Home / Artikel Pembaca / Menyingkap Tabir Di Balik Surat Kartini

Menyingkap Tabir Di Balik Surat Kartini

WOL – Kartini, sebuah nama yang siapa saja mengaku pernah menimba ilmu di Indonesia pasti mengenalnya. Bahkan di setiap buku kesenian dan kebudayaan pasti tercantum lagu dengan judul “Ibu Kita Kartini” yang juga menjadi lagu wajib dalam upacara bendera di sekolah-sekolah.

Tak ada asap kalau tidak ada api, terkenalnya nama Raden Ajeng Kartini di seantero nusantara berlaku hukum sebab akibat. Pertama, seorang Raden Ajeng Kartini adalah perempuan keturunan ningrat, itu dapat kita lihat kasat mata dari penyebutan nama Kartini yaitu Raden Ajeng, sebuah gelar yang diberikan kepada anak bangsawan menurut kebudayaaan Jawa. Ayah dan keluarga Kartini pun memegang peranan penting dalam pemerintahan masa itu, maka tak khayal nama Kartini pasti mencuat.

Kedua, Kartini adalah salah satu pahlawan perempuan Indonesia di mana berkat perjuangannya untuk wanita-wanita Jawa saat itu untuk memperoleh pendidikan yang sama dengan kaum adam terdapat dalam buku Kartini yang fenomenal berjudul “Door Duisternis Tot Licht” atau “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Saat itu, Kartini menuliskan kegelisahan hatinya menyaksikan wanita Jawa yang terkungkung adat. Tujuan utama beliau menginginkan hak pendidikan untuk kaum wanita sama dengan laki-laki, tidak lebih. Ia begitu prihatin dengan budaya adat yang mengungkung kebebasan wanita menuntut ilmu, walau tak lama beliau memperjuangkan ini karena Allah Sang Khalik lebih memilih Kartini mengakhiri perjuangan mulianya itu saat dipanggil Sang Maha Pencipta pada 17 September 1904 di usia 25 tahun.

Terakhir, yang membuat Kartini makin terkenal adalah dinobatkan sebagai pejuang emansipasi wanita. Dia digambarkan sebagai sosok yang bersemangat memperjuangkan kaum perempuan agar mempunyai hak sama dan sejajar kaum pria. Pada April, tokoh ini kembali diangkat sembari terus mendorong perempuan Indonesia menempati posisi-posisi yang biasanya didominasi oleh pria.

Bak gayung bersambut, kaum perempuan Indonesia pun bergegas mencari peluang karier setinggi-tingginya. Inilah yang dipropagandakan para pengemban feminisme atau kesetaraan gender bahwa perempuan itu tersiksa hanya karena perbedaan hak dan kewajiban antara laki laki maupun perempuan, mereka menderita lahir batin hingga perlu ada tindakan mengubah keadaaan. Ide ini sebenarnya lahir dari dunia barat bukan Indonesia, namun mereka menyebarluaskannya di Indonesia dengan menggandeng nama Kartini sebagai brand ambassador feminisme Indonesia.

Dari sinilah perlunya kita menyingkap tabir di balik surat-surat Kartini, karena pemahaman di atas itu mereka simpulkan dari beberapa suratnya kepada teman korespondennya di Eropa bahwa ia memuji peradaban mereka dan juga cerita-ceritanya mengenai ketertindasan perempuan-perempuan Jawa karena terkekang adat-istiadat.

Lalu Kartini mencetuskan bahwa perempuan juga layak mendapat hak yang sama dengan perempuan. Hal inilah yang melatarbelakangi kaum feminisme Indonesia menyamakan perjuangan Kartini itu sama dengan ide feminisme.

Namun kalau kita pelajari lebih lanjut sosok Kartini melalui buku kumpulan surat-suratnya telah memberi keterangan yang terbalik dari kesimpulan di atas. Kesimpulan ini bisa dibilang terburu-buru karena dalam buku tampak sekali Kartini adalah sosok yang berani menentang adat istiadat di lingkungannya.

Setidaknya pemahaman ini terlihat dari surat Kartini kepada abendanon, 27 oktober 1902 yang isinya berbunyi, “sudah lewat masamu, tadinya kami mengira bahwa masyarakat eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, apakah ibu sendiri menganggap masyarakat eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik sesuatu yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?”

Kartini juga memiliki cita-cita yang luhur, yaitu mengubah masyarakat, khususnya kaum perempuan yang tidak memperoleh hak pendidikan, juga untuk melepaskan diri dari hukum yang tidak adil dan paham-paham materialisme, untuk kemudian beralih ke keadaan ketika kaum perempuan mendapatkan akses untuk mendapatkan hak dan dalam menjalankan kewajibannya.

Ini sebagaimana terlihat dalam tulisan Kartini kepada Prof. Anton dan istri pada 4 Oktober 1902, yang isinya, “kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Dalam surat lain, Kartini meminta Pemerintah Hindia Belanda memperhatikan nasib pribumi dengan menyelenggarakan pendidikan, terutama bagi perempuan. Hal ini karena perempuanlah yang membentuk budi pekerti anak. Berulang-ulang Kartini menyebut perempuan adalah istri dan pendidik anak yang pertama.

Tidak ada keinginan Kartini untuk mengejar persamaan hak dengan laki-laki dan meninggalkan perannya dalam rumah tangga. Bahkan ketika ia menikah dengan seorang duda yang memiliki banyak anak, Kartini sangat menikmati tugasnya sebagai istri dan ibu. Inilah yang membuat Stella, sahabatnya, heran Kartini rela menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga.

Beberapa pembahasan surat Kartini seharusnya sudah bisa menyibak tabir di balik suratnya. Jadi sebenarnya Kartini tidak pernah memperjuangkan atau bahkan hanya bermimpi membuat kaum perempuan Indonesia mengusung kesetaraan dengan laki laki dalam segala hal, namun hanya memperjuangkan hak-hak yang semestinya diberikan kepada kaum perempuan.

Kesalahan yang terjadi di tengah-tengah penggiat feminisme saat ini justru malah menyelewengkan nilai luhur tersebut. Misalnya, perempuan menjadi wanita karier, tidak mau kalah ‘sok’ sibuk kerja dengan kaum laki laki, sebaliknya kewajiban lain ditelantarkan, seperti menjadi istri dan mendidik anak. Padahal Kartini memperjuangkan pendidikan wanita agar bisa menjadi pendidik utama yang berkualitas bagi anak-anaknya di rumah, bukan sibuk berkarier.

Namun hal ini tidak akan terjadi atau bahkan tidak pernah dibahas dalam sebuah negara yang menerapkan sistem Islam, sistem yang memuliakan perempuan, yaitu daulah khilafah rasyidah. Perempuan yang tidak akan terjebak dalam ide berbahaya ini malah menjadi perempuan terhormat dan dijamin masuk surga, seperti Khadijah ra. Perempuan cantik dan kaya raya ini banyak dilirik pembesar quraish untuk dipersunting, namun lebih rela dinikahi pemuda sederhana bernama Muhammad. Terkenalnya seorang Khadijah bukan karena kecantikan wajahnya, namun pengorbanannya yang demikian fenomenal mendukung perjuangan dakwah Rasullulah SAW.

Tak layakkah perempuan ini menjadi inspirasi bagi kejayaan perempuan masa kini? Sudah saatnya perempuan kembali kepada aturan Islam yang akan dan hanya menyejahterakan, memuliakan, dan tak mempekerjakan perempuan. Wallahualam.

Biodata Penulis:
Siti Mulianita, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya USU, aktivis muslimah hizbut tahrir, tenaga pengajar

Hp 087892208240

Check Also

KPU Sumut Sosialisasi PKPU No. 28/2018 Soal Kampanye Pemilu 2019

MEDAN, Waspada.co.id – Sosialisasi Peraturan KPU nomor 28 tahun 2018 tentang kampanye pemilihan umum Tahun ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: