Breaking News
Home / Artikel Pembaca / PTPN IV Menuju Perusahaan Terbuka 2018
armin

PTPN IV Menuju Perusahaan Terbuka 2018

Oleh:
Armin Rahmansyah Nasution

WOL – Dalam makroekonomi konjungtur atau siklus perekonomian adalah kenyataan bahwa ekonomi berkembang secara tidak teratur, mengalami kenaikan atau kemunduran yang selalu berubah dari waktu ke waktu. Dari sisi mikroekonomi, konjungtur identik dengan siklus bisnis perusahaan.

Ketika perusahaan mengalami top performace, adakalanya perlahan kinerja menurun disebabkan banyak faktor (internal dan eksternal). Saat dalam top performance tentu perusahaan ingin mempertahankan kinerja. Salah satu cara yang bisa dilakukan menjaga momentum adalah menawarkan saham ke publik (initial public offering=IPO).

Dari sekian banyak alasan perusahaan harus go public, setelah direduksi ditemukan dua alasan utama. Pertama, mendapatkan dana segar sebagai tambahan modal dan kedua, memperbaiki tata kelola perusahaan.  Perusahaan memperoleh dana relatif besar dan diterima sekaligus, pengelolaan profesional karena diserahkan kepada orang yang mampu di bidangnya. Selain itu dituntut keterbukaan dan ikut aturan pasar modal mengenai kewajiban pelaporan, serta keharusan meningkatkan pertumbuhan perusahaan.

Tentu tidak semua perusahaan bisa go public. Ada kriteria tertentu, termasuk kinerja perusahaan dinilai dari jumlah aset, keuntungan, kinerja keuangan dan track record. Baru-baru ini Bursa Efek Indonesi (BEI) Medan memberi isyarat [kode keras] kalau 2018 akan ada dua perusahaan Sumut listing di BEI.

Sebenarnya, BEI sudah roadshow menggalang perusahaan di Sumut agar listing di bursa baik papan utama maupun papan pengembangan. Tapi sampai saat ini baru enam yang listing. Siapa menyusul?

Ternyata salah satunya adalah PTPN IV. Perusahaan perkebunan ‘asli’ Sumut produsen minyak sawit, inti sawit, tandan buah segar dan daun teh ini sebenarnya sudah cukup lama layak listing jika acuannya  kinerja perusahaan.

Bahkan di 2011 pun terlihat indikasi bagusnya kinerja perusahaan dengan laba tahun berjalan mencapai Rp887,106 miliar atau 2015 dengan laba Rp852,171 miliar. Walaupun di antara periode itu terjadi fluktuasi laba, sebenarnya wajar jika mengacu siklus bisnis (konjungtur) yang disebut di awal tulisan.

Direktur Utama PTPN IV Dasuki Amsir menyatakan mereka memang sedang fokus mempersiapkan momentum menuju IPO (initial public offering=penawaran saham perdana) 2018. Selain meningkatkan kinerja keuangan seluruh karyawan juga mengaplikasikan 3K dalam bekerja yaitu kredibilitas, komitmen dan konsistensi.

Persiapan ke arah 2018 sebenarnya kian solid karena sepanjang 2016, kinerja PTPN IV membaik dengan laba Rp572 miliar dan diharapkan 2017 keuntungan semakin besar dengan pertumbuhan 25 persen dari tahun lalu.

Kenapa harus IPO?
Pertanyaan ini sebenarnya sudah terjawab di awal. Sebab sumber permodalan paling fresh digunakan perusahaan dalam ekspansi adalah dari pasar modal dibanding menggunakan pinjaman bank yang diikat pembayaran bunga. Jika PTPN IV ingin ekspansi dan peningkatan volume usaha tentu butuh dana.

Sudah bukan rahasia umum lagi, bahwa total luas lahan sawit BUMN perkebunan kalah jauh dengan swasta/asing yang ada di Indonesia. Data Sawit Watch menyebutkan 50 persen lebih luas areal perusahaan perkebunan sawit sekitar 7,8 juta hektar di Indonesia milik asing. Di antaranya pengusaha asal Malaysia, Singapura, AS, Inggris, Belgia.

Atas kondisi itu sebenarnya pemerintah perlu mendorong BUMN Perkebunan seperti PTPN IV untuk IPO sebagai dasar menjadi perusahaan sawit berkelas dunia dengan ekspansi, inovasi, maksimalisasi aset dan meningkatkan produksi. Lalu apakah dengan IPO kinerja keuangan perusahaan lebih baik dibanding sebelum IPO.

Ada beberapa penelitian relevan mengkaji konsekuensi listing di bursa efek. Salah satu alat analisis yang digunakan adalah Economic Value Added (EVA). EVA mengukur kinerja berdasarkan nilai (value), sehingga nilai EVA menjadi indikator penciptaan nilai suatu perusahaan.

Penelitian terhadap 23 perusahaan yang melakukan IPO di BEI 2006-2010 tidak terdapat perbedaan rata-rata signifikan pada kinerja nilai EVA sebelum dan sesudah IPO selama dua tahun sebelum dan sesudah IPO. Begitu juga dengan ROI (return on investment) tidak berubah siginifikan [Asih Agustina, 2012].

Terhadap kinerja 8 perusahaan manufaktur 2002-2009 rasio profitabilitas atau menunjukan efektifitas (kemampuan) manajemen perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu menunjukkan return on equity 1 tahun sebelum dan 1 tahun sesudah go public tidak ada perbedaan signifikan, namun 1 tahun sebelum dan 2 tahun sesudah go public ada perbedaan signifikan [Fitria Susilowati&Lailatul Hasanah, 2013).

Ini penting untuk memperkirakan seperti apa kinerja PTPN IV setelah listing. Penelitian di berbagai sektor industri itu menyimpulkan satu hal kinerja keuangan, setahun atau dua tahun setelah listing tidak berubah banyak. Butuh penyesuain dan kemudian dua tahun setelah listing baru meningkat.

Saham perusahaan sawit
Tapi membandingkan hasil penelitian perusahaan berbagai sektor yang sudah IPO tersebut  dengan perusahaan sawit yang sekarang sudah listing di bursa akan muncul benang merah.

Menurut data BPS, jumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit  lebih dari 3.000 unit termasuk milik negara dan swasta. Sebagian dari perkebunan swasta tersebut telah melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI).  Hingga 2013 saja ada lima belas perusahaan subsektor perkebunan sawit dan produk turunannya terdaftar di BEI.

Di bursa, perusahaan sawit menunjukkan kinerja saham cukup baik. Bahkan saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menurun akhir 2013, perusahaan-perusahaan kelapa sawit ini masih berada di zona aman (Amri, 2013). Sampai Februari 2014, terdapat tiga perusahaan kelapa sawit yang termasuk di dalam jajaran indeks LQ45, yaitu PT Astra Agro Lestari Tbk, PT BW Plantation Tbk, dan PT PP London Sumatera Indonesia Tbk.

Indeks LQ45 adalah nilai kapitalisasi pasar dari 45 saham paling likuid dan memiliki nilai kapitalisasi besar. Hal tersebut menunjukkan minat investor menanamkan modalnya pada perusahaan sawit cukup baik.  Pasti investor mempertimbangkan lingkungan internal/eksternal perusahaan, prospek, serta kemampuan meningkatkan nilai perusahaan. Jika pun listing, saham PTPN IV setidaknya menjadi salah satu top gainers atau akan masuk dalam indeks LQ 45 juga.

Sebelum tahun politik
Artinya saham sektor perkebunan ke depan jadi incaran. Apalagi momen pencatatan IPO dilakukan 2018 lebih tepat dibanding 2019 misalnya. Sebab 2019 menjadi tahun politik yang seringkali membuat lantai bursa dilanda sentimen negatif.

Ada dua hal penting jika PTPN IV masuk bursa 2018. Pertama sentimen positif saham perkebunan yang selama ini stabil bisa dijadikan alat investasi jangka panjang. Kedua, 2018 masih akan jauh dari goncangan politik.

Sebab pemerintah akan fokus membenahi fundamental ekonomi termasuk menggandeng investor masuk ke bursa. 2018 pun akan menjadi momentum memperbaiki perekonomian sebagai bahan evaluasi dan kajian masyarakat menentukan pilihan di 2019. Pertimbangan itu menjadi wajar jika IPO PTPN IV dilakukan 2018.

Solusi dana bagi hasil
Lalu apa untungnya bagi Sumut kalau PTPN IV menjual sahamnya? Begini, jumlah saham yang dilepas PTPN IV ke publik nantinya disesuaikan surat keputusan direksi BEI berdasarkan nilai ekuitas. Total ekuitas PTPN IV mengalami lonjakan setiap tahun karena hingga 2015 sudah mencapai Rp7 triliun dan aset Rp13.832 triliun.

Kalau PTPN IV melepas saham ke publik alangkah lebih baik jika pemerintah daerah dan warga Sumut dapat kesempatan pertama membelinya.

Selama ini selalu ada tuntutan dana bagi hasil (DBH) ke pemerintah pusat sesuai UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Daerah. Untuk mendapatkan bagi hasil perkebunan, UU harus diubah sehingga keinginan pemerintah Sumut terhadap bagi hasil PTPN II, III dan IV di Sumut bisa terealisasi.

Namun menunggunya penuh ketidakpastian. Sebab revisi UU makan waktu lama dan berdurasi panjang. Belum lagi tarik ulur legislatif. IPO ini setidaknya menjadi momen bagi pemda dan warga Sumut memiliki PTPN IV.

Artinya sambil menunggu perkembangan terkait UU perimbangan keuangan, Pemprovsu melalui badan usaha milik daerah sebenarnya bisa membeli saham PTPN IV. Sebab pembelian saham akan ikut memberi kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah.

Demikian juga masyarakat yang memiliki dana diam (idle money) bisa memanfaatkannya berinvestasi di sektor produktif dibanding menyimpan uang dengan menunggu hasil bunga saja.

Wajar peminat saham PTPN IV ini banyak. Bukan hanya Pemda tapi juga warga Sumut. Karena perusahaan ini menggerakkan ekonomi produktif, mempekerjakan warga di lahan perkebunan, pabrik dan memberi bantuan corporate social responsibility (CSR) ke daerah sekitar.

Penutup
Jika PTPN IV melakukan IPO 2018 tentu ada dorongan perubahan terhadap kinerja dan budaya perusahaan. Di sisi kinerja otomatis dituntut meningkat karena terikat tanggungjawab kepada publik dan aturan yang dikeluarkan otoritas bursa dan Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal).

Kedua, budaya perusahaan lebih profesional dengan mengedepankan efisiensi, keterbukaan informasi publik dan penerapan prinsip good corporate governance (GCG). Perusahaan terbuka diawasi banyak pihak untuk mengawal kinerjanya sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada pemegang saham.

Dalam bahasa religius, karyawan, direksi dan komisaris harus bertanggungjawab secara kolektif kepada manusia [emegamg saham] dari sisi kinerja, secara vertikal pun pertanggungjawaban itu sampai kepada Tuhan. (**)

Penulis adalah kolomnis Harian Waspada dan Anggota PWI Sumut

Check Also

WOL Photo

Putri Indonesia 2017 Kunjungi Maharani Galeri

MEDAN, WOL – Putri Indonesia 2017, Bunga Jelitha Ibrani mengunjungi Maharani Galeri di Jalan Sei ...

  • jessica liaw

    Numpang BC ya gan <3. ;) Maaf Mengganggu Sebentar yaaaa….Yuuk….. Dapatkan Bonus_Bonus DaLam Games Dengan PeLayanan NonStop penuh Ramah dan Akses Cepat Lhoooo
    BBM = 7B07DBA1 Saya Tungguuu yaaa… -cm-c1

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.