Breaking News
Home / Artikel Pembaca / Modal Bank Sumut: Dari Kita Untuk Kita Juga (Bagian 3)
Armin Rahmansyah Nasution
Armin Rahmansyah Nasution

Modal Bank Sumut: Dari Kita Untuk Kita Juga (Bagian 3)

Oleh:
Armin Rahmansyah Nasution

WOL – Untuk ekspansi dan bersaing sebagai bank pembangunan daerah yang punya konstruksi kuat Bank Sumut memang butuh suntikan modal. Bisa dilihat bagaimana bank daerah lain sudah lebih dulu mengantisipasinya. BPD Banten Tbk misalnya melalui RUPS sudah melakukan penambahan modal November 2016 lalu.

Bank Kalimantan Selatan (Kalsel) pun sudah mendapat persetujuan dari DPRD-nya untuk menambah modal Rp25 miliar. Begitu pula Bank Nagari Sumbar di perubahan APBD 2017 menambah modal Rp50 miliar untuk ekspansi dan penguatan daya saing.

DPRD dan Pemprov Jatim pun sudah menyetujui rancangan Perda tentang penyertaan modal. Artinya kini bank-bank daerah berusaha menguatkan struktur modal menghadapi persaingan ketat. Apalagi Bank Sumut yang menempati posisi kelima terbaik sebagai BPD se-Indonesia.

Dorongan penambahan modal ini sebenarnya juga sudah disampaikan Gubsu HT Erry Nuradi.  Begini… Dia sudah mengimbau pemerintah daerah pemegang saham tidak ragu menambah penyertaan modalnya. “Laba bersih Bank Sumut mencapai yang terbesar sepanjang sejarah, dividen Bank Sumut malah lebih besar dari imbal hasil deposito. Coba lihat return on equity (ROE) nya yang mencapai 24,84 persen. Jadi tidak ada alasan untuk tidak menambah modal.”

Secara eksplisit ucapan Gubsu sekaligus komitmen kalau Pemprovsu pun siap menambah modal. Jika daerah lain saja yang pemegang saham minoritas diminta menambah modal, tentu Pemprovsu tak mau kehilangan kendali sebagai pemegang saham mayoritas.

Keinginan menjadikan Bank Sumut sebagai lambang supremasi perekonomian pun mendapat suntikan motivasi dari Otoritas Jasa Keuangan.  Ketua OJK Regional 5 Sumatera Lukdir Gultom menyatakan Bank Sumut masih perlu memperbaiki pertumbuhan aset, kredit, dana pihak ketiga dan market share.

Secara umum, kinerja membaik tapi pertumbuhan aset juga pertumbuhan kredit masih harus ditingkatkan. Mantan Direktur Utama Bank Sumut periode lalu, Gus Irawan Pasaribu ikut memaparkan analisisnya terkait penambahan modal ini.

“Secara struktur Bank Sumut memang harus terus menambah modal. Bahkan  jika terjadi percepatan ekspansi. Dulu pun waktu saya jadi Dirut sering meminta pemegang saham menambah modal. Kondisi sekarang tentu lebih mengharuskan lagi pemegang saham melakukan hal sama,” kata dia.

Di DPR RI Gus Irawan Pasaribu sekarang menjabat Ketua Komisi VII. Tapi sebelumnya sebagai wakil ketua Komisi XI DPR-RI membidangi keuangan dan perbankan sehingga masih faham betul kondisi perbankan.  Dia mengatakan jika pemerintah daerah ingin menikmati PAD dari Bank Sumut wajib menambah modal. “Semua pemegang saham harus menambahnya. Sarannya adalah ekspansinya. Kalau tidak mampu nanti bisa diambil alternatif.”

Tapi, kata dia, jika mengambil sumber permodalan dari pasar modal pasti  akan menggerus saham pemerintah daerah. “Apa kita mau profit Bank Sumut mengalir ke selain pemda. Kepala daerah yang pintar melihat kinerja Bank Sumut sebenarnya sudah langsung faham bahwa jika ROE-ya tinggi merupakan saat yang tepat menambah modal.”

Karena setiap tahun mereka akan mendapatkan deviden sebagai tambahan PAD. “Waktu Gubsu Pak Rudolf Pardede, saya pernah sampaikan untuk menambah permodalan dari alternatif lain. Tapi beliau katakan, biarlah Pemda dulu yang menambah dan menikmati hasil sahamnya. Karena bagi daerah inilah sumber PAD menjanjikan,” tuturnya.

Menurutnya, dulu ketika dibutuhkan penambahan modal langsung dikomunikasikan dengan para pemegang saham. “Karena pada akhirnya nanti rapat umum pemegang sahamlah level paling tinggi. Tapi saya yakin kita semua termasuk para kepala daerah cinta dengan Bank Sumut. Tentu karena kecintaan itu pula tidak ingin melepasnya ke pihak lain. Mungkin hanya proses saja yang membuatnya sedikit lambat. Tapi saya yakin mereka akan menambah modal.”

Secara informal, beberapa kepala daerah yang sempat dihubungi WaspadaOnline sebenarnya mengaku siap menambah modal. Termasuk misalnya Pemkab Tapsel, Pemkab Sergai, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara.

Dari kita untuk kita juga
Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Medan Prof. Indra Maipita punya proyeksi ke depan tentang butuhnya perkuatan terhadap permodalan Bank Sumut. “Saya melihat jika pemerindah daeran dan pemerintah provinsi mampu menambah modal, maka merekalah yang harus melakukannya.”

“Ini aset daerah. Menguntungkan. Dan secara kinerja mengalami peningkatan berkelanjutan. Kalau kemudian sumber permodalan baru dari swasta atau dilempar ke pasar modal nanti tentu dividen yang mengalir bisa berpindah ke tempat lain. Modal Bank Sumut ini dari kita untuk kita juga,” tuturnya.

“Kita kan mau aset dan uang masyarakat daerah ini digunakan sebaik-baiknya untuk pembangunan daerah. Kalau tidak kita yang peduli terhadap daerah ini mana ada daerah lain yang mau bantu,” jelas Indra Maipita.

Menurut dia, tantangan yang dihadapi Bank Sumut saat ini pasti di permodalan. “Kalau soal sumber daya manusia saya fikir sudah mereka lewati. Sumber dana tambahan modal yang harus difix kan. Walaupun nantinya keputusan tertinggi ada di rapat umum pemegang saham,” kata Indra Maipita.

Dia menyarankan agar penambahan modal itu dikomunikasikan dengan teliti. “Karena begini jangan sampai misalnya muncul imej bahwa perlambatan penambahan modal akibat belum munculnya Perda karena DPRD Sumut tak mau membahas. Atau menganggap Pemprovsu yang lambat. Harus dikomunikasi,” tuturnya.

Pada prinsipnya memang ada muncul imej tidak baik di masyarakat kalau ternyata persoalan ini berlarut-larut. “Dari tahun 2016 belum selesai sampai sekarang. Padahal kan sudah ada aturan dari OJK. Kemudian pengajuan dari Bank Sumut pun tentang kebutuhan modal pasti sudah menggunakan kajian akademis.”

Menurut Edie Rizliyanto, Direktur Utama Bank Sumut, kebutuhan tambahan modal bagi mereka seperti yang sudah dijelaskannya. Terutama untuk spin off unit usaha syariah dan ekspansi.

“Tantangan utama adalah permodalan, kalau dari sumber daya manusia kami sudah siapkan,” ujar Edie, usai kegiatan Jalan Santai dan Penarikan Undian Martabe Tahap I dalam rangka HUT ke-56 Bank Sumut, Minggu (5/11).

Selain suntikan modal dari para pemegang saham, kata Edie, ada alternatif pendanaan yang dapat dilakukan untuk mendukung rencana spin off tersebut, misalnya mengundang investor lain, melakukan initial public offering (IPO), atau menerbitkan obligasi. Namun, kata dia, semua itu dikembalikan kepada para pemegang saham untuk mengambil alternatif yang mana.

Untuk menunjukkan keseriusan mereka atas tambahan modal berbasiskan kinerja  Dirut Bank Sumut menyatakan kalau mereka pun sudah menemui masing-masing kepala daerah di Sumatra Utara dan secara lisan sudah ada komitmen dari para pemegang saham untuk menambah modal guna mendukung ekspansi dan rencana bisnis Bank Sumut. Tentu harapannya modal paling besar itu muncul dari Pemprovsu sebagai pemegang saham mayoritas ditandai dengan hadirnya Perda baru menggantikan aturan yang sudah habis pada 2014 tersebut. (**/Bersambung…)

Penulis adalah wartawan senior bidang ekonomi

Check Also

WOL Photo

PWI dan Bank Sumut Sinergi Tingkatkan Wawasan di Bidang Perbankan

MEDAN, WOL – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Utara bersinergi dengan Bank Sumut menggelar Workshop ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.