Home / Artikel Pembaca / Saatnya Menikmati Sekolah

Saatnya Menikmati Sekolah

ADA yang menarik ketika penulis mengadakan lawatan ke Singapura beberapa waktu lalu. Kunjungan santai ini justru telah membuka mata penulis merenungkan betapa hebatnya Singapura yang hanya berpenduduk 5,4 juta jiwa dengan luas wilayah 716 kilometer persegi tersebut.

Bukan hanya menawarkan tempat-tempat wisata yang sophisticated, Singapura juga mampu menawarkan atmosfer berbeda pada sistem pendidikannya. Rutinitas sekolah yang ditampilkan begitu atraktif ternyata mampu menyita perhatian penulis di setiap kesempatan karena kondisi tersebut terlihat jauh berbeda dengan apa yang terjadi di sekolah-sekolah Indonesia pada umumnya. Hal ini tentunya merupakan suatu pencerahan bagi penulis sekiranya potret pendidikan di Singapura dapat menjadi acuan bagi pembangunan pendidikan di Indonesia.

Pemandangan unik yang dijumpai penulis seputar sistem pendidikan di Singapura itu bermula ketika pada hari-hari efektif belajar (Senin-Jumat), penulis selalu menjumpai murid-murid berseragam Primary Education (setaraf Sekolah Dasar) sedang asyik berkumpul di berbagai landmark yang notabene tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan, seperti museum, botanical garden, science center, art center serta tempat-tempat lainnya yang sarat sarana edukasi.

Didampingi para guru, murid-murid terlihat sangat antusias belajar dan bereksplorasi di ruangan terbuka tanpa kelas tersebut. Udara yang segar minim polusi membuat mereka tampak terus bersemangat mengitari berbagai spot yang telah diarahkan. Keingintahuan mereka seolah tidak ada habisnya dilihat dari cara mereka bertanya, mencatat hingga mengamati serius setiap objek yang ada di hadapan mereka diselingi canda riang. Walaupun kegiatan ini merupakan bagian dari materi pelajaran, justru kegembiraanlah yang lebih banyak ditonjolkan dibandingkan jikalau murid-murid tersebut hanya mengisi rutinitas kesehariannya di dalam kelas.

Ya, itulah dunia anak sesungguhnya. Sekolah bagi mereka adalah sebuah antusias. Di sekolah mereka berharap dapat menemukan banyak hal baru dan menggembirakan. Sekolah dianggap mampu menjawab segala keingintahuannya. Belajar sambil bermain adalah ide bagus untuk mendukung kreatifitasnya.

Ketertarikan penulis terhadap sistem pendidikan di Singapura semakin bertambah tatkala melihat rutinitas rombongan siswa Secondary Education (setaraf pendidikan menengah) yang sembari menunggu kedatangan MRT (mass rapid transport) tengah membolak-balik beberapa lembaran kertas yang tidak begitu banyak jumlahnya.

Penulis yang berada sangat dekat duduknya dengan mereka kala itu, tak sengaja juga ikut membaca apa yang tercetak di lembaran-lembaran itu. Ternyata isinya hanya berupa print out poin-poin penting dari suatu materi pelajaran yang dipaparkan secara ringkas. Jarang sekali mereka terlihat begitu banyak membawa buku seperti apa yang terlihat pada sekolah-sekolah di Indonesia pada umumnya.

Sepertinya para siswa dalam hal ini tidak dituntun untuk menghafal mati pelajaran-pelajaran yang didapat di sekolah, namun mereka diberikan kebebasan berekspresi terhadap apa yang telah dirancang dalam lembaran tersebut. Beberapa kali penulis juga melihat mereka terlibat dalam diskusi santai tentang apa yang tertulis di lembaran tersebut tanpa menunjukkan raut wajah muram sedikit pun. Mereka sangat menikmati perbincangan itu.

Mungkin pemandangan itu cukup mewakili kesaksian penulis melihat begitu menyenangkannya suasana belajar di Singapura. Pemerintah Singapura sepertinya paham betul bagaimana mengarahkan pendidikan yang berkualitas pada setiap jenjang usia. Pendidikan justru diarahkan dengan menstimulasi siswa untuk mencintai pekerjaaannya, menemukan sesuatu yang ia lihat begitu penting, dan dapat menjadi kebanggaan pada dirinya suatu saat.

Hal ini tentunya sejalan dengan apa yang telah menjadi konsep sistem pendidikan Singapura yang menyatakan bahwa setiap anak memiliki minat, bakat, dan potensi yang unik. Untuk itu pemerintah Singapura berkomitmen mengarahkan keberhasilan para siswa dengan cara penerapan teknologi tinggi, kreativitas guru, pembelajaran aplikatif dan interaktif hingga kurikulum terbaik sembari memfasilitasi tempat-tempat wisata yang bisa dijadikan sarana edukasi yang menyenangkan.

Tak bisa dipungkiri, kini Singapura telah menjadi negara terbaik Asia Tenggara tidak hanya dari kemajuan ekonominya, juga dari kemajuan pendidikannya. Menurut Tabel Liga Pendidikan Global yang dilakukan oleh Firma Pendidikan Pearson tahun 2014, Singapura menduduki peringkat ketiga sistem pendidikan terbaik di Asia di bawah Korea Selatan dan Jepang. Kepala Eksekutif Pearson, John Fallon, menyatakan penelitian ini didasari adanya hubungan yang kuat antara meningkatkan keahlian dan pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Minim Prestasi
Bagaimana dengan Indonesia? Hingga saat ini belum ada data resmi yang menunjukkan sistem pendidikan Indonesia adalah yang terbaik di dunia. Pendidikan Indonesia saat ini justru berada pada masa kritis. Hal ini diakui oleh Mendikbud Anies Baswedan dalam suatu kesempatan bahwa pendidikan Indonesia saat ini berada dalam kondisi gawat darurat mengacu kepada hasil survei PISA (Programme for International Study Assessment) yang menempatkan Indonesia pada rangking 64 dari 65 negara.

Dilihat dari data Education for All (EFA) tahun 2011 yang dikeluarkan oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), ranking mutu pendidikan di Indonesia menempati posisi 69 dari 127 negara di dunia. Kriteria penilaian dari EFA itu didasarkan pada 1) angka partisipasi pendidikan dasar 2) angka melek huruf untuk mereka yang berusia 15 tahun ke atas 3) angka partisipasi untuk kesetaraan gender, dan 4) angka bertahan siswa sampai kelas V SD.

Tabel Liga Global pada tahun 2012 justru menempatkan Sistem Pendidikan Indonesia di posisi terbawah bersama-sama dengan Brazil dan Mexico. Perbandingan sistem pendidikan di dunia itu diambil berdasarkan tes yang dilakukan setiap tiga atau empat tahun di berbagai bidang termasuk matematika, sains dan kesusasteraan.

Keadaan yang stagnan di setiap tahun ini justru diperburuk dengan makin meningkatnya prilaku destruktif remaja yang meresahkan masyarakat akhir-akhir ini dan berpotensial terhadap timbulnya konflik sosial. Wakil Presiden RI Jusuf Kalla pun buka suara bahwa degradasi moral di kalangan pelajar adalah akibat dari adanya faktor yang salah dengan sistem pendidikan Indonesia.

Hingga saat ini pemerintah sepertinya masih menemukan jalan buntu untuk menerapkan sistem pendidikan yang tepat untuk diterapkan di Indonesia. Kurikulum yang berganti-ganti belum juga menunjukkan hasil maksimal keberhasilan pendidikan Indonesia. Inkonsistensi ini justru berimplikasi negatif kepada sistem pendidikan dan membuat problem baru bagi dunia pendidikan.

Mengembalikan Hakikat Sekolah
Mari kita pikirkan tentang kondisi pendidikan formal di Indonesia saat ini dan kita tanyakan: sudah berapa ribu jam siswa disuruh duduk di kelas hanya untuk mendengarkan kuliah-kuliah atau mengikuti kegiatan-kegiatan yang membosankan, yang melumpuhkan rasa ingin tahu dan minat mereka yang biasanya muncul spontan? Apa yang terjadi ketika seorang siswa merasa tidak pasti dengan detail-detail yang disampaikan? Berapa ratus jam mereka telah menghabiskan waktu untuk membaca buku? Dan sekali lagi, apa yang dapat dilakukan siswa jika menemukan sesuatu yang tidak dimengerti, atau yang membangkitkan rasa ingin tahu mereka? Apakah mereka akan mengacungkan tangan untuk bertanya?

Pengalaman-pengalaman di sekolah yang cenderung monoton telah mematikan kepekaan yang ada dalam diri mereka. ‘Apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya?’ (Sajak Seonggok Jagung oleh WS Rendra).

Pemerintah sepertinya telah melupakan hakikat sekolah yang sebenarnya. Ada pergeseran makna sekolah ke arah dehumanisasi dan kita jatuh dalam delusi ‘sekolah saat ini dianggap satu-satunya institusi yang mampu mencetak manusia yang berkualitas dan berkompetensi’.

Pendidikan formal yang didapat di sekolah telah dipatenkan sebagai senjata ampuh untuk mencapai kesuksesan. Rasa keingintahuan anak menjadi terpenjara karena terbebani dengan adanya aturan sekolah yang begitu rigid dan detail, mulai jam masuk hingga pulang, kurikulum yang padat dan sarat beban (overloaded curriculum) serta pelbagai buku yang harus bahkan wajib dibeli. Dalam hal ini siswa disiapkan untuk meraih nilai yang memuaskan, bukan didampingi menuju masa depan.

Pepatah Latin mengatakan non scholae sed vitae discimus. Adagium ini berasal dari Seneca, seorang filsuf, pujangga yang hidup pada abad ke-3 sebelum Masehi yang memiliki makna kita belajar bukan untuk sekolah tetapi untuk hidup. Belajar itu dapat kita lakukan setiap saat dalam hidup kita. Paradigma belajar itu bukan hanya menilai ‘apa yang kita ketahui’, melainkan juga ‘bagaimana kita mengetahuinya’. Sayang sekali kalau selama 12 tahun menghabiskan waktu hanya untuk menghadapi tes dan mendapatkan ijazah. Toh pada akhirnya mereka tidak bisa mengandalkan nilai dan gelar itu untuk membuat hidup mereka lebih bermakna dan lebih bernilai.

Kecerdasan kreatif Thomas Alva Edison tidak bersumber dari bangku sekolah sebab ia tidak pernah menuntaskan sekolahnya. Tanpa ijazah pula Soichiro Honda dapat menunjukkan dirinya sebagai seorang penemu kreatif. Pendidikan Henry Ford yang hanya sampai tingkat SD justru mampu mengantarnya menjadi pencipta mobil pertama di Amerika. Bill Gates yang sempat drop out dari Harvard mampu menjadi pendiri raksasa perangkat lunak Microsoft dan telah menempati rangking teratas orang terkaya di dunia untuk beberapa tahun. Sebagai seorang ikon jenius dunia, mereka betul-betul menemukan panggilan hidupnya. Mereka menemukan sesuatu yang mereka cintai untuk dikerjakan, sesuatu yang begitu penting bagi dunia dan dapat mereka banggakan.

Sekolah yang menyenangkan adalah oase yang hadir di tengah keringnya dunia pendidikan. Sungguh, masa depan manusia bisa diproyeksi sejak dini. Sejatinya yang paling dibutuhkan anak-anak kita adalah motivasi. Sekolah yang memotivasi mereka untuk terus belajar memahami arti hidup dan menemukan hidup yang sebenarnya.

Biodata Penulis:
Dewi Ayu Larasati, SS, M.Hum, Dosen STBA Harapan Medan.

Email: dewiayularasaty@yahoo.com, Hp: 0812 640 4498

Check Also

Netizen Heboh Deschamps Jadi Pelatih Terbaik

LONDON, Waspada.co.id – Selain pemain dan tim terbaik, FIFA juga memilih pelatih terbaik dunia 2018 ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: