Home / Artikel Pembaca / Pertumbuhan Ekonomi Melambat, Pertumbuhan Industri bergerak Agresif

Pertumbuhan Ekonomi Melambat, Pertumbuhan Industri bergerak Agresif

WOL Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I-2015 hanya 4,71% jauh lebih rendah dari periode tahun sebelumnya yang mencapai 5,14%. Perlambatan ini bukan hanya terjadi di Indonesia tapi juga hampir seluruh dunia. Berbanding terbalik dengan pertumbuhan industri terutama non migas yang bergerak diatasnya yaitu sebesar 5,21%.

Sejak tahun 2011 hingga triwulan I tahun 2015 pertumbuhan industri non migas selalu diatas pertumbuhan ekonomi hanya pada 2013 pertumbuhan industri non migas sedikit di bawah pertumbuhan ekonomi. Peningkatan pertumbuhan industri disertasi dengan meningkatnya kontribusi sektor industri pengolahan non migas tehadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional tahun 2015 sebesar 21,22 persen dan pada tahun 2019 dapat mencapai 24,15 persen. Menurut data dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebutkan cabang industri yang tumbuh tinggi pada kuartal I 2015 antara lain, Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional sebesar 9,05%, Industri Logam Dasar sebesar 8,66%, Industri makanan dan minuman sebesar 8,16% serta industri barang logam, Komputer, Barang elektronik, optik dan peralatan listrik sebesar 8,14%. Selain itu iklim usaha dan investasi nasional tetap prospektif.

Sebagai contoh industri alas kaki sebagai salah satu cabang industri manufaktur menargetkan menaikkan omset dengan melakukan ekspor. Ekspor produk industri pada bulan Januari 2015 sebesar US$ 9,07 miliar dan memberikan kontribusi 68,17% dari total ekspor nasional, Sedangkan impor produk industri pada Januari 2015 sebesar US$ 9,70 miliar atau turun 8,29% dibanding periode sama tahun 2014 sebesar US$10,58 miliar.

Langkah yang diambil pemerintah
Adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dapat memberi peluang bagi terbukanya pasar produk Indonesia di kawasan ASEAN tetapi disisi lain jika tidak diwaspadai yang ada Indonesia akan menjadi pasar yang besar bagi produk-produk negara ASEAN lainnya. Pemerintah mengajak stakeholder industri nasional terutama KADIN untuk menyiapkan pelaku usaha yang memiliki daya saing tinggi dan siap untuk berkompetisi dengan para pelaku usaha dari negara lain. Selain itu pemerintah juga melakukan pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah termasuk merealisasikan pembangunan pembangkit listrik 35000 MW demi mendukung iklim investasi. Melakukan Kerjasama Industri Kecil Menengah (IKM) antara Indonesia dengan negara anggota Forum of Small Medium Enterprises Africa ASEAN (FORSEAA). Kontribusi IKM Indonesia sebesar 34,56% dari total industri manufaktur pada tahun 2014, jumlah IKM mencapai 3,5 juta unit usaha yang telah mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 8,4 juta orang. Sebagai contoh kegiatan Kerjasama IKM Afrika ASEAN adalah kerjasama Indonesia dengan Laos dalam program peningkatan kapasitas SDM IKM pada sektor tekstil tahun 2014. Dari langkah yang diambil pemerintah diatas diharapkan dapat meningkatkan konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, ekspor dan mengurangi impor yang merupakan pembentuk PDB dalam hal ini merupakan ukuran perekonomian suatu negara sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.(***)

Penulis: Amanah Pasaribu
Mahasiswa S2 Magister Bisnis Administrasi Institut Teknologi Bandung
Email: amanahpasaribu@gmail.com

Check Also

Telkomsel Berbagi Kasih Natal Bersama Ribuan Yatim dan Duafa di 4 Kota Besar

PRINGSEWU, Waspada.co.id – Menyambut Hari Raya Natal 2018, Telkomsel menggelar rangkaian kegiatan kepedulian sosial di ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: