Newsticker
WOL / Artikel Pembaca / Perlukah Pelajar (OSIS) Terlibat MOS?
WOL Photo
WOL Photo

Perlukah Pelajar (OSIS) Terlibat MOS?

Oleh Drs: H Emiruddin Harahap

MEDAN, WOL – Perlukah pelajar, khususnya yang tergabung dalam Organisasi Intra Sekolah (OSIS), ikut dalam kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS)? Tentunya pertanyaan tersebut timbul seiring munculnya Permendikbud 18/2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah. Salah satu poinnya melarang siswa untuk terlibat langsung dalam MOS.

Peraturan ini pun tampaknya menjadi perhatian serius sejumlah kalangan, di antaranya pemerhati pendidikan Kota Medan, Drs H Emiruddin Harahap, yang mengatakan kegiatan MOS sejatinya bertujuan melatih mental dan membuat siswa akrab lingkungan sekolah. Sehingga dengan adanya peraturan ini banyak yang beranggapan Mendikbud terlalu berlebihan menyikapi hal tersebut.

“Karena memang di antara pointnya justru bertentangan dengan UU No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada Pasal 3 yang terkait tujuan pendidikan nasional yakni tentang pengembangan potensi peserta didik. Karena di dalam Permendikbud yang baru secara jelas dinyatakan MOS dilaksanakan oleh guru atau pengajar, dan di berbagai media Mendikbud tegas melarang MOS dilakukan siswa senior sekalipun pelaksananya OSIS,” jelasnya, Sabtu (16/7).

Dikatakan, padahal sesungguhnya dalam pelaksanaan MOS justru siswa senior utamanya Pengurus OSIS mendapatkan praktik pembelajaran untuk menjadi abang atau kakak yang sesungguhnya bagi adik-adik mereka yakni siswa baru,

“Sekaligus belajar untuk mengorganisasi kegiatan maupun mengorganisasi massa, serta jauh lebih penting lagi para siswa senior belajar menjadi siswa yang bertanggung jawab dan sekaligus belajar menjadi pemimpin. Meskipun tidak dapat dipungkiri MOS di masa lalu menimbulkan trauma dan kekhawatiran para orang tua,” tegasnya.

Namun, kata Emir, jangan dilupakan jika praktik perpeloncoan yang menimbulkan korban di beberapa sekolah bisa terjadi karena pihak sekolah dalam hal ini kepala sekolah, bidang kesiswaan, dan guru terkait lalai bahkan terkesan tidak peduli terhadap MOS.

“Serta cenderung menyerahkan sepenuhnya pelaksanaan kegiatan kepada siswa tanpa melakukan supervisi dan evaluasi kegiatan. Dan mereka lebih suka sibuk mengurusi kepentingan pribadinya dan mengabaikan tanggung jawabnya,” katanya.

Lanjut, seperti kata pepatah, ‘jangan karena nila setitik, rusak susu sebelanga’ dan jangan lupa sesuatu yang diawali dengan baik Insha Allah pasti pada akhirnya akan berakhir dengan baik.

“Meskipun Mendikbud melarang siswa senior melaksanakan kegiatan MOS ini sebaiknya pihak sekolah bijak untuk menyikapinya dan jangan sampai Permendikbud ini justru membuat para siswa kehilangan potensi dan kegairahannya untuk membantu membimbing para juniornya,” tambahnya.

Menurut Emir, kecemerlangan berpikir dan kepedulian kepala sekolah serta guru yang membidangi kegiatan MOS ini akan membuat kegiatan tersebut akan menarik sekaligus menentukan keberhasilan pelaksanaan MOS sesuai dengan tujuan pelaksanaannya.

“Yang dalam hal ini sebagai sarana bagi siswa baru lebih mengenal lingkungan sekolahnya yang baru sebagai langkah awal menuju sukses belajar,” tutup Emir.

*Penulis adalah pemerhati pendidikan Kota Medan dan guru di SMAN 3 Medan.

Baca Juga

WOL Photo/Eko

PLS: Perkenalkan Budaya Mandiri dan Disiplin Waktu

MEDAN, WOL – Hari kedua kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) yang berlangsung di beberapa sekolah ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.