Home / Artikel Pembaca / Pengawasan di Pasar Domestik Masih Lemah
Ilustrasi

Pengawasan di Pasar Domestik Masih Lemah

WOL – Pengawasan barang beredar di pasar domestik ternyata begitu lemah. Akibatnya, peredaran barang palsu dan barang ilegal semakin marak. Saking maraknya, beberapa kalangan menyebut, Indonesia adalah surganya barang palsu. Banyaknya peredaran palsu di pasar domestik disebabkan oleh kelemahan dalam pengawasan dan rapuhnya penegakan hukum.

Boleh jadi, di tengah maraknya peredaran barang palsu itu, terdapat adanya dugaan permainan dalam penegakan hukum sehingga dengan mudahnya barang tersebut beredar di masyarakat. Oleh itu, pemerintah dalam mengawasi produk bajakan ini harus melihat dalam sisi penegakan hukumnya sehingga pelaku barang bajakan ini dapat ditindak tegas.

Ekses barang palsu, tidak hanya mencederai persaingan usaha dan melukai hak konsumen, barang-barang palsu yang umumnya berasal dalam negeri sendiri maupun dari luar negeri akan berdampak negatif bagi pendapatan negara.

Diduga masih banyaknya aparat yang justru kongkalikong menutup-nutupi peredaran barang palsu ini. Bahkan tak sedikit juga barang-barang tersebut merupakan produk impor dari China, raksasa ekonomi Asia dan juga Malaysia.

Masalahnya fenomena adanya pemalsuan barang di Indonesia bukan suatu hal yang baru. Ini sudah berjalan sejak lama, dan memang pemerintah tidak tegas dan terkesan membiarkan tumbuh subur begitu saja. Sekarang semua barang bagus pasti ada KW 1, KW 2 dan seterusnya, dan di Indonesia tidak susah mencari barang bermerk dengan harga murah.

Dalam hal ini  pemerintah gagal dalam memberikan perlindungan terhadap para pengusaha dan konsumen. Padahal pemerintah seharusnya bisa menjadi pengawas atau quality control produk-produk dalam negeri. Sebenarnya sudah ada tim nasional yang dibentuk sesuai Peraturan Presiden (Perpres) No. 4 Tahun 2006 mengenai barang palsu. Tim ini terdiri atas 16 kementerian terkait dengan kerugian negara dan peredaran barang palsu

Agar pengusaha dapat menciptakan produk yang bersaing dengan produk impor. Secara umum wilayah Indonesia yang luas  menjadi  titik masuk barang palsu dari luar negeri semakin mudah. Konsumen yang masih belum sadar akan tingkat bahaya barang palsu juga menjadikan peredaran sulit dihentikan.

//Kerugian Rp65,1 Triliun//
Berdasarkan studi Masyarakat Indonesia Anti-Pemalsuan (MIAP) bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI)  menemukan pada 2014, bahwa kerugian ekonomi negara akibat barang palsu mencapai Rp65,1 triliun. Pada 2010, pendapatan yang hilang karena barang palsu sudah mencapai Rp 43,2 triliun. Dengan begitu, terdapat peningkatan yang sangat signifikan potensi kerugian yang diderita negara.

Pemalsuan ini mendominasi tujuh komoditas yakni tinta printer 49,4%, pakaian 38,9%, barang dari kulit (tas, sepatu, dan lainnya) 37,2%, software 33,5%, kosmetik 12,6%, makanan minuman 8,5% dan produk farmasi palsu 3,8%.

Sebelumnya pada tahun 2012 rincian barang-barang palsu itu meliputi produk farmasi (3,5%), kosmetika (6,4%), oil (7%), minuman (8,9%), rokok (11,5%), elektronik (11,7%), lampu (16,4%), spare parts (16,8%), pakaian (302%), software (34,1%) dan barang dari kulit (35,7%). Bahkan khusus sektor farmasi penelitian Masyarakat Indonesia Anti-Pemalsuan (MIAP) bersama Fakultas Kedokteran Univesitas Indonesia menemukan dari 518 tablet berjenis sama, ternyata yang beredar di luar apotek 100% palsu.

Banyak peraturan yang mengatur seperti Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek , UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan, dan Undang-Undang No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, tetapi belum efektif untuk menghempang arus produk palsu di Indonesia.

Biodata Penulis:
Dr. Farid Wajdi, SH, M. Hum
Direktur
Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen (LAPK)
HP: 08126511471

Check Also

IHSG Bergerak di Zona Merah, Ini Penyebabnya

MEDAN, Waspada.co.id – IHSG pada perdagangan hari ini ditutup turun 7 poin atau 0,117 persen ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: