Newsticker
WOL / Artikel Pembaca / Nasib Media Cetak di Era Modern

Nasib Media Cetak di Era Modern

Oleh:
Mustivan Mahardhika

WOL – Di era modern ini, masyarakat sangat dimanjakan oleh teknologi, dengan hadirnya internet pola hidup masyarakat di dunia berubah.

Ditemukannya komputer handphone, gadget, dan alat komunikasi lainnya telah merombak ‘keluguan’ wajah masyarakat. Bisa kita lihat bagaimana internet mempunyai pengaruh yang sangat besar dengan sikap dan perbuatan masyarakat di dunia, tak terkecuali masyarakat di indonesia.

Hampir seluruh masyarakat di perkotaan sudah sangat bergantung pada internet, demikian pula masyarakat desa yang juga mulai mengikuti keadaan yang memaksa mereka untuk lebih maju dengan menggunakan teknologi.

Tanpa kita sadari, di era modern sekarang ini semuanya telah melanda seluruh kehidupan mayarakat, salah satunya mulai dari berita-berita online, pendaftaran kerja online, pendaftaran kuliah online dan lain sebagainya. Semuanya serba online. Bagaimana tidak, di era ini banyak manusia yang menganggap teknologi sebagai tuannya, padahal manusialah yang menciptakan teknologi.

Bahkan tanpa kita sadari, teknologi digital memberikan dampak negatif bagi penggunanya, yakni rasa malas, karena semua sudah disediakan secara instan di internet. Kurangnya fokus, keterampilan dan kreativitas menurun drastis karena mereka lebih tertarik pada teknologi mereka sendiri, menjadi bukti atas dampak dari kemajuan teknologi.

Kondisi ini juga berimbas ke sejumlah media cetak, maka tidak sedikit jumlah perusahaan surat kabar ‘ambruk’, bukan disebabkan kualitas jurnalismenya yang buruk, tetapi lebih karena pembaca ataupun peminat dan pembaca surat kabar semakin hari semakin berkurang.

Pembaca lebih memilih surat kabar ke dalam bentuk digital bisa melalui komputer ataupun gadget. Maka tidak heran masyarakat mengalihkan minat bacanya ke media digital untuk mendapatkan informasi (berita), yang tersiar secara cepat, dan kejadian suatu peristiwa bisa diberitakan secara langsung.

Mengutip hasil survei Nilsen Media Index, yang menunjukkan penetrasi media cetak terhadap pembacanya terus menurun sejak tahun 2005. dDlam survei ini, Nielsen Media menggunakan stratified random sampling, dengan tatap muka kepada 14.000 responden di 9 kota besar Indonesia. Dari perolehan 28 persen pada kuartal pertama tahun 2005 menjadi hanya 19 persen pada kuartal kedua tahun 2009.

Maka untuk itu media cetak harus berbenah dan mengevaluasi ataupun memodifikasi ulang produknya agar lebih menarik lagi ketimbang media lainnya. Bagaimana pun media cetak  harus tetap menjadi kebutuhan masyarakat setiap harinya dan tetap eksis di tengah era digital sekarang ini.

Bayangkan saja edisi media cetak tak lagi terbit, tentu saja akan menghilanglah tradisi membaca surat kabar secara utuh. Masyarakat di indonesia sendiri juga membutuhkan informasi berita lokal dibandingkan berita internasional. Mengingat masyarakat Indonesia pada umumnya adalah masyarakat yang masih berkembang.

Banyak masyarakat yang bilang, media cetak sudah memasuki senjakala. Karena itu, media cetak dituntut untuk lebih kreatif agar bisa bertahan lebih lama. Salah satu yang masih tegak hingga kini adalah Harian Waspada.

Mengingat belum lama ini (11 Januari 2017), mereka baru saja merayakan hari jadinya yang ke-70, sebagai pembaca setia Harian Waspada, berharap terus berkreasi dan mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan kualitas isinya. Karena itulah kekuatan mereka guna meningkatkan kepercayaan publik dan pembacanya hingga saat ini. (**)

Penulis adalah mahasiswa Jurusan Ilmu Jurnalisme STIK-P Medan

Baca Juga

Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Sandi Nugroho (WOL Photo)

Polrestabes Medan Patroli Skala Besar Antisipasi Teror

MEDAN, WOL – Pasca terjadinya aksi bom bunuh diri di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.