Home / Artikel Pembaca / Sejarah Peradaban Masyarakat Gayo Alas di GAMIFest 2018
Bupati Gayo Lues H. Muhammad Amru, beserta Dirjen Kementerian Kebudayaan, diwakili Kepala Balai Museum Nasional, Siswanto, bersama Bupati Aceh Tengah, Bupati Bener Meriah dan Bupati Aceh Tenggara beserta rombongan Dirjen Kementerian, mengikuti pagelaran Tari Saman, Sabtu (24/11) saat penutupan GAMIFest 2018 di Stadion Seribu Bukit, kabupaten Gayo Lues. (WOL Photo/Bustanuddin)

Sejarah Peradaban Masyarakat Gayo Alas di GAMIFest 2018

Oleh:
Bustanuddin

Waspada.co.id – “Kuatas Bintang Tujuh, Kutuyuh Kal Pitu Mata”, demikian ungkapan yang disampaikan Bupati Gayo Lues H. Muhammad Amru saat menutup acara Gayo Alas Mountain International Festival (GAMIFest) dan Peringatan Hari Saman Internasional, Sabtu (24/11).

Sebagai mana kesepakatan 4 ‘Kabupaten Bersaudara’ bersama Tim Koordinasi Pembentukan Kawasan Strategis dan Khusus Datiga (Dataran Tinggi Gayo Alas) dari Dirjen Kementerian Kebudayaan, Pendidikan dan Kemenko PMK RI serta Program Indonesiana sebagai Platform Kebudayaan di Indonesia, dan pengesahan oleh Lembaga UNESCO bahwa tanggal 24 November ditabalkan sebagai ‘Hari Saman Internasional dan Karawang’.

Sungguh ini sesuatu yang menakjubkan bagi dunia, dan sebuah kebanggaan bagi masyarakat Aceh. Terbentuknya ‘Datiga’ dari 4 kabupaten yang menjadi pelopor berdirinya sebuah Kawasan Strategis Nasional (KSN) yang pembangunannya berbasis kebudayaan. Hal ini baru terjadi di dataran tinggi Gayo Alas. Dan menjadi satu-satunya di Indonesia, yang diprogram oleh Dirjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kemenko PMK serta Indonesiana, sebagaimana disampaikan Deputi Koordinasi Kawasan Khusus dan Strategis, Dirjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kemenko PMK RI, Pamuji Lestari.

WOL Photo/Bustanuddin

Tercapainya kawasan Dataran Tinggi Gayo Alas (Datiga), menjadi Kawasan Strategis Nasional yang pembangunannya secara khusus berbasis kebudayaan, tidak terjadi begitu saja, melainkan dilatarbelakangi oleh sejarah panjang tentang peradaban manusia yang dibarengi dengan masuk dan berkembangnya Syiar Islam untuk pertama kalinya di ‘Bumi Serambi Mekkah’ ini.

Kawasan Datiga, merupakan sebuah wilayah yang berjuluk ‘Negeri Antara’, yakni sebuah wilayah yang melahirkan orang-orang suci, para Aulia dan Waliullah. Jejak para Wali Allah tersebut dalam menyampaikan dan mengembangkan Syiar Islam yang suci di bumi Aceh, terlihat dengan sangat jelas di dataran tinggi Tanah Gayo dan Alas. Salah satunya adalah Seni ‘Tari Saman’ yang telah menjadi ikon di mata dunia, sebagai salah satu dari sembilan kebudayaan yang diakui dunia sebagai Warisan Dunia Non Benda, yang harus dijaga kelestariannya.

Latar belakang lainnya yang menjadi penentu utama dan juga marwah dari masyarakat Keempat Kabupaten Dataran Tinggi Gayo Alas, tidak lain adalah kata-kata ungkapan ‘Kuatas Bintang Tujuh, Ku Tuyuh Kal Pitu Mata’ tercantum dengan jelas dalam ‘Sarakata Reje Linge’, yang disampaikan Bupati Gayo Lues H. Muhammad Amru di awal sambutannya. Kiasan kata tersebut merupakan awal dari sejarah berkembangnya peradaban di Dataran Tinggi Gayo dan Alas.

Makna kata yang tersirat di atas, sangat erat kaitannya dengan keberadaan ‘Datu Pitu’ atau 7 Datok (Wali Allah) yang bersaudara, yang merupakan keturunan Sulthan Genali. Yaitu Raja Pertama Kerajaan Islam Linge Gayo yang diyakini berdiri sekitar 1400 tahun yang lalu di Tanah Gayo. Ini dapat dibuktikan dengan keberadaan makamnya yang masih terpelihara dengan baik hingga saat ini di Buntul Linge Gayo dan pedoman dari ‘Sarakata Reje Ling’.

Sejarah yang tersirat dalam ‘Sarakata Reje Linge’ tersebut sangat luar biasa, dari ketujuh ‘Datok’ inilah yang disebut dengan kiasan sebagai ‘Kal Pitu Mata’ yang menjadi cikal bakal peradaban atau asal-usul berkembangnya Suku Gayo dan Alas yang menjadi penduduk asli Dataran Tinggi Gayo, Gayo Takengon (Laut Tawar), Gayo Bener Meriah, Gayo Lues Blangkejeren, Gayo Lokop Serbajadi, serta Lembah Alas Aceh Tenggara.

Itulah sekilas asal-usul masyarakat 4 kabupaten yang telah direstui oleh Pemerintah Republik Indonesia menjadi Kawasan Strategi Nasional (KSN), yang pembangunannya khusus berbasis kebudayaan. Berdasarkan bukti sejarah peradaban Islami dari masyarakat di Dataran Tinggi Tanah Gayo dan Alas diyakini sudah ada sejak 1400 tahun silam, yang dibawa para Sahabat Rasulullah Sallallaahu ‘Alaihi Wasallam, secara turun temurun ke Dataran Tinggi Tanah Gayo.

Hal ini hampir bersamaan dengan berkembangnya Islam di Jazirah Arab pada masa Rasullullah Sallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Jadi, sebuah pandangan yang sangat keliru jika ada yang menyatakan asal-usul masyarakat Dataran Tinggi Gayo (Datiga) Gayo Alas berasal dari Tanah Batak 27 atau pernyataan lainnya yang tanpa bukti atau referensi sejarah. (**)

Penulis adalah wartawan Biro Kabupaten Gayo Lues, Aceh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: