Breaking News
Home / Artikel Pembaca / Risiko Kesehatan Menghantui Komuter

Risiko Kesehatan Menghantui Komuter

Oleh:
Endah Budiarti, SST, M.Stat

Menjadi komuter merupakan pilihan dari banyak pekerja di Kota besar seperti Kota Medan. Mahalnya harga tanah dan rumah di pusat kota membuat mereka cenderung mencari tempat tinggal di pinggir kota.

Badan Pusat Statistik pada April 2015 melakukan Survei Komuter Mebidang (Medan, Binjai, dan Deli Serdang) yang bertujuan untuk memberikan gambaran pola dan karakteristik komuter di Mebidang pada tahun 2015.

Dari 4 juta penduduk Mebidang berusia 5 tahun ke atas, sekitar 8 persen merupakan komuter. Persentase komuter tertinggi terdapat di Kabupaten Deli Serdang (13,7 persen), diikuti Kota Binjai (10,9 persen) dan yang terendah di Kota Medan (2,7 persen). Sebagian besar komuter (68 persen) berjenis kelamin laki-laki. Kegiatan utama dari komuter ini adalah bekerja (65 persen), sekolah (34 persen) dan sisanya berkegiatan lain. Tujuh puluh persen komuter masih berusia sangat produktif (15-44 tahun).

Keberadaan pelaku mobilitas komuter ini dapat memberikan dampak positif bagi pusat kota, yaitu mengurangi kepadatan penduduk kota besar serta semakin berkembangnya daerah pinggiran sebagai tempat tinggal para komuter. Pergerakan penduduk di kawasan Mebidang menimbulkan dampak ekonomi dan dampak sosial baik pada daerah tujuan maupun asal komuter. Salah satu dampak negatif pada pusat kota adalah terjadi kemacetan di pusat kota pada pagi dan sore hari.

Sebuah penelitian dilakukan di Inggris dan dimuat pada Jurnal Preventive Medicine Edisi 69 tahun 2014 mengenai keterkaitan antara aktivitas komuter dan kondisi psikologis komuter.

Komuter yang menggunakan transportasi umum dan berjalan kaki ternyata mempunyai daya konsentrasi yang lebih baik dan relatif lebih bahagia dibanding yang mengendarai sendiri kendaraannya.

Di Mebidang, 70 persen komuter menggunakan sepeda motor untuk pergi dan pulang. Sebanyak 71 persen komuter menempuh jarak kurang dari 20 km untuk mencapai tempat kegiatannya, sedangkan 29 persen sisanya menempuh jarak 20 km atau lebih. Dari sisi waktu tempuh, sebanyak 46 persen komuter menempuh perjalanan selama setengah jam sampai kurang dari satu jam. Sementara itu 34 persen menempuh perjalanan kurang dari setengah jam, dan 20 persen sisanya minimal 1 jam.

Menjadi komuter rentan terhadap stress dan gangguan kesehatan. Ini dibuktikan oleh beberapa penelitian. Dari penelitian yang dimuat pada IZA Discussion Paper No. 9031, makin lama waktu tempuh membuat kondisi kesehatan komuter menjadi menurun. Berdasarkan laporan terbaru dari Royal Society of Public Health, stress, kelelahan dan kurangnya waktu untuk berolahraga dapat memperburuk kondisi kesehatan para komuter. Selain itu pelarian pada konsumsi makanan ringan dan junk food selama dalam perjalanan juga dapat memicu kegemukan.

Di Mebidang, 18 persen komuter mengalami keluhan demam, 29 persen mengalami batuk/pilek, 20 persen sakit kepala, 4 persen sakit tenggorokan, 2 persen mempunyai keluhan sakit mata, 2 persen sesak napas, 32 persen mengeluhkan masuk angin, dan 35 persen mengeluhkan pegal-pegal.

Nah, bagi komuter tentunya perlu menyiasati supaya bisa tetap bugar. Sempatkan diri untuk berolahraga teratur dan menjaga asupan makanan bergizi seimbang setiap hari. **

Penulis adalah Fungsional di Subdirektorat Pengembangan Pemetaan Statistik Direktorat Pengembangan Metodologi Sensus dan Survei Badan Pusat Statistik

Check Also

foto: zimbio

Klopp: Liverpool Seolah Berhenti Bermain

SEVILLE, WOL – Hasil imbang yang diraih Liverpool di markas Sevilla pada lanjutan Liga Champions, ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.