domestik maupun dari negara sahabat. Tidak terkecuali juga, pengaturan kunjungan NGO dan kalangan pers, dalam dan luar negeri.

Dalam berbagai kesempatan, saya ikut serta mendampingi beliau bersama teman-teman lain yang sungguh-sungguh memberi perhatian untuk Aceh, sehingga dapat dikatakan bahwa saya salah seorang saksi hidup atas kiprah dan jasa Pak Rizal Nurdin dalam proses pemberian bantuan dan pemulihan Aceh.

Di situlah saya melihat dan menyaksikan sendiri, Pak Rizal adalah pemimpin yang sangat cermat dalam mengambil sebuah keputusan, tetapi di saat yang sama, beliau juga tahu bahwa keputusan harus diambil dengan segera, karena upaya recovery memang seperti berlomba dengan waktu. Setiap detik sangat berarti dalam rangka menyelamatkan korban.

Justru karena itulah, saya seperti terhenyak, bahkan sedikit merasa masygul. Dalam semua kilasan kenangan tentang tsunami dimaksud, di berbagai tempat yang saya kunjungi di Aceh, saya tak menemukan jejak atau “kehadiran” Pak Rizal Nurdin. Apakah namanya disebut dalam rekaman audio-visual, atau sekadar foto beliau in action dalam mengendalikan upaya recovery, atau mungkin namanya diabadikan dalam sebuah ruangan, dan sebagainya. Mudah-mudahan sesungguhnya ada, tetapi saya yang tidak menemukannya.

Namun jika memang benar-benar tidak ada, saya kira itu sesuatu yang perlu kita renungkan bersama. Oleh karena itu, mengingat jasa dan pengorbanan beliau itu, dengan segala kerendahan hati, saya merasa terdorong untuk mengingatkan Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam untuk tidak melupakan jasa beliau dalam pemulihan Aceh pascabencana gempa dan tsunami 2004.

Apabila memungkinkan, kami kira cukup pantas nama beliau dijadikan, misalnya, menjadi nama jalan di Banda Aceh, atau sekaligus dicantumkan di situs-situs atau museum tsunami di Banda Aceh.

Saya juga merasa wajib menyampaikan hal yang sama kepada Pemerintah Kota dan Kabupaten di Pulau Nias, mengingat daerah tersebut juga ditimpa bencana gempa yang sangat dahsyat, yang menelan ratusan korban jiwa. Di sini, duet kepemimpinan Pak Rizal Nurdin dan Pak Rudolf M Pardede, secara bergantian “berkantor” langsung di Gunungsitoli, bahkan mengunjungi hampir seluruh pelosok Pulau Nias, termasuk jika harus mengendarai sepeda motor.
Seperti kita tahu, bahkan berbagai badan dunia, khususnya PBB pun memberikan penghargaan kepada Pak Rizal Nurdin, “For showing unstinting, tireless leadership in bringing relief to tsunami and earthquake victims.” Sebuah pengakuan PBB atas kepemimpinan yang tulus, luar biasa, dan tak kenal lelah dalam mengendalikan pemberian bantuan bagi korban tsunami dan gempa bumi. Piagam itu ditandatangani oleh Anna Kajumulo Tibaijuka, Direktur Eksekutif UN-Habitat, atas nama Sekretaris Jenderal PBB.

Saya yakin di masa hidupnya, Pak Rizal dan keluarga besar beliau pasti mengikhlaskan seluruh jasa, pengorbanan dan pengabdian untuk kepentingan bangsa dan kemanusiaan. Namun rasanya akan sangat elok jika kita semua tidak cepat melupakan, dan pandai menghargai jasa-jasa para pahlawan dan tokoh kemanusiaan, sekaligus untuk menjadikannya sumber inspirasi bagi generasi penerus, tentang nilai-nilai luhur kepemimpinan, kerja keras, dan pengorbanan.
Terimakasih.
Oleh Dr. R. E. Nainggolan, M.M

Penulis adalah mantan Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara, dan Kepala Badan Informasi dan Komunikasi Pemprovsu, saat bencana tsunami terjadi, tahun 2004.

Check Also

istimewa

Edy Rahmayadi: Bikers Perlu Wadah Untuk Pembangunan Sumatera Utara

MEDAN, WOL – Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi meminta agar kalangan pemuda-pemuda yang tergabung dalam komunitas ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.