Home / Artikel Pembaca / Merajut Asa Melalui Pertemuan IMF-WB 2018 di Bali

Merajut Asa Melalui Pertemuan IMF-WB 2018 di Bali

Indonesia Menjadi Tuan Rumah Pertemuan IMF-WB 2018
Indonesia resmi dinobatkan menjadi tuan rumah dalam pertemuan keuangan terbesar di dunia yaitu pertemuan tahunan IMF-World Bank 2018 yang akan dilaksanakan pada tanggal 12-14 Oktober 2018 di Nusa Dua Bali melalui penandatangan “Agreement for the 2018 Annual Meetings of the Boards of Governors of the IMF and The World Bank Group” pada tanggal 10 Oktober 2015.

Pertemuan ini adalah momentum terbaik bagi Indonesia untuk dapat menjalin kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan dari berbagai negara di dunia. Terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah pertemuan IMF-World Bank 2018 telah membuka mata dan hati dunia kepada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sangat baik di kelas negara middle income.

Pada pertemuan yang besar ini akan dihadiri oleh 15.000 peserta dari kalangan eksekutif dunia seperti para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral dari 189 negara anggota IMF-WB di dunia, Chief Executive Officer (CEO), para pelaku bisnis dan investor, organisasi non-pemerintahan, banker, jurnalis serta para akademisi yang turut hadir meramaikan dan terlibat dalam agenda yang telah disiapkan. Beberapa agenda yang akan diselenggarakan di antaranya Pertemuan Sektor Perbankan dan Riil lainnya, International Monetary and Financial Committee (IMFC) Meeting, Seminar dan International Conference, Konferensi Pers, IMF-WB Plenary Session, World Bank Development Committee, Pertemuan Grup Kerja sama Ekonomi lainnya (G-20, G-24, MENA, Commonwealth, BRICS, IIF, WEF) dan sebagainya.

Dengan peluang yang besar ini tentu Indonesia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas yang telah diraih melalui persiapan dan proses yang cukup panjang sejak tahun 2015 dengan meyakinkan negara-negara di dunia untuk memberikan suara kepada Indonesia bahwa Indonesia layak dinobatkan sebagai tempat untuk penyelenggaraan pertemuan Annual Meeting IMF-WB 2018.

Potensi mempromosikan pariwisata dan karya anak bangsa tahun 2018 adalah tahun di mana Indonesia akan menjadi pusat perhatian dunia, sebagai pusat perhatian. Indonesia tentu telah memoles penampilan layaknya seorang model yang akan berjalan di red carpet dan disorot oleh banyak kamera. Persiapan untuk menghadapi pertemuan IMF-WB 2018 telah berjalan dengan sangat baik. Tidak tanggung-tanggung pemerintah menganggarkan dana sebesar Rp868 miliar untuk kesiapan acara tersebut.

Saya percaya dengan kutipan yang mengatakan “Persiapan yang baik adalah kunci keberhasilan”. Jumlah anggaran untuk persiapan yang sangat besar tersebut merupakan investasi yang dikucurkan pemerintah Indonesia dengan harapan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan meningkat seiring dengan dikenalnya sektor pariwisata dan karya anak bangsa melalui momentum IMF-WB 2018 yang akan dilaksanakan kurang dari dua bulan lagi.

Kesempatan ini adalah momen yang sangat tepat bagi Indonesia untuk mempromosikan berbagai jenis objek pariwisata dan karya anak bangsa. Objek pariwisata yang dapat langsung dilihat dan dirasakan oleh para tamu pertemuan IMF-WB 2018 adalah keindahan Pulau Dewata Bali. Bali sebagai destinasi pariwisata jempolan Indonesia telah tersohor sampai ke seluruh dunia. Dunia menjuluki pulau dewata sebagai The Island of Gods ini mampu menghipnotis para wisatawan mancanegara dengan keindahan alam dan pantainya.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan dampak langsung pengeluaran peserta acara IMF-WB 2018 yang akan dirasakan Indonesia mencapai Rp943,5 miliar, sebanyak 95,2 persen pengeluaran tersebut berasal dari wisatawan mancanegara dan sisanya sebanyak 4,8 persen berasal dari wisatawan domestik.

Angka yang cukup fantastis untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia di sektor pariwisata. Namun, Indonesia adalah negara yang besar dengan ratusan objek pariwisata kelas dunia yang tidak kalah indah jika dibandingkan dengan pulau Bali. Momen ini dapat menjadi pendongkrak objek pariwisata lainnya agar sejajar dengan objek pariwisata yang disuguhkan Bali. Ada begitu banyak objek pariwisata Indonesia yang sudah mendunia namun dilihat dari sisi peminatnya tidak sebanyak wisatawan di Bali.

Contohnya seperti Pulau Komodo. Pulau yang terletak di kepulauan Sunda Kecil, Nusa Tenggara Timur ini resmi ditetapkan menjadi The New 7 Wonders pada tahun 2012 dan menjadi salah satu primadona pariwisata di Indonesia. Pada tahun 2017 jumlah pengunjung pulau ini mencapai 122.000 wisatawan. Jumlah ini tentu sangat jauh bila dibandingkan dengan pengunjung pariwisata di pulau Bali pada tahun yang sama mencapai 14 juta lebih wisatawan baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Danau Toba, danau terbesar di Asia Tenggara yang terletak di Provinsi Sumatera Utara ini ditetapkan menjadi 10 destinasi wisata unggulan 2017. Wisatawan yang berkunjung ke Danau Toba meningkat pesat karena keberadaan Bandara Internasional Silangit yang diresmikan oleh Bapak Presiden Joko Widodo pada tanggal 24 November 2017 di mana maskapai akan membawa langsung para wisatawan mancanegara ke Danau Toba tanpa harus menyambung perjalanan dari Bandara Internasional Kualanamu di Deli Serdang.

Pada tahun 2017 jumlah pengunjung pariwisata Danau Toba meningkat menjadi 261.736 wisatawan. Jumlah ini lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah wisatawan Pulau Komodo yang mendapat predikat sebagai The New 7 Wonders.

Dua objek parwisata diatas, mewakili dari ratusan objek pariwisata lain di Indonesia yang tidak kalah tersohor dengan Bali, namun memiliki jumlah wisatawan yang tidak sebanyak Pulau Bali. Jawaban yang dapat menjawab permasalahan tersebut adalah ketersediaan akses dan fasilitas untuk dapat menikmati keindahan objek pariwisata tersebut belum memadai. Kita dapat belajar dari objek pariwisata Danau Toba di Sumatera Utara yang mengalami peningkatan wisatawan karena keberadaan Bandara Internasional Silangit dan rencana pembangunan jalan tol Medan – Danau Toba.

Berkat akses yang memadai jumlah wisatawan meningkat 12,02 persen jika dibandingkan pada tahun 2016 namun akses saja tidak cukup jika tidak sejalan dengan pembangunan fasilitas penunjang pariwisata tersebut. Di Danau Toba, walaupun telah memiliki beberapa hotel kelas berbintang namun kapal-kapal yang membawa wisatawan menyeberang ke Pulau Samosir masih jauh dari kata layak.

Selain sektor pariwata, sektor lain yang dapat kita promosikan melalui pertemuan keuangan terbesar di dunia IMF-WB 2018 adalah berbagai jenis karya anak bangsa yang dapat ditunjukan melalui pameran sektor pengolahan karya anak bangsa dengan membuka stand-stand menarik yang berisi tentang kebudayaan dan barang-barang industri kreatif maupun Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dari daerah tersebut.

Dengan adanya stand-stand tersebut, para tamu annual meeting IMF-WB 2018 tidak perlu menjelajah ke seluruh daerah Indonesia untuk mengenal kebudayaan dan industri kreatif daerah Indonesia namun telah mempromosikan kebudayaan, industri kreatif dan UMKM tersebut didalam stand-stand pameran yang disediakan khusus.

Dengan memperkenalkan budaya serta produk unggulan komoditas ekspor, niscaya akan meningkatkan ekspor produk unggulan Indonesia yang belum memiliki pangsa pasar di luar negeri. Ekspor dapat memperkuat cadangan devisa negara sehingga ketahanan perekonomian Indonesia dapat terjaga dalam menghadapi ketidakpastian pasar global. Sudah saatnya komoditi ekspor Indonesia untuk Go Internasional.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Bank Indonesia, setidaknya baru 25 persen dari total 800 UMKM binaan Bank Indonesia yang berhasil menembus pasar ekspor atau sekitar 200 UMKM. Kendala utama yang sering dihadapi oleh para pelaku bisnis UMKM adalah kurangnya informasi pasar. Keterbatasan informasi pasar tersebut dapat dipecahkan dalam pertemuan Annual Meeting IMF-WB 2018 nanti.

Pada kesempatan ini para pelaku UMKM sudah sewajarnya diberikan kesempatan untuk memperkenalkan barang komoditi ekspor di dalam forum khusus sehingga tidak menganggu kenyamanan tamu Annual Meeting IMF-WB 2018 yang lain. Selain memperkenalkan produk, para pelaku UMKM juga sebaiknya diberikan pembekalan bagaimana cara untuk memenuhi permintaan pasar ekspor yang dinamis.

Kesuksesan ekspor Indonesia saat ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah namun juga menjadi tanggung jawab kita. Dimulai dari hal kecil dengan memakai produk-produk olahan dalam negeri dan menawarkannya ke kerabat maupun teman kita yang berada di dalam maupun di luar negeri. Selain itu membuat gerakan atau kampanye menggalakan ekspor juga dapat membuat komoditi ekspor kita dikenal dunia.

Untuk menciptakan relasi dengan negara lain bukanlah hal yang sulit pada era digital saat ini. Para pelaku UMKM dan industri kreatif tidak dapat sepenuhnya mengandalkan momentum pertemuan IMF-WB 2018 untuk memasarkan produk unggulan. Internet dan niaga elektronik yang mengalami perkembangan pesat juga dapat diandalkan oleh pelaku UMKM dan industry kreatif. Hal ini tentu membuka peluang besar bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan dan memasarkan produk-produk dari UMKM Indonesia ditambah lagi pemerintah sedang menggalakan gerakan (#UMKM Jualan Online).

Pertemuan keuangan terbesar di dunia IMF-WB 2018 adalah penantian yang sudah berada di depan mata. Kini saatnya pemerintah dan masyarakat bergandeng tangan menyambut dunia ke negeri tercinta Indonesia. Merajut asa meraih mimpi untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen pada tahun 2018 bukanlah suatu hal yang mustahil bagi Indonesia.

Alexander Nainggolan
Penulis adalah seorang Pegawai Negeri Sipil di Kementerian Keuangan Bea dan Cukai Kualanamu.

Lahir di Desa Torgamba Kecamatan Cikampak, Kabupaten Labuhanbatu Selatan Sumatera Utara, 15 Februari 1995.

Check Also

KPU Tunda Penetapan DPT, Ini Alasannya

  JAKARTA – Komisi Pemilihan Umum (KPU) memutuskan untuk menunda pengumuman rekapitulasi Daftar Pemilih Hasil ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: