Breaking News
Home / Artikel Pembaca / Pandangan Hamba Tuhan Dalam Kitab Matius 12:18-21

Pandangan Hamba Tuhan Dalam Kitab Matius 12:18-21

Oleh: Pdt. Dapot Damanik, M.Th

WOL – Berbicara tentang Hamba TUHAN dalam Matius 12:18-21 merupakan sukacita yang besar dan sangat penting. Hal ini disebabkan Matius sudah menjawab dengan jelas apa yang masih menjadi rahasia di dalam Yesaya 42:1-4.

Hal ini penting karena ini berhubungan dengan kemesiasan atau keilahian Yesus. Dari pengkajian ini, akan diketahui bagaimana pandangan Matius terhadap Yesus. Tentunya inilah yang menjadi latar belakang mengapa dia mengutip tulisan Yesaya tersebut. Dan sikap apa yang diharapkannya kepada bangsanya terhadap Yesus. Bagaimana Yesus menggenapi nubuat Yesaya tersebut baik secara historis maupun secara eskatologis, sehingga Matius mengutipnya untuk menunjuk kepada Yesus (Matius 12:18-21).

Rasul Matius Sebagai Penulis Injil Matius

Sejak awal para bapa gereja tidak meragukan rasul Matius adalah penulis Injil Matius. Dalam Markus 2:14 dia disebutkan juga Lewi anak Alfeus. Ada empat hal yang diketahui dengan pasti mengenai diri Matius, yaitu: Satu, dia mantan pemungut cukai (Matius 10:3). Orang Yahudi yang ditugaskan memungut cukai untuk bangsa Roma sebagai penjajah dianggap sangat rendah oleh orang-orang sebangsanya. Matius tentulah sudah dianggap sebagai orang yang sangat dekat dan berpaut kepada penjajah itu.

Dalam Alkitab sering ada perkataan “pemungut cukai dan orang-orang berdosa”. Ini menunjukkan bahwa kedua golongan itu dianggap sama derajatnya. Bukan hanya karena dia orang Ibrani yang dianggap sebagai pengkhianat, tetapi juga sebagai seorang Lewi yang murtad, yang telah menjual hak kesulungan Lewinya untuk memperoleh semangkuk kacang merah (kekayaan dan kedudukan) dari orang Romawi. Kita mengetahui bahwa Matius dahulunya adalah pemungut cukai hanya dari tulisannya sendiri.

Dalam cerita mengenai panggilannya (Markus 2; Lukas 6), Markus dan Lukas menyebut dia Lewi. Cerita itu tidak menyatakan bahwa dulunya ia pemungut cukai. Dalam cerita pemilihan keduabelas murid (Matius 10; Markus 3 dan Lukas 6), Markus dan Lukas menyebut dia Matius, sedangkan dia sendiri menyebut dirinya “Matius pemungut cukai.” Dan hanya dia sendiri yang menggunakan istilah “pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal” (Matius 21:31).

Itu bukan berarti dia tuna susila, tapi menunjukkan bahwa umumnya pemungut cukai memang demikian perbuatannya atau mereka dianggap sejajar. Cerita Matius itu membuktikan bahwa ia sangat merendahkan dirinya sendiri.

Kedua, ia menjadi murid Tuhan Yesus (Matius 9:9). Markus dan Lukas menceritakan bahwa ketika Matius meninggalkan pencukaian, ia lalu menjamu Tuhan Yesus di rumahnya, dan mengadakan perjamuan besar bagi para pemungut cukai supaya mereka juga dapat mendengarkan perkataan Tuhan Yesus.

Sebagai pemungut cukai, dia berarti juga orang kaya, karena untuk mendapatkan pekerjaan demikian orang-orang biasanya memberikan uang kepada penguasa. Tetapi uang itu juga didapat dari masyarakat, bahkan dipungut lebih supaya ada tersisa untuknya. Ia “meninggalkan semuanya”, artinya meninggalkan harta bendanya. Hal ini tidak diceritakan oleh Matius, melainkan didiamkan saja dan ini merupakan bukti pula bahwa ia sangat merendahkan dirinya dan sungguh telah mengalami pembaharuan yang luar biasa.

Ketiga, ia ditunjuk menjadi rasul (Matius 10:5). Dalam cerita pemilihan rasul tersebut, mereka disuruh Tuhan Yesus pergi berdua-dua (Markus 6:7), sebab itu nama mereka dituliskan berpasangan. Tiap bepergian untuk melakukan tugas penginjilan Matius senantiasa pergi bersama Tomas.

Itulah sebabnya mengapa dalam Injil Markus dan Lukas kedua nama itu senantiasa disebut bersamaan. Tapi cara Matius menyebut kedua nama itu ialah dengan mendahulukan Tomas. Ini juga merupakan bukti bahwa ia sangat merendahkan dirinya.

Keempat, ia menulis Injil Matius. Satu hal yang sangat berharga yang dimiliki Matius, ia cakap atau mahir dalam tulis-menulis. Ini berbeda dengan sebagian besar para murid yang mempunyai latar belakang nelayan. Ketika dia dipanggil Yesus, ia sedang ada duduk di kantor cukai. Pada waktu itu Matius bangkit dan mengikuti Yesus serta meninggalkan segala sesuatu, kecuali satu hal yaitu alat tulis atau penanya. Dan Matius kemudian memakai kecakapannya itu. Sehingga ia menjadi orang yang pertama yang mengumpulkan dan menulis ajaran-ajaran yang diberikan oleh Yesus.

Pernyataan Papias bahwa Matius ‘mengumpulkan perkataan-perkataan itu’ dalam bahasa Ibrani, diterima oleh gereja kuno sebagai bukti bahwa penulis injil yang biasa disebut ‘karangan Matius’ ialah Matius.

Kebanyakan ahli modern menganggap bahwa yang dimaksud oleh Papias adalah rampaian Matius, apakah itu ucapan-ucapan Tuhan Yesus atau ayat-ayat Perjanjian Lama yang berkaitan dengan Mesias. Mungkin karena kemudian beberapa dari ucapan atau ayat itu telah melembaga dalam Injil, maka menjadi alasan untuk menyebut dokumen ini ‘karangan Matius’ sejak pertengahan abad kedua.

Tentang hal ini A.T. Robertson, ahli dalam Perjanjian Baru dalam tulisan Baxter berkata, “Tulisannya termasuk kitab paling berguna. Kitab itu ditempatkan di depan sekali dalam Perjanjian Baru, dan ia lebih dari pada kitab-kitab lain, menimbulkan kesan yang lazim diterima mengenai diri Tuhan Yesus.”

Mengenai akhir hidup Matius, hanya sedikit yang diketahui. Menurut legenda, ia pergi ke Ethiopia dan bertemu dengan Kandake, ratu negeri Ethiopia (lihat Kisah Para Rasul 8:27). Beberapa tulisan mengatakan bahwa ia direbahkan di tanah dan dipancung kepalanya dengan halberd di kota Nadabah (atau Naddayar), Ethiopia sekitar tahun 60 M.

Deskripsi Hamba TUHAN (ay. 18-21)

Matius 12:18-21 dikutip Matius dari Yesaya 42:1-4. Apabila hanya melihat pada kitab Yesaya, maka para pembaca tidak bisa dengan pasti menafsirkan siapakah yang dimaksud dengan Hamba TUHAN itu. Tentu saja Yesaya tidak mengetahui bahwa tulisannya tersebut menunjuk kepada Yesus. Tetapi bagi para pembaca Kristen sekarang yang membaca Matius 12:18-21 langsung dapat menerima bahwa Yesus adalah Hamba TUHAN atau Mesias yang dimaksud oleh Yesaya tersebut.

Hal ini sangat jelas dengan konteks dalam ayat sebelumnya. Matius 12:1-8 Yesus membela murid-murid-Nya terhadap sindiran orang-orang Farisi yang menganggap mereka telah melanggar kekudusan hari Sabat. Yesus bahkan mengatakan bahwa diri-Nya adalah Tuhan atas hari Sabat. Dalam ay. 10-13 Yesus dengan lebih tegas lagi menentang orang-orang Farisi tersebut, karena bila dalam kasus murid-murid-Nya, hal itu sudah terlaksana lebih dahulu baru kemudian ditanggapi oleh mereka. Tetapi dalam ay. 10-13 orang-orang Farisi bertanya terlebih dahulu sebelum Yesus menyembuhkan orang yang mati tangannya tersebut.

Matius mengajarkan bahwa Yesus lebih tinggi dari pada Musa atau siapa saja di Israel dengan cara menceritakan peristiwa sengaja melanggar Sabat menurut tradisi Farisi. Yesus melihat hal lain yang tidak dilihat orang-orang Farisi, yaitu menilai manusia lebih berharga dari pada binatang. Tetapi bagi orang-orang Farisi hal itu tidak dapat ditoleransi lagi.

Karena Yesus sudah dengan sengaja dan di depan publik tidak menaati peraturan Sabat yang mereka buat. Apabila mereka membiarkan hal ini maka sikap orang banyak yang mengalami dan yang menyaksikan kuasa Yesus akan semakin menyanjung Yesus dan beramai-ramai akan tidak menuruti aturan Sabat yang mereka buat. Dengan didorong oleh rasa dengki dan benci inilah maka mereka pergi dan sepakat untuk membunuh Dia (ay. 14).

Penolakan atau ketidakpercayaan inilah yang masih dilihat Matius pada bangsanya sehingga dia menulis Injil (dengan pimpinan Roh Kudus), supaya mereka menerima Yesus yang telah mereka salibkan itu sebagai Mesias-Raja. Jadi perbuatan Yesus menyembuhkan banyak orang sakit pada hari Sabat, jawaban-Nya kepada orang-orang Farisi, rencana pembunuhan mereka kepada Yesus dan sikap Yesus yang menyingkir dari mereka adalah latarbelakang pengutipan Matius 12:18-21 dari Yesaya 42:1-4.

Menurut konteksnya (Mat. 12:17), Matius ingin menegaskan bahwa Yesuslah Hamba TUHAN itu; dengan semua cerita di atas, bagi Matius sangat jelas bahwa Yesus adalah Hamba yang telah dinubuatkan itu. Tetapi itu saja belum cukup, karena hal itu sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya jauh sebelumnya. Nubuat nabi bagi bangsa Israel sebenarnya mempunyai kekuatan yang luar biasa. Jadi seharusnya bangsa itu menerima Yesus bukan menolak-Nya.

A. TUHAN memperkenalkan Hamba-Nya

Matius menyatakan dalam kutipan ini bahwa hidup Yesus menggenapi nubuat nabi Yesaya (ay.17). Dia memahami bahwa nubuat nabi sangat besar kedudukannya dalam hidup orang Israel. Dalam hal kesaksian penulis Injil tentang Yesus, tanpa nubuat nilainya kecil bagi bangsa Israel, tetapi dengan didukung nubuat maka nilainya menjadi sangat besar. Oleh karena itu dalam bagian ini Matius menjelaskan bahwa TUHAN memperkenalkan Yesus sebagai Hamba-Nya.

Dengan kata “Lihat” (ay. 18)

Kata lihat dalam bahasa Yunani VIdou. (idou). Ini adalah partikel kalimat dari kata dasar ivdou, (idou). Digunakan sebagai partikel demonstrative apabila menekankan demikian. Dapat diterjemahkan dengan bervariasi, tetapi dalam teks ini terjemahan “lihat” yang lebih tepat.

Sebagai partikel demonstrative berarti ingin menunjukkan atau menekankan perihal Hamba TUHAN atau Yesus yang ditunjukkan pada kata berikutnya. Dengan kata lain dalam berita itu kata yang ditunjuk oleh partikel demonstrative ini sangat penting atau yang paling penting kedudukannya dalam kalimat atau berita tersebut.

Hal ini jelas dengan kata yang menyusulnya berkasus nominative (o` pai/j ho pais). Menurut Friberg fungsinya untuk membangkitkan perhatian dari orang yang mendengar; untuk memperkenalkan sesuatu atau seseorang yang baru atau yang luarbiasa; untuk meminta pertimbangan atau perhatian yang lebih. Tentunya semua ini bertumpu pada Hamba TUHAN itu. Kedudukan-Nya, kedatangan-Nya, tugas-Nya, karakter-Nya, dan keberhasilan-Nya sangat penting. Itu semua sudah digenapi dalam Yesus.

Dengan kata “Hamba” (ay. 18)

TUHAN memperkenalkan orang pilihan-Nya dengan istilah “Hamba”. Istilah ini sudah cukup luas dijelaskan dalam Bab II. Penulis dalam bagian ini hanya ingin memberikan pengertian yang berhubungan langsung dengan istilah “Hamba” yang digunakan dalam teks ini. Menurut Thayer istilah ini digunakan untuk orang yang melaksanakan maksud Allah. Dalam Perjanjian Baru itu menunjuk kepada Yesus. Yesus adalah Mesias (Matt. 12:18 dari Yes. 42:1; Kis. 3:13, 26; 4:27,30).

Menurut ISBE, apapun komentar atau pendapat orang tentang siapa Hamba TUHAN dalam nubuat nabi Yesaya, kita harus menyetujui bahwa lukisan itu dengan kuat telah direalisasikan atau digenapi dalam diri seseorang yang berbicara pada dunia dari salib di Kalvari. Dengan demikian tafsiran yang tidak bisa berbeda adalah Hamba TUHAN itu menunjuk kepada Yesus Kristus atau Mesias. Mungkin benturan atau masukan yang paling menonjol dalam injil ini adalah fakta penegasan bahwa Yesus adalah Raja Israel yang dijanjikan, itu juga menghadirkan perwujudan-Nya sebagai Hamba. Hanya di dalam Yesus kemuliaan dan kerendahan, kuasa dan kelembutan dikombinasikan dengan sempurna.

Dengan cara yang berbeda tetapi maksud yang sama WBC menyampaikan bahwa kalimat Yesaya 42:1 dipakai beberapa kali oleh Matius. Sebelumnya pada saat pembaptisan Yesus (3:17) dan juga pada saat transfigurasi atau pemuliaan Yesus (17:5). Kalimat itu dimengerti sebagai suatu deklarasi yang menunjuk hubungan-Nya yang khusus dengan Allah. Walaupun kedua bagian tersebut bukan menggunakan kata pai/j (pais), artinya hamba, seperti yang digunakan pasal 12:18. Melainkan memakai kata ui`o,j (huios), artinya anak. Bagi orang Yahudi zaman Matius, perbedaan itu tidak menjadi masalah, karena kedua kata itu dalam bahasa Ibrani berasal dari kata yang sama db,[, (‘ebed) artinya hamba.

Jadi dari istilah Hamba yang digunakan dalam teks ini menunjuk kepada Yesus yang adalah Mesias sebagai Hamba untuk melaksanakan maksud Allah Bapa dan juga menunjukkan hubungan yang istimewa antara Yesus dengan Allah Bapa.

B. TUHAN Menyatakan Relasi-Nya dengan Hamba TUHAN

Tokoh utama dalam kutipan ini adalah Hamba TUHAN, tetapi Dia tidak memperkenalkan diri-Nya sendiri. TUHANlah yang berinisiatif memperkenalkan Hamba-Nya. Pertanyaan penting yang muncul adalah bagaimana relasi TUHAN dengan Hamba-Nya? Relasi ini sangat penting untuk dipahami karena sangat menentukan dalam keberhasilan Hamba TUHAN dalam melaksanakan tugas-Nya.

Memilih Hamba-Nya (dengan kata “pilih” ay. 18)

Relasi TUHAN dengan Hamba TUHAN dalam bagian ini ditunjukkan dengan kata “pilih” atau “memilih”. Istilah ini dalam bahasa Yunani h`|re,tisa (heretisa). Bentuknya kata kerja indikatif aktif aoris, dari kata dasar ai`reti,zw (hairetizo), artinya memilih. Sedangkan Louw Nida menambahkan kata ini berarti memilih dengan maksud menyatakan kesukaan atau kebaikan yang istimewa pada orang yang dipilih.

Sesuai dengan modusnya, indikatif, menunjukkan bahwa kata kerja ini sesuai dengan realitanya, dan kala/tense aoris bahwa pilihan TUHAN kepada Hamba-Nya sudah terjadi. Jadi artinya secara eksegetis adalah TUHAN benar-benar telah memilih Hamba TUHAN.

Keberadaan Hamba TUHAN dipilih oleh TUHAN menunjukkan pengertian pertama, bahwa ada hubungan yang erat antara TUHAN dengan Hamba TUHAN. Hal ini bisa kita pahami Allah Bapa dengan Yesus yang mempunyai hubungan erat. Yesus mengatakan dalam Injil bahwa Allah adalah Bapa-Nya (Mat. 6:9; 11:25, 26,27; 24:36; 28:19, dan lain-lain). Kedua, Hamba TUHAN mempunyai keistimewaan yang tidak dipunyai orang lain. Keistimewaan ini yang membuat TUHAN memilih-Nya. Keistimewaan itu akan nyata pada penjelasan-penjelasan berikutnya.

Mengasihi Hamba-Nya (ay. 18)

Relasi TUHAN dengan Hamba TUHAN dalam bagian ini ditunjukkan dengan kata dalam bahasa Yunani avgaphto,j (agaphetos), kata ganti orang yang menggunakan kata sifat, kasusnya nominatif atau subjek. Artinya secara eksegesis adalah kekasih atau terkasih, dalam konteksnya kekasih TUHAN. Jadi dalam versi ITB (yang Kukasihi) sudah lebih kepada tafsiran dari pada terjemahan, karena Ku (TUHAN, dalam bentuk kata ganti orang pertama, kasus genitif (pemilik), bukan kasus nominatif seperti yang diterjemahkan ITB. Jadi frase o` avgaphto,j mou (ho agapetos mou) berarti “Kekasih-Ku” atau “Terkasih-Ku”. TUHAN menyatakan bahwa Hamba TUHAN adalah kekasih-Nya atau orang yang terkasih.

Menurut Friberg, agapetos dalam bentuknya sebagai kata benda bukan hanya berarti dikasihi dengan besar (great), melainkan juga istimewa, hanya satu dalam kelas atau golongan itu. Ini menunjukkan relasi yang sangat erat antara Hamba TUHAN dengan TUHAN, atau antara Yesus dengan Allah Bapa. Hanya ada satu relasi yang erat sedemikian, tidak ada lagi bandingannya.

Hal yang senada dua kali dikatakan Matius di bagian yang lain. Pertama, pasal 3:17 dalam konteks ketika Yesus dibaptis. Pada waktu itu yang menjadi saksi baptisan adalah Yohanes Pembaptis dan orang-orang yang ada di tempat itu. Sedangkan para murid belum dapat dipastikan apakah mereka juga menyaksikan hal itu karena pada waktu itu mereka belum dipilih oleh Yesus. Walaupun demikian tidak sulit bagi Matius untuk mengetahui peristiwa itu karena banyak yang menyaksikan.

Kedua, pasal 17:5 dalam konteks Yesus dimuliakan di gunung. Pada waktu itu yang menjadi saksinya adalah Petrus, Yakobus dan Yohanes saja. Penulis menafsirkan bahwa kutipan Matius ini untuk menguatkan relasi itu dalam pandangan para pembacanya, karena itu secara eksplisit dalam pasal 12:17 dia mengatakan supaya genaplah firman yang disampaikan nabi Yesaya. Ini hendaknya menjadi perhatian para pembacanya supaya mereka menerima Yesus sebagai Mesias-Raja.

Senang pada Hamba-Nya (dengan kata “jiwa-Ku senang” ay. 18)

Relasi TUHAN dengan Hamba TUHAN dalam bagian ini ditunjukkan dengan istilah euvdo,khsen (eudokesen), kata kerja indikatif aktif, aoris orang ketiga tunggal dari kata dasar euvdoke,w (eudokeo). Orang ketiga tunggal yang dimaksud adalah jiwaku, karena jiwa dalam kasus nominatif.

ITB menterjemahkan frase ini kurang ekspresif (kepada-Nya jiwa-Ku berkenan). Kata berkenan bisa mempunyai pengertian mengijinkan, yang dalam bahasa Yunaninya suggnw,mh (sungnome) yang artinya permission atau ijin. Seseorang mengijinkan sesuatu bisa tidak ada hubungan dengan kesenangannya, bisa juga karena terpaksa. Seharusnya kata eudokesen diterjemahkan dengan kata senang.

Terjemahan dalam kebanyakan versi bahasa Inggris untuk kata ini lebih tepat: KJV diterjemahkan dengan bentuk pasif , is well pleased (disenangkan dengan baik); ASV, is well pleased (disenangkan dengan baik); NAS, is well-pleased (disenangkan dengan baik, dan dalam beberapa versi lain dalam bahasa Inggris); NIV, delight (senang); NLT, pleases (menyenangkan). Ini menunjukkan bahwa Allah Bapa sejak awal sudah senang atau mendapat kesenangan di dalam Yesus. Hal ini seperti seseorang yang senang atau gembira atau disukacitakan dengan melihat sahabat karibnya, kekasihnya atau orang yang dicintainya. Sehingga orang itu mau memberikan miliknya dengan murah hati atau berlimpah kepada orang yang disenanginya.

Dengan kalimat lain, Yesuslah yang membuat hati atau jiwa Allah Bapa senang atau berbahagia. Sehingga wajar bila Allah Bapa memberikan Roh-Nya dan kuasa-Nya kepada Yesus. Dampaknya bagi manusia adalah Allah Bapa senang kepada seseorang apabila orang itu ada di dalam Yesus. Dengan cara yang berbeda rasul Yohanes pernah menuliskan hal ini, bahwa tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Yesus (Yoh. 14:6). Frase ini mengukuhkan kemesiasan Yesus.

Meletakkan Roh-Nya Atas Hamba TUHAN (ay. 18)

Relasi TUHAN dengan Hamba TUHAN dalam bagian ini ditunjukkan dengan frase qh,sw to. pneu/ma, mou evpV auvto,n (theso to pnuma mou ep’ autov), artinya Aku akan menempatkan atau memberikan Roh-Ku kepada atau di atas Dia. Dari frase ini yang menarik adalah kata pneuma (Roh). Kata ini bisa berarti hembusan, napas, angin, roh yaitu sebagian dari pribadi manusia, roh sebagai suatu keberadaan yang bebas, Roh yang membedakan Allah dengan manusia atau yang bukan Allah.

Tetapi menurut penulis arti yang dimaksud dalam bagian ini adalah Roh Allah (Holy Spirit). Kehadiran Roh Allah menandai pelayanan Mesias sebagai Hamba TUHAN. Roh Allah yang akan memimpin Mesias untuk melaksanakan tugas-Nya, menyatakan hukum dan keadilan. Oleh karena itu kehadiran Roh Allah sangat penting dalam pelayanan Yesus.

Dalam bagian ini nampak ketiga oknum Allah Tritunggal sekaligus yang menunjukkan relasi-Nya yang erat. Henry dengan cara pandang yang berbeda mengatakan bahwa Allah menjanjikan Roh-Nya kepada Yesus. Roh Allah diberikan atas Yesus sebagai tanda Allah Bapa mengurapi-Nya dan memberikan kuasa kepada-Nya. Sehingga dalam jalan-Nya akan berhasil. Roh itu seperti Roh hikmat dan nasihat dalam Yes. 11:2,3.

Mereka yang Allah panggil untuk pelayanan apapun dengan urapan Roh-Nya akan cocok dan berkualitas untuk itu. Begitu juga Kristus dalam kuasa dan kemuliaan sama dengan Allah Bapa. Sebagai Mediator, Dia menerima dari Bapa kuasa dan kemuliaan, dan karena itu Dia dapat memberikannya kepada siapa Dia mau memberikannya. Semua yang Bapa berikan pada-Nya untuk melayakkan atau memampukan-Nya untuk melakukan tugas pelayanan-Nya. Hal ini disimpulkan dengan Allah Bapa memberikan Roh-Nya atas Yesus. Ini adalah minyak sukacita yang mana dengan itu diurapi di atas para murid-Nya (Ibr. 1:9). Dia menerima Roh Allah tanpa batasan (Yoh.3:34).

C. Tugas Hamba TUHAN menyatakan Hukum (ay. 18)

Matius menjelaskan kepada bangsanya bahwa Yesus adalah Hamba TUHAN, Mesias atau Kristus yang sesungguhnya, yang telah lama dinanti-nantikan bangsanya. Hal ini sangat nyata dari tugas utama Hamba TUHAN itu. Tugas Hamba TUHAN adalah menyatakan hukum. Dalam bahasa Yunani kri,sin (krisin) bentuknya kata benda, kasus akusatif atau berfungsi sebagai objek langsung dan tunggal, dari kata dasar kri,sij (krisis). Kata ini bisa berarti penghakiman, penghukuman, kebenaran.

Menurut penulis, dalam bagian ini tepatnya mempunyai makna sebagai ukuran atau standard yang mana penghakiman dan penilaian-penilaian dibuat benar atau adil. Memutuskan keputusan yang sah/legal benar atau salah seseorang; menentukan tidak bersalah atau bersalah untuk memberikan penghargaan atau hukuman. Keputusan yang sah menurut hukum sehingga mempunyai kekuatan dan harus dilaksanakan.

Sedangkan menurut Thayer, opini atau keputusan tentang semua hal, khususnya tentang adil atau tidak adil, benar atau salah. Kata ini bagi orang Ibrani berarti hukum, perintah, dan lain-lain (Maz. 19:9; 119:29-30). Itu berarti seluruh sistem kebenaran; hukum Allah dalam hal yang umum; maksud, rencana atau penghakiman Allah tentang kewajiban manusia atau perbuatan manusia.

Tetapi dalam bagian ini dengan sangat jelas bahwa hukum itu berarti sistem dari “kebenaran Injil”; rencana Kristen. Dengan hukum (krisin) berarti kerajaan Allah telah berlangsung, sebab Kristus memproklamasikan agama yang benar di antara bangsa-bangsa, dan membuang tahyul; dan dimana saja hal ini dilakukan, Tuhan dikatakan memerintah di sana, dan membuat peratuan.

Jadi berbicara tentang Hamba TUHAN menyatakan hukum, berarti penegakan Kerajaan Allah. Di mana Allah menjadi Raja dan hakim yang memberikan krisin kepada bangsa-bangsa. Matius sudah menunjukkan bukti hal ini dalam pasal 5-7. LAI memberi judul bagian tersebut “Khotbah Di Bukit”. Pada akhir bagian tersebut Matius dengan jelas menuliskan kesan para pendengar bahwa mereka dibuat kagum atau heran oleh Yesus dengan pengajaran-Nya (Mat. 7:28-29).

Menurut sebagian orang Khotbah Di Bukit merupakan hukum yang tidak realistis, tetapi menurut yang lain bahwa itu adalah hukum Kerajaan Sorga dan akan digenapi pada waktu yang akan datang (Kerajaan itu digenapi dengan sempurna). Setiap orang yang menjadi anggota kerajaan itu harus hidup sesuai dengan hukum tersebut.

Matius meyakinkan kepada para pembacanya bahwa hal ini sudah mulai digenapi oleh Yesus dalam pelayanan-Nya di dunia, dan Yesus akan menggenapi ini secara penuh atau sempurna saat kedatangan-Nya kedua kali (eskatologi) tidak lagi sebagai hamba melainkan Raja yang menghakimi seluruh dunia (bnd. Mat. 23:39).

D.    Luas Pelayanan Hamba TUHAN kepada bangsa-bangsa (etnos, ay. 18)

Kata bangsa-bangsa dalam bahasa Yunani e;qnesin (etnesin) kata benda, jamak dari kata dasar e;qnoj (etnos). Mempunyai arti bangsa, sekelompok orang yang biasa hidup bersama. Jamaknya bangsa-bangsa non-Yahudi, bangsa-bangsa kafir yang menjadi Kristen.

Menurut Yesaya 42:1, Hamba TUHAN itu akan menghakimi bangsa-bangsa. Matius melihat hal itu hanya digenapi dalam Yesus. Walaupun secara umum Injilnya difokuskan untuk bangsanya, tetapi juga banyak ditemui dalam injilnya interaksi Yesus dengan orang-orang non-Yahudi, misalnya kedatangan orang-orang Majus dari timur. Orang Majus adalah suku bangsa Medi, sebagian dari warga kekaisaran Persia, tempat yang sangat jauh dari Betlehem (2:1).

Dari bagian ini nampak dengan jelas sejak awal bahwa Injil Matius sangat terikat atau terpadu pada tujuan utamanya yaitu menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias atau Raja yang dinanti-nantikan itu. Yesus juga menubuatkan ajaran-Nya (Injil Kerajaan) akan disampaikan di seluruh dunia atau kepada semua bangsa (24:14, 30; 25:32; 29:19). Hal ini akan digenapi Yesus secara penuh pada waktu eskatologi, yaitu kedatangan-Nya kedua kali. Yesus bukan hanya akan memerintah atau menghakimi (memberi krisin atau hukum) bangsa Israel tetapi semua bangsa yang awalnya tidak percaya kepada-Nya. Tidak ada bangsa yang tidak tunduk kepada-Nya.

E. Cara Hamba TUHAN Melayani (ay. 19)

Peristiwa yang melatarbelakangi teks ini menjelaskan bahwa orang-orang Farisi bersepakat hendak membunuh Yesus. Yesus menanggapi hal itu dengan menghindari mereka dengan cara berpindah dari tempat itu. Bahkan Dia melarang orang-orang yang mengalami kuasa mujizat-Nya untuk menceritakan hal itu kepada orang lain (12:15-16). Sepintas hal ini dilihat sebagai Yesus takut akan ancaman orang-orang Farisi. Sebenarnya ini menunjukkan kedatangan Yesus yang adalah Mesias sebagai Hamba, yang mengalah. Tetapi apa yang tidak diharapkan dari cara Mesias itu menyatakan diri-Nya justru menggenapi nubuat perjanjian Lama. Hal itu justru menjadi alasan bagi Matius mengutip Yesaya 42:1-4 untuk menjelaskan bahwa Yesus adalah Mesias yang telah dinubuatkan itu.

Penulis yakin Matius mengetahui bahwa bangsanya kurang memperhatikan atau tidak dapat menerima Mesias itu sebagai Hamba TUHAN yang sabar dengan kelemahan, sakit penyakit dan penderitaan. Itu semua menurut mereka adalah akibat dosa. Sehingga wajar orang-orang demikian menanggung penderitaan. Mereka juga tidak dapat menerima Mesias itu sebagai Hamba TUHAN yang sabar dengan orang banyak yang berdosa. Menurut mereka, ini lebih menunjukkan kepada kelemahan dari pada kekuatan Mesias. Menurut konsep orang Yahudi, dosa mendatangkan kutuk atau hukuman.

Hamba TUHAN atau Mesias akan datang dengan kekuatan-Nya dan menghukum orang-orang berdosa dan orang-orang berdosa pada waktu itu menurut mereka adalah orang-orang Roma yang menyebabkan penderitaan yang berat bagi mereka sebagai umat TUHAN. Menurut konsep mereka dan sesuai konteks teks ini, istilah Hamba TUHAN berarti seseorang yang bekerja untuk keperluan Tuan-Nya, untuk melaksanakan kehendak Tuan-Nya.

Sehingga dengan hadirnya Mesias, Ia akan melaksanakan kehendak TUHAN Allah kepada orang-orang lemah (orang Yahudi waktu itu), maka hasilnya mereka akan mengalami kemerdekaan secara politis dari jajahan Romawi. Namun sampai Yesus mati, bangkit dan naik ke surga hal itu tidak terjadi, sehingga mereka tidak mau menerima Yesus sebagai Hamba TUHAN atau Mesias itu.

Pengharapan demikianlah yang direfleksikan dalam kitab Mazmur dan Nabi-nabi adalah seorang Mesias sebagai Raja salah satu dari keturunan raja Daud yang akan mengambil alih kembali tahta ketika Allah mendirikan kembali kerajaan-Nya bagi Israel. Kebanyakan orang percaya bahwa Allah agaknya akan campur tangan menghancurkan pemerintahan Roma supaya Kerajaan Mesias dapat terjamin atau aman. Banyak orang berpikir bahwa campur tangan ini akan digenapi melalui kekuatan fisik. Berbagai macam figur mesias muncul dalam abad pertama di Palestina yang mengharapkan suatu mujizat intervensi dari Allah, tetapi semuanya dihancurkan tentara Roma. Hanya Yesus yang mengklaim akan bangkit dari kematian.

Oleh karena itu dia mengutip bagian ini, Hamba TUHAN tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak (ay. 19). Supaya bangsa Yahudi jangan mengabaikan pengalaman Yesus yang telah menyembuhkan banyak orang sakit dan menerima atau mengampuni banyak orang berdosa. Supaya mereka jangan mengambaikan penderitaan dan kematian di salib demi keselamatan mereka, karena itu semua sudah dinubuatkan nabi Yesaya.

Dalam bagian ini dijelaskan cara Hamba TUHAN itu melayani. Dalam versi ITB dikatakan “Ia tidak akan berbantah”, dalam bahasa Yunani evri,sei (erisei), bentuk kata kerja indikatif future aktif, dari kata dasar evri,zw (erizo). Erizo mempunyai arti bertengkar (quarrel, wrangle). Melawan dengan marah, berdebat dengan kata-kata yang kasar. Kata ini didahului partikel negatif yang berarti tidak. Jadi Yesus dalam peristiwa tersebut tidak melawan dengan kasar atau marah, dan tidak berdebat.

Frase berikutnya menurut versi ITB adalah “dan tidak akan berteriak”. Kata Yunani yang digunakan untuk berteriak adalah krauga,sei (kraugasei), mempunyai bentuk yang sama dengan kata kerja sebelumnya, dari kata dasar krauga,zw (kraugazo), artinya berteriak atau berteriak dengan keras. Dalam bahasa Arab, pengertian aslinya “bersuara seperti guntur atau guruh”. Pengertian dasar ini maksudnya untuk memanggil atau berteriak demi pertolongan karena dalam tekanan yang besar atau teriakan dalam kegembiraan yang besar (bnd. 2 Raj. 2:12; 4:40; Ul. 22: 23-27; Kel. 17:4). Kata ini juga didahului partikel negatif, sehingga artinya tidak berteriak atau tidak berteriak dengan keras.

Nampaknya Matius ingin menunjukkan perbandingan antara orang-orang Farisi yang keras atau berapi-api baik dalam pengajaran maupun tindakan dengan Yesus yang mengalah. Jadi makna dari Yesus tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak adalah bahwa Dia mengalah, Dia tidak mencari pembelaan dari orang lain, bahkan Dia tidak membela diri-Nya sendiri. Dia juga tidak menyerang orang-orang Farisi atau orang-orang yang membenci-Nya dengan kata-kata.

Dia tidak mempermalukan mereka di depan umum, walaupun hal ini mudah dilakukan-Nya. Bahkan dalam kesempatan-kesempatan tertentu mereka sudah merasa malu mendengar ajaran dan jawaban Yesus atas pertanyaan mereka, tentunya hal ini dilakukan bukan maksud menyerang mereka melainkan mengajar supaya mereka bertobat dan orang banyak mengetahui kebenaran yang sesungguhnya (Mat. 12:1-5, 12; 22:15-22; Luk. 11:42-43, dan lain-lain). Yesus menghindari orang-orang Farisi bahkan membiarkan diri-Nya ditangkap dan disalibkan.

Bukti lain Yesus menggenapi nubuat ini adalah pada waktu malam penangkapan Yesus di taman Getsemani, Yohanes menulis ketika Yesus menjawab pertanyaan orang-orang yang hendak menangkap-Nya, “Akulah Dia,” maka mundurlah mereka dan jatuh ke tanah (Yoh. 18:6). Ini menunjukkan bahwa Yesus sebenarnya mampu bertindak dengan keras kepada orang-orang Farisi tetapi Dia tidak melakukannya karena Dia adalah Hamba TUHAN yang menggenapi nubuat Yesaya tersebut. Yesus tidak dating dengan cara kekerasan sekalipun kepada orang-orang yang memusuhi-Nya.

Yesus menghindar dari orang-orang Farisi bukan karena Dia takut kepada mereka, tetapi Dia mengalah demi rencana Allah Bapa terlaksana dalam hidupnya. Ini menunjukkan bahwa kematian Yesus bukan karena kehebatan orang-orang yang memusuhi-Nya. Melainkan itulah waktu dan cara yang Allah Bapa telah rencanakan.

Pemimpin-pemimpin Yahudi menolak Yesus. Walaupun Dia datang demi keselamatan dan berkat bagi Israel, namun Dia tidak mau memaksa atau berbantah dengan mereka. Jika bangsa itu menolak-Nya, namun Yesus masih mencari kesempatan agar ada pribadi-pribadi yang menerima Dia, hidup dalam kerajaan-Nya secara rahasia. Alangkah luarbiasanya bahwa Yesus masih ingin menyambut pribadi-pribadi. Ini menandakan bahwa Kerajaan-Nya masih eksis sampai hari ini.

F. Kesabaran Hamba TUHAN Melayani (ay. 20)

Dalam bagian ini Matius menekankan sifat yang ditunjukkan Hamba TUHAN itu dalam pelayanan-Nya. Hal ini bertolak belakang dengan sifat para pemimpin atau raja-raja duniawi. Jikalau mereka hanya ingin mendapatkan yang terbaik, terkuat, termahal, terindah, pintar, hebat dan semua hal yang menyenangkan hati mereka, dan menolak bahkan membinasakan yang buruk, lemah, sakit, miskin, tak terdidik.

Hal ini ditunjukkan oleh raja Nebukadnezar saat mengangkut para tawanan dari Yehuda ke Babel. Dia hanya mengangkut yang baik, sehat, kuat, kaya, dan terdidik sedangkan yang lemah ditinggalkannya (2 Raj. 24:14-16).

Namun hal ini berbeda dengan sifat yang ditunjukkan Mesias, Hamba TUHAN yang dinubuatkan itu. Menurut Matius, Hamba itu adalah Yesus. Hal ini sesuai dengan nubuat Yesaya. Matius mengutip bahwa Mesias itu tidak akan “memutuskan buluh yang patah”. Kata buluh dalam frase ini bahasa Yunaninya ka,lamon (kalamon) dari kata dasar ka,lamoj (kalamos), artinya buluh. Di Mesir tumbuhan ini bisa tumbuh duabelas kaki, tipis, tumbuh di daerah rawa dan berkumpul seperti bambu, akan berbaring atau rebah bila dihembus angin yang keras kemudian tegak kembali pada posisi semula. Disebut juga “Paper reeds” (buluh kertas atau buluh untuk kertas).

Di Palestina buluh ini sangat banyak ditemui di sepanjang sungai Yordan. Bagi masyarakat Palestina sudah biasa dengan buluh ini. Tingginya bisa mencapai duapuluh kaki. Di musim panas dia tetap berwarna hijau segar sementara tumbuhan lain mulai kering dan mati. Di musim semi buluh-buluh itu akan terlihat sangat indah ketika setiap ujung atau pucuknya dimahkotai bunga yang mekar dan indah seperti mahkota sutra keperakan yang berkilau. Banyak binatang dan burung yang bisa berlindung di dalam tempatnya. Ini digunakan untuk mengilustrasikan kelemahan (2 Ra. 18:21; Yeh. 29:6) dan keadaan seseorang yang berubah-ubah atau ketidakstabilan (Mat. 11:7). Dalam teks ini buluh menggambarkan orang percaya yang lemah tetapi dalam kasih karunia.

Begitu juga Hamba TUHAN itu tidak akan memadamkan sumbu yang pudar nyalanya (ITB, “dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya”). Frase “buluh yang patah terkulai” dan “sumbu yang pudar nyalanya” mempunyai makna yang sama. Sebagian orang berpendapat bahwa buluh dan sumbu tersebut adalah para musuh-Nya, yang sebenarnya dengan sangat mudah dibinasakan-Nya (diputuskan dan dipadamkan). Tetapi Dia tidak melakukan demikian sebelum waktunya. Menurut penulis pendapat ini sangat dipaksakan atau tidak tepat. Yesus tidak menginginkan kebinasaan seseorang, melainkan pertobatannya supaya selamat. Dalam teks ini tidak ada berbicara tentang musuh Yesus.

Maksud Matius mengutip teks tersebut untuk menjelaskan demikianlah Yesus dalam pelayanan-Nya, menunjukkan kesabaran yang sangat besar. Sangat berbeda dengan para pemimpin duniawi yang seringkali menggunakan kekerasan supaya maksud mereka cepat tercapai atau pelayanan orang-orang Farisi pada waktu itu, yang mau menakut-nakuti atau menambah berat beban umat dengan nama taurat demi kepentingan mereka (Mat. 23:4).

Buluh yang patah terkulai dan sumbu yang pudar nyalanya adalah metaphor dari orang-orang yang lemah, secara fisik (sakit, cacat), ekonomi (miskin, melarat), status (budak/hamba, rakyat biasa, orang yang tidak terdidik, pemungut cukai, pelacur), kerohanian (orang-orang berdosa, orang yang kerasukan setan), mereka yang ditolak, yang dinilai rendah dalam masyarakat, justru disembuhkan, dihibur, dikuatkan, diterima, diampuni dan dibuat-Nya berharga. Buluh yang patah terkulai dan sumbu yang telah pudar melambangkan mereka yang mengharapkan kenyataan berkat-berkat eskatologi dan kejayaan hukum. Tetapi pada waktu itu Mesias dating sebagai Hamba, bukan sebagai Hakim. Supaya Dia bisa merangkul mereka yang ditolak, yang miskin dan orang orang berdosa (bnd. 9:13). Dalam pasal sebelumnya Yesus sudah memanggil orang-orang yang letih lesu dan berbeban berat. Dia berjanji akan memberi kelegaan kepada mereka. Dia lemah lembut dan rendah hati, setiap orang yang datang kepada-Nya akan mendapat ketenangan jiwa (Matthew 11:28-30).

Bahkan Paulus mengatakan dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus bahwa yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. Kekuatan dan keistimewaan buluh atau orang-orang yang lemah itu hanya bila mereka tetap di dalam Yesus.

G. Keberhasilan Hamba TUHAN (ay. 20)

Penjelasan-penjelasan di atas menyampaikan bahwa Hamba TUHAN melaksanakan tugas utamanya untuk menyatakan hukum. Dia melaksanakannya dengan pimpinan Roh TUHAN, dengan kelemahlembutan, dan dengan kesabaran. Itu semua akan membuat Dia berhasil dalam tugas. Dalam bagian ini penulis memperlihatkan keberhasilan yang dicapai Hamba TUHAN itu.

Hamba TUHAN akan menjadikan hukum menang (ay. 20)

Pelayanan Hamba TUHAN yang dilaksanakan dengan cara Mesias atau Raja yang menghamba (Mat. 18:4; 20:28; 23:11; Mar. 10:44,45), akhirnya berhasil mencapai maksud TUHAN bagi dunia ini. Versi ITB menggunakan sampai Ia menjadikan hukum itu menang.” Kata menang dalam bahasa Yunani ni/koj (nikos) artinya menang (victory). Ini adalah berita yang baik. Hukum yang diajarkan-Nya kepada Israel dan mereka tolak, tetapi yang diterima bangsa-bangsa akan menang. Dia akan berkelanjutan menaklukkan setiap hati dan setiap tempat yang telah mendengar-Nya. Yesus mengatakan “Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” (Mat. 24:14).

Injil yang ditolak oleh orang-orang Yahudi tidak mati atau berhenti di Yerusalem, tetapi justru diberitakan ke seluruh bangsa. Bahkan sepintas dalam sejarah awal gereja dalam Kisah Para Rasul diceritakan, karena penolakan dan aniaya orang-orang Yahudi, maka para murid dan orang-orang percaya berserak ke semua bangsa yang mereka datangi membawa Injil Kerajaan Allah di mana Yesus adalah Raja yang yang menjadi pusat pemberitaan injil tersebut.

Dalam Wahyu 6:2 dikatakan bahwa Dia akam meneruskan penaklukkan-Nya untuk menaklukkan. Keduanya, yaitu Injil yang dikhotbahkan kepada dunia dan kuasa Injil di dalam hati, akan terlaksana. Kasih karunia akan dijunjung dan akan disempurnakan di dalam kemuliaan. Hukum Kristus akan menang, karena ketika Dia menghakimi, Dia akan menghakimi dengan kebenaran. Kebenaran dan kemenangan mempunyai banyak kesamaan, karena besarlah kebenaran dan akan terlaksana.

Pada nama Hamba TUHAN bangsa-bangsa akan berharap (ay. 21)

Oleh karena keberhasilan Hamba TUHAN dalam menegakkan hukum, maka bangsa-bangsa akan berharap terus kepada-Nya. Makna Hamba TUHAN menegakkan hukum berarti bahwa Hamba TUHAN adalah Mesias-Raja yang menghakimi bangsa-bangsa dengan hukum-Nya. Karena hal ini dijalankan-Nya dalam kebenaran, maka bangsa-bangsa akan terus berharap pada nama-Nya. Bangsa-bangsa sudah melihat hasil penegakkan hukum oleh Hamba TUHAN, ada damai sejahtera atau syalom. Maka bangsa-bangsa ingin hal itu berkelanjutan.

Hal ini juga merupakan undangan bagi semua bangsa atau bagi dunia untuk menerima Yesus menjadi Penyelamat dan Raja mereka. Sejak awal dalam kitabnya, Matius sudah menceritakan tentang orang-orang Majus yang dituntun oleh pikiran (ilmu) dan hati mereka, sehingga mereka menemukan Yesus. Tentunya setiap keputusan yang mereka buat baik dalam hati maupun langkah mereka adalah dalam pimpinan Allah. Terlebih lagi saat ini dengan perintah bagi orang percaya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia, ini menunjukkan bahwa ada undangan bagi semua bangsa.

Mereka berharap kepada nama Hamba TUHAN. Istilah nama dalam bahasa Yunani ovno,mati (onomati) dari kata dasar o;noma (onoma). Secara umum artinya nama, tetapi juga gelar, pribadi, reputasi, menunjuk kepada Allah atau Yesus sebagaimana dinyatakan melalui seluruh atribut-Nya. Siapakah nama Hamba TUHAN itu? Matius dengan jelas menyebutkan Yesus (Mat. 1:16,21,25; 2:1) disebut juga Yesus Kristus (Mat. 1:1,16,17,18; 11:2; 27:17,22 ); Yesus dari Nazaret (Mat. 21:11; 26:71); Yesus Anak Daud (Mat. 1:1; 9:27; 12:23; 15:22; 20:30,31; 21:9,15; 22:42).

Dia akan menunjukkan hukum kepada mereka, bahwa mereka akan memperhatikan dan mengobservasi apa yang Dia tunjukkan pada mereka, dan dipengaruhi dengan itu untuk bergantung pada-Nya, membaktikan diri mereka pada-Nya dan berpihak pada hukum itu. Rancangan Injil yang besar adalah membawa orang untuk percaya kepada nama Yesus Kristus. Nama Yesus, Penyelamat, nama yang indah di mana Dia dipanggil, Tuhan Kebenaran kita.

Kesimpulan

Injil Matius, ditulis oleh seorang Ibrani dari suku Lewi (yang menjadi namanya sendiri), setelah bertobat atau menjadi murid Yesus, dia lebih sering dipanggil Matius (sesuai nama Injilnya). Beban atau kerinduannya yang paling dalam kelihatan dalam Injilnya, yaitu supaya orang-orang sebangsanya bahkan bangsa-bangsa lain juga percaya kepada Yesus sebagai Kristus (dalam bahasa Yunani) atau Mesias (dalam bahasa Ibrani) yang artinya secara harfiah yang diurapi. Tetapi ini dia gunakan untuk memperkenalkan bahwa Yesus adalah Raja orang Yahudi dan Raja segala raja yang telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya.

Sebagai saksi mata dari pelayanan Yesus di dunia tentunya berita yang dituliskannya mempunyai keabsahan yang sepantasnya tidak bisa diragukan. Tetapi bagi orang Yahudi, suatu peristiwa yang sudah terjadi, yang jauh sebelumnya sudah dinubuatkan oleh para nabi sungguh mempunyai keabsahan atau kekuatan yang lebih. Bagi orang Yahudi nubuat diucapkan oleh karena dorongan Roh Kudus kepada nabi yang mengucapkannya (2 Pet. 1:21), dan digenapi oleh Allah dalam sejarah. Sehingga suatu peristiwa yang sudah dinubuatkan terlebih dahulu sangat kuat kebenarannya. Hal inilah yang dinyatakan oleh Matius tentang Yesus.

Apa yang dilakukan Yesus dalam pelayanan-Nya adalah sudah dinubuatkan oleh Yesaya. Pada waktu itu Yesaya berbicara tentang Hamba TUHAN, yaitu kedatangan Mesias-Raja yang menghamba. Menurut Matius Yesus adalah penggenapannya. Yesuslah Mesias-Raja itu. Tetapi sampai zaman Matius menulis Injilnya bahkan sampai saat ini Israel secara nasional (bangsa) belum percaya kepada Yesus sebagai Mesias-Raja itu. Oleh karena itu Matius menulis Injilnya dengan cara yang berbeda dari ketiga penulis Injil lain. Dia lebih banyak mengutip Perjanjian Lama dibandingkan para penulis Injil lainnya.

Matius 12:18-21 menyampaikan suatu gambaran yang sangat indah tentang Yesus sebagai Mesias-Raja yang dinubuatkan itu. Penyataan ini akan semakin jelas dan dalam apabila dikaji dengan sungguh-sungguh. Dengan menggunakan penafsiran Sensus Plenior dan eksegese yang hati-hati maka dapat dilihat Yesus, Hamba TUHAN yang luar biasa itu sudah ada dalam hati Allah. Seluruh keberadaan-Nya, Roh Allah yang diberikan kepada-Nya, sifat/karakter, perkataan, perbuatan, pelayanan dan hasil yang dicapai-Nya sudah ada dalam hati Allah ratusan tahun sebelum terjadi. Bahkan hasilnya yang sempurna pada masa eskatologi nanti (di mana semua bangsa akan tunduk di bawah hukum-Nya atau berharap kepada nama-Nya) ketika Dia datang kedua kali sudah ada dalam hati Bapa.

Matius menyampaikan secara eksplisit bahwa Yesuslah Hamba TUHAN, Mesias-Raja, Pribadi yang sempurna itu. Nama Hamba TUHAN dalam nubuatan Yesaya bukan sekedar gelar semata, melainkan dijalani Yesus dengan luar biasa. Rasul Paulus mengatakan dengan sangat tepat: “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” Dia juga melakukan tugas pelayanan (menyatakan hukum) dengan sempurna menurut ukuran Allah Bapa. Semua bangsa telah menerima Dia, maka seharusnyalah orang-orang sebangsanya percaya juga kepada-Nya. (wol/ags)

Penulis adalah Dosen Mata Kuliah Teologi dengan bidang keahlian Biblical Teologi baik PL maupun PB dan sebagai Ketua STT Sola Fide Medan

Check Also

Tolak Perda Syariah, PSI Tak Bisa Dibubarkan?

JAKARTA, Waspada.co.id – Pengamat Politik Ray Rangkuti menilai Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tak bisa dibubarkan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: