Home / Artikel Pembaca / Motivasi Dalam Kepemimpinan
Istimewa

Motivasi Dalam Kepemimpinan

Oleh: Kompol Wahyudi SH SIK MH

WOL – Motivasi adalah perbedaan antara dapat melaksanakan dan mau melaksanakan. Motivasi lebih dekat pada mau melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan. Motivasi adalah kekuatan, baik dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya.
Motivasi timbul karena adanya kebutuhan yang ingin dipenuhi. Kebutuhan ini menimbulkan keinginan dalam diri seseorang untuk memenuhinya.

Di sini kebutuhan dapat dilihat sebagai kekurangan (defisiensi) yang dialami individu pada waktu tertentu. Kekurangan tersebut dapat bersifat fisik, misalnya kebutuhan akan makanan; selain itu, aspek psikologis seperti misalnya kebutuhan untuk beraktulaisasi diri atau sosiologis seperti kebutuhan untuk berinteraksi sosial.

Sedangkan kekurangan-kekurangan merupakan pemicu timbulnya keinginan dan perilaku untuk  meresponnya. Sebenarnya kalau ditelusuri lebih dalam, motivasi bukan saja karena adanya kebutuhan, melainkan lebih karena harapan akan dapat terpenuhinya kebutuhan itu sendiri.

Manfaat motivasi di tempat kerja memunkinkan karyawan untuk termotivasi selain itu akan mendapatkan kepuasan kerja dan kemungkinan terpenuhinya kebutuhan pribadi. Bagi organisasi, karyawan yang termotivasi akan menghasilkan kinerja berkualitas yang menunjang kemajuan organisasi. Ada beberapa ciri dari anggota yang termotivasi antara lain mampu bekerja dengan senang hati (antusias), bekerja dengan target yang jelas (good oriented), mampu bersikap postif terhadap setiap tantangan yang timbul, berinisiatif dan menawarkan ide-ide kreatif, bersedia bekerja ekstra tanpa dibayar, mampu membela organisasi secara sukarela serta mampu menceritakan organisasinya kepada orang luar dan berprestasi.

Prinsip dasar motivasi adalah setiap orang mampu termotivasi oleh dirinya sendiri dan oleh alasannya sendiri. Motivasi adalah sebuah proses berkelanjutan sebab sifatnya yang naik dan turun. Sedangkan para pemimpin dapat menciptakan sebuah lingkungan yang bersifat memotivasi anggota tim secara penuh.

Beberapa teori motivasi yang salah satunya diungkapkan oleh Abraham Maslow’s yang berpendapat bahwa motivasi dapat membuat yang melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu atau menghindari hukuman. Hal ini efektif jika orang dalam keadaan membutuhkan atau takut seperti  halnya yang diungkapkan oleh Abraham Maslow tentang konsepsi “wortel dan cambuk”, yang berarti kelinci yang tidak lapar tidak akan memburu wortel dan karyawan yang percaya diri tidak akan memperkenankan atasannya untuk mencambuk dirinya.

Namun menurut teori motivasi yang diungkapkan oleh Fredrick Herzenberg, motivasi bersifat “Higiene” yang merupakan kebutuhan dasar dalam bekerja yang bila tidak dipenuhi dapat menimbulkan kekecewaan (konteks pekerjaan). Contoh: gaji, fasilitas, bonus, cuti, kondisi kerja (jam kerja, fasilitas kerja), jaminan pekerjaan, suasana kantor, dsb; serta motivator yang bertujuan mencapai pertumbuhan dan aktualisasi diri melalui pelaksaanaan tugas (berkaitan dengan isi pekerjaan), seperti halnya mencapai sasaran yang menantang, pengakuan langsung tangging jawab, promosi, dsb.

Menyikapi hal tersebut, guna meningkatkan gaairah dan motivasi kerja personel dilingkungan Polres maka diharapkan adanya sikap dan perilaku kepemimpinan seperti dibawah ini :
A. Fungsi Direktif , Pimpinan secara terus menerus menjelaskan kepada bawahan terkait dengan tujuan yang dicapai, rencana tugas yang dikerjakan serta kurang mampu memberikan arahan dan bimbingan spesifik bagimana menyelesaikan tugas,hal tersebut terlihat seperti di bawah:
1. Pimpinan harus mampu menganalisa dan mengindentifikasi perkembangan yang akan terjadi dimasa yang akan datang serta merumuskannya dalam rencana strategis yang akan dilaksanakan serta mampu  menyusun program yang secara aplikatif dapat dilaksanakan oleh bawahannya dilapangan.
2. Pimpinan harus menentukan target yang akan dicapai (achievment goals), sepertihalnya dalam menentukan target penyelesaian perkara maupun target pelaksanaan tugas
B. Supportive leader: Pimpinan harus mampu menunjukan sikap perduli pada bawahannya dengan cara-cara yang bersahabat, dengan cara:
1. Pimpinan harus mampu bersikap adil terlihat dan objektif dalam memperlakukan bawahannya dengan menghindari adanya like and dislike, sehingga mampu membangun kebersaman dan sinergitas dengan bawahannya.
2. Guna membangunan suasana kerjas yang kondusif dan hubungan yang sinergis dengan bawahan maka diharapkan pimpinan dapat melaksanakan home visit secara terjadwal guna mengetahui secara detail perilaku anggota dan keberada keluarganya.
3. Pimpinan harus proaktif dan responsif dalam  menampung keluhan, ide-ide, harapan serta masukan dari bawahannya  dan secara khusus dijadikan sebagai wahana guna melihat lansung kondisi anggota baik dari sisi psikologis maupun kesejahteraannya
C. Participative leader:  Pimpinan  dapat berkonsultasi dengan  bawahannya dan menanggapi saran serta masukan bawahan sebelum mengeluarkan sebuah keputusan, dengan cara:
1. Dilaksanakannya rapat koordinasi dengan melibatkan bawahan dalam menyusun kebijakan sehingga mampu menjawab berbagai permasalahan yang dialami oleh anggota di lapangan.
2. Pimpinan dapat secara berkala mengecek langsung ke lapangan untuk menontrol kegiatan yang dilakukan anggota serta memberikan umpan baik dalam memberikan instruksi maupun memberikan motivasi.
3. Dilaksanakannya kegiatan APP dan mentoring secara periodik guna menampung segala aspirasi bawahan guna terwujudnya hubungan yang harmonis dan keterbukaan serta guna melakukan pendekatan dan perubahan terhadap sikap dan perilaku bawahan.
D. Achievement oriented leader: Pimpinan mampu menyiapkan target-target rencana yang akan dicapai dan mendorong bawahan untuk bertindak dengan performa tinggi yang mereka miliki,melalui:
1. Pimpinan secara lansung menilai produk-produk  dan laporan kegiatan anggota, untuk selanjutnya memberikan koreksi dan arahan guna pengembangan kinerja anggota kearah yang lebih baik.
2. Para pimpinan, diharapkan memiliki rencana pengembangan SDM yang jelas dan terukur dengan menerapkan sistem penilaian kinerja, kaderisasi dan pengembangan karir personel sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Berkaitan dengan motivasi dalam kepemimpinan, seorang pimpinan selain dituntut untuk mampu dalam memotivasi anggotanya juga dituntut untuk mampu dalam  memotivasi diri sendiri, adapun beberapa cara dalam memotivasi diri sendiri yang antara lain dengan cara mendefinisikan dengan jelas system kepercayaan, menggenggam erat impian, melakukan positive self talk, memfokuskan untung mengembangkan kelebihan, selalu memperhatikan hubungan mentoring, memperhatikan makanan mental harian, selalu melakukan yang terbaik, melayani sesama serta berdoa dan bersyukur.
Dengan demikian motivasi dapat diartikan sebagai proses mempengaruhi orang / orang-orang yang dipimpinnya agar melakukan pekerjaan yang diinginkan, sesuai dengan tujuan yang telah di tetapkan lebih dahulu. Sedangkan kaitannya dalam kepemimpinan dalam organisasi mengandung pengertian motivasi dan perilaku kepemimpinan yang perlu dilaksanakan dalam rangka untuk meningkatkan gairah dan kinerja dalam organisasi antara lain Memberikan contoh dan ketauladanan yang baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam pergaulan hidup sehari – hari. Karena anggota ataupun bawahan akan lebih mudah memahami dengan melihat contoh dan ketauladanan dari pada di berikan arahan ataupun petunjuk melalui ceramah atau pengarahan. Jadi motivasi dalam kepemimpinan adalah suatu proses bagaimana seorang pimpinan dalam organisasi mampu mendorong dan menggerakan anak buah / anggota / sumber daya manusia untuk mencapai tujuan organisasi.(wol/roy/data1)

Penulis Adalah: Pasis Sespimmen 56

Check Also

Trump Tak Mau Dengar Rekaman Eksekusi Khashoggi

WASHINGTON, Waspada.co.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku tidak ingin mendengar rekaman pembunuhan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: