Breaking News
Home / Artikel Pembaca / Menimbang Tipologi Kepemimpinan Sumatera Utara Masa Depan
Anggia Ramadhan Harahap, SE, M.Si
Anggia Ramadhan Harahap, SE, M.Si

Menimbang Tipologi Kepemimpinan Sumatera Utara Masa Depan

Oleh : Anggia Ramadhan Harahap, SE, M.Si

Tidak terasa kontestasi Pemilihan Umum Kepala Daerah 2018 sudah semakin dekat, proses demokratisasi yang sehat seharusnya memberikan waktu kepada masyarakat untuk menimbang dan memahami tipologi kepemimpinan yang nantinya akan mengelola Sumatera Utara kedepan. Pada proses demokratisasi tersebut harus bisa dimanfaatkan sebaik mungkin, lebih egaliter dan kontennya tidak dimonopoli oleh pemodal yang cenderung berpolitik secara transaksional. Masyarakat di daerah sudah seharusnya dicerahkan dalam mengenal figur-figur calon pemimpin daerah-daerah yang akan melaksanakan Pemilu Daerah 2018.

Kepemimpinan merupakan sebuah kebutuhan dalam berbagai kehidupan masyarakat baik lokal, regional, nasional maupun di berbagai belahan dunia. Bahkan dalam konsep Islam tiga orang saja berjalan dalam hal musafir, perlu diangkat salah satunya menjadi seorang pemimpin, hal ini menandakan bahwa kepemimpinan sangat dibutuhkan.

Banyak definisi tentang masalah kepemimpinan dari para ahli. Perlu disadari bahwa kepemimpinan antara konsep dengan teori dalam implementasinya belum tentu sejalan, karena figur kepemimpinan dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu, misalnya unsur karakteristik, pendidikan, sikap mental serta pola pikir yang berbeda, banyak menyangkut filosofi hidupnya (latar belakang kehidupan) hal ini sangat mempengaruhi terhadap sikap mental dan pola pikir sebagai leader.

Pada era Perang Dingin, kepemimpinan dunia lebih banyak dipengaruhi oleh tipologi “Hard Power” dan “Top Down” lebih menonjol pendekatannya pada kekuasaan pemimpin (leadership authority) ketimbang Tipologi ‘Soft Power’ (kekuasaan demokratis) lebih kepada bottom up (dialogis). Kekuasaan “hard power” memang berlaku pada masa perang dingin antara Rusia dan sekutunya versus Amerika beserta sekutunya. Kepemimpinan dunia tersebut seringkali menimbulkan konflik dan perang antara satu dengan lainnya.

Namun seiring perubahan zaman menuju proses globalisasi, tipologi kepemimpinan “Hard Power” sudah mulai ditinggalkan dan kepemimpinan dunia lebih condong pada orientasi kepemimpinan “Soft Power” dengan mengedepankan pendekatan dialogis (bottom up). Namun dalam proses globalisasi tersebut Barat mengabaikan agama sebagai landasan kehidupan manusia, agama telah disingkirkan dari kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Secara spiritual menurut Dr. Mohammad Natsir dalam orasinya (1980) di Jakarta, mereka telah mengalami “spiritual vacuum” (kekosongan jiwa) yang berakibat fatal dalam kehidupan. Hal itu telah menjerumuskan manusia pada sekularisasi kesadaran dan menciptakan ketidakberartian hidup.

Di Indonesia sendiri sejak kemerdekaan sejarah mencatat berbagai peristiwa kepemudaan, kepemimpinan, kemiliteran dan bidang lain. Setiap era, rezim/kepemimpinan memiliki ciri yang menjadi trade mark di jamannya, gaya kepemimpinan khas yang ada dan dapat dilihat dan kita kenal dengan angkatan 1928, angkatan 1945, orde lama, orde baru dengan angkatan 1966 dan angkatan era reformasi. Di era Reformasi dan demokrasi saat ini, ciri kepemimpinan Orde Baru masih kental terasa. Adapun Gaya kepemimpinan Orde Baru lebih kepada Gaya kepemimpinan militeristik, kepemimpinan militeristik pada kehidupan masyarakat pada saat sekarang masih terasa melanda dan mendominasi semua lini organisasi pemerintah, swasta, parpol, kepemudaan, olah raga, industri dll. Kepemimpinan militeristik cenderung kepada kepemimpinan “Hard power” dan menimbulkan berbagai gerakan seperti: keterbukaan, anti kekerasan, anti peperangan, humanisme, serta pandangan atas tuntutan perubahan dan tuntutan jender, seharusnya gaya kepemimpinan militeristik tersebut sudah semestinya ditinggalkan karena dianggap tidak lagi dapat menjawab tuntutan jaman di era demokrasi ini.

Tipologi kepemimpinan ideal Sumatera Utara
Dari sedikit penjelasan Tipologi Kepemimpinan Dunia secara makro dan kemudian mengarah fenomena kepemimpinan di Indonesia era Orde Lama, Orde Baru serta zaman Reformasi sebagai bentuk penajaman secara mikro. Dipandang perlu menyampaikan rekomendasi kepada penyelenggara negara, agar menciptakan Indonesia ke depan khususnya Provinsi Sumatera Utara yang madani. Rekomendasi dimaksud adalah:

1. Bahwa kepemimpinan Tipologi “Hard Power” dan “Top Down” lebih menonjol pendekatannya pada kekuasaan pemimpin seperti gaya kepemimpinan militeristik sudah lama ditinggalkan oleh negara-negara maju dibelahan dunia manapun dikarenakan selain tidak lagi dapat menjawab kebutuhan globalisasi.
2. Kepemimpinan dengan Tipologi “Soft Power” adalah lebih baik, bersifat dialogis, rasional serta obyektif dalam memecahkan berbagai masalah kebangsaan dan kenegaraan. Kepemimpinan tersebut dibutuhkan kharisma yang tinggi dan tidak terombang ambing oleh keadaan. Gaya kepemimpinan seperti ini sangat dibutuhkan di Sumatera Utara, mengingat masyarakat Sumatera Utara yang sangat beragam suku, budaya dan agama.
3. Sumatera Utara membutuhkan dan mendambakan kepemimpinan yang cerdas, berpendidikan dan visioner serta memiliki keimanan yang kokoh dalam membangun Provinsi Sumatera Utara yang madani.
4. Sumatera Utara harus bebas dari berbagai bentuk korupsi yang selama ini menjadi virus dalam tubuh bangsa. Maka penegakkan hukum (law enforcement) harus dijalankan bukan hanya oleh aparat hukum, lembaga peradilan, KPK, Kejaksaan, Kehakiman dan Kepolisian, tapi seluruh tatanan eksekutif, legislatif dan yudikatif harus menjadikan korupsi sebagai musuh bersama bangsa.
5. Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) hendaknya dapat dikelola oleh putra-putri daerah Sumatera Utara untuk dapat dimanfaatkan dengan sebesar-besarnya demi kemakmuran serta kesejahteraan masyarakat Sumatera Utara, seperti pengelolaan tempat pariwisata Danau Toba dll.

Kesimpulan
Untuk kepemimpian di Sumatera Utara, maka tipe ideal yang diharapkan tentunya adalah tipe soft power yang dibekali dengan karakter figur yang berpendidikan,memiliki sikap mental dan pola pikir yang baik serta kharisma yang tinggi. Oleh karena itu, melalui tulisan ini penulis berharap agar beberapa penjelasan diatas dapat menjadi pertimbangan masyarakat Sumatera Utara dalam menentukan pilihannya pada Pemilihan Umum Kepala Daerah pada tahun 2018 mendatang.

Check Also

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto (foto: kompas)

Airlangga Dinilai Layak Gantikan Setya Novanto

JAKARTA, WOL – Partai Golkar didesak untuk segera mengganti Setya Novanto dari kursi Ketua Umum. ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.