Newsticker
WOL / Artikel Pembaca / Tari Saman di Negeri Matahari Terbit
aptci7sr

Tari Saman di Negeri Matahari Terbit

Oleh: Fadheel Ibadurrahman

WOL – Sudah tidak dipungkiri lagi kalau tanah air tercinta kita kaya akan budaya. Banyak dari budaya kita yang ternyata sangat masyhur dan dikenal di negara lain. Salah satunya adalah Tari Saman, tarian yang berasal dari “Serambi Mekah”, Aceh.

Ternyata, tarian khas adat Aceh ini sangat diminati di Jepang, khususnya di kota Beppu, prefektur Oita. Di daerah yang terkenal dengan sebutan “prefektur air panas” ini, terdapat universitas internasional yang sangat terkenal di Jepang, yaitu Ritsumeikan Asia Pacific University atau terkenal dengan sebutan APU.

Di APU, Tari Saman sering kali menjadi andalan disetiap acara-acara yang digelar di kampus tersebut. Mulai dari saat upacara penyambutan mahasiswa baru, festival-festival yang digelar di kampus, acara Indonesian Week, Cultural Exchange, acara yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat, hingga saat upacara wisuda di universitas tersebut.

Terdapat lebih dari enam ribu mahasiswa di kampus itu, mulai dari program sarjana, pasca-sarjana dan program doktor, mahasiswa pertukaran, hingga mahasiswa program bahasa. Universitas ini memiliki setengah dari mahasiswanya yang berasal dari luar Jepang, mahasiswa dari Indonesia sendiri terdapat kurang lebih tiga ratus mahasiswa. Namun, mayoritas anggota Saman justru bukan orang Indonesia. Dalam satu kesempatan, terdapat enam anggota tari Saman yang bersedia untuk diwawancarai. Dari enam orang tersebut, empat diantaranya merupakan mahasiswa asal Taiwan, Vietnam, dan dua mahasiswa Jepang.

Menurut mereka, Saman bukanlah budaya yang menjadikan identitas khas orang Indonesia, karena menurut mereka, orang non-Indonesia akan lebih mengenal budaya lain seperti Batik, Angklung, atau Tari Kecak dibanding Tari Saman. Namun begitu, di APU sendiri, mayoritas mahasiswa akan banyak mengenal tarian ini sebagai budaya khas Indonesia. Wendy Hung, mahasiswi tahun kedua asal Taiwan ini pertama kali melihat Tari Saman saat upacara penyambutan mahasiswa baru di APU.
untitled-1
Menurutnya, tarian ini sangat unik dan menantang untuk dipelajari, serta dengan mengenal tarian ini, kini ia merasa lebih tertarik untuk mendalami budaya lain di Indonesia. Lain halnya dengan Wendy, Anh Thu, mahasiswi asal Vietnam ini mengaku kesulitan saat pertama kali mempelajari tari Saman.

Meskipun ia sudah tak asing lagi dengan budaya Indonesia lain yang sempat ia pelajari sewaktu masih berada di bangku SMA di negara asalnya, menurutnya, tarian ini sangat membutuhkan disiplin dan profesionalitas. Dengan latihan yang lebih keras dan menghafal nada yang dilantunkan oleh syeikh dan pemukul gendang, ia yakin bahwa Tari Saman merupakan salah satu tarian yang tidak mudah karena membutuhkan keserasian antar penari.

Banyak diantara mahasiswa yang mempelajari Tari Saman justru setelah mengenal budaya Indonesia terlebih dahulu. Salah satunya Reina Miyashita, mahasiswi Jepang yang telah dapat berbahasa Indonesia yang mengaku baru tahun ini berpartisipasi di Tari Saman.

Reina sendiri sudah tak asing dengan negara Indonesia, mengingat ayahnya yang bekerja di Jakarta dan ia pun sudah hampir setiap tahun datang ke Indonesia untuk mengunjungi kerabat dan teman kampusnya yang berasal dari Indonesia. Menurutnya, saat ia kesulitan untuk menyerasikan gerakannya dengan penari lain, ia tak sungkan untuk sedikit melirik penari lain dan mulai menyesuaikan gerakannya. Tak jauh beda dengan Reina, mahasiswi Jepang lain yaitu Ayako Ueno, mengaku sudah terbiasa dengan Tari Saman, bahkan sejak usia balita.

Mahasiswi berkerudung ini pertama kali menyaksikan Tari Saman saat pagelaran Indonesian Week di APU, saat itu ia masih duduk di bangku TK, dan kini ia termasuk salah satu pengajar Tari Saman di kampus tersebut.

Selain dari pada mahasiswa non Indonesia, ternyata terdapat mahasiswa Indonesia yang juga menjadi bagian dari Tim Saman tersebut. Salah satunya adalah Ryhana Rezky, mahasiswi yang sudah mengenal Tari Saman sejak duduk di bangku SD ini mengatakan bahwa Tari Saman bukan tarian yang sulit untuk dipelajari. Asalkan ada kemauan dan kerja keras, maka lama-kelamaan akan terbiasa dengan ritme tarian yang semakin cepat. Beda halnya dengan Ryhana, mahasiswi Indonesia lain, yaitu Nur Halsha Damira Putri atau yang akrab disapa Sasha justru baru pertama kali mempelajari Tari Saman saat datang ke APU.

Ia mengaku kalau banyak mahasiswa non Indonesia yang tertarik dengan tarian ini, maka ia sebagai orang Indonesia sudah seharusnya lebih mengenal Tari Saman. Menurutnya yang menarik dari tarian ini banyak memakai gerakan tangan yang hampir tidak ada di tarian lain. Ia mengaku sudah ingin mempelajari Tari Saman sejak SMA, namun belum memiliki kesempatan hingga ia melanjutkan studinya di APU.

Tari Saman sudah setiap tahun berhasil menyukseskan pagelaran Indonesian Week di kampus tersebut, bahkan hingga menjadikan Indonesian Week sebagai Multicultural Week yang paling diminati dan ditunggu-tunggu oleh banyak mahasiswa di APU atau warga lokal di Beppu sendiri. Jika sudah banyak orang di luar sana yang mengagumi dan ingin mempelajari budaya kita, sudah sepantasnya kita sebagai orang Indonesia untuk menaruh perhatian yang lebih terhadap budaya kita sendiri. (**)

Penulis adalah Mahasiswa Indonesia Semester 3 di Ritsumeikan Asia Pacific University, Faculty of Asia Pacific Studies, Beppu, Prefektur Oita, Jepang.

Baca Juga

WOL Photo

35 Tahun, WOM Finance Tingkatkan Eksistensi Lebih Baik

SUMUT, WOL – Merayakan hari jadi ke 35 tahun,  PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.