_
Home / Artikel Pembaca / Mengenal Sahat Simatupang Aktivis 98 Tumbangnya Orba, Hingga Mendukung Jokowi
foto: istimewa

Mengenal Sahat Simatupang Aktivis 98 Tumbangnya Orba, Hingga Mendukung Jokowi

Waspada.co.id – Tuntutan Reformasi bergema lebih awal di Medan, Sumatera utara, di bandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Senin siang 27 April 1998, persis di depan Kampus Institut Teknologi Medan (ITM) Jalan Gedung Arca, bentrok mahasiswa ITM dan polisi pecah. Aksi ratusan mahasiswa dengan jas almamater cokelat, jas kebanggaan ITM, menuntut reformasi pemerintahan dihadang ratusan tentara dan polisi. Mahasiswa ITM diblokade ketika hendak ke luar kampus. Satu tembakan dari rentetan peluru tentara dan polisi mengenai dada mahasiswa ITM bernama Ronaldson, roboh bersimbah darah. Saat itu aksi mahasiwa ITM kocar-kacir karena tembakan dan lontaran gas air mata secara membabi buta ke dalam kampus ITM.

Aksi mahasiswa ITM dipimpin Sahat Simatupang, mahasiswa Teknik Geologi angkatan 1993. Bersama beberapa orang aktivis Forum Solidaritas Mahasiswa Medan (Forsolima), Sahat memimpin demonstrasi anti Orde Baru di Kampus ITM. Dalam catatan gerakan aktivis 98, Forsolima adalah organisasi eksta kampus yang rajin mengorganisir petani dan buruh untuk menuntut hak normatifnya dan melawan pemerintah Orde Baru (Orba). Forsolima menjadi organisasi yang paling diincar intelijen saat itu. Forsolima memiliki jaringan nasional seperti Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI) yang dipimpin Sri Bintang Pamungkas, Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan Aliansi Demokrasi Rakyat (Aldera).

“Tertembaknya mahasiswa ITM Ronaldson adalah titik awal keberanian mahasiswa Medan aksi keluar kampus dan menyebar hingga ke kampus di Pulau Jawa,” ungkap Sahat dalam perbincangan Kilas Balik Reformasi Mei 98, Sabtu 4 Mei 2019. Sahat mengenang tertembaknya Ronaldson sebagai awal martir menumbangkan Orba

Sahat Simatupang Aktivis 98 ITM

“Ronaldson tertembak sekitar 5 meter dari tempat saya orasi. Saya sempat membopongnya dan menaikkannya ke mobil dosen Teknik Pertambangan ITM bernama Mardani Ginting Manik yang melarikan Ronaldson ke rumah sakit,” kenang Sahat.

Aksi 98 semakin membesar di Medan setelah penembakan Ronaldson. Aksi membara dan dimulai dari depan Kampus ITM. Mahasiwa dari enam kampus di Medan, yakni ITM, AMIK Kesatria, STIKP, UMSU, UNIKA Santo Thomas IAIN Sumut bergabung. Tuntutan mereka hanya satu: Turunkan Soeharto.

Ternyata tuntutan itu dianggap terlalu politis. Bahkan Rektor ITM ketika itu Ir Syahrum Razali MS.i, melarang mahasiswa ITM unjuk rasa. Namun Sahat dan rekan-rekannya tidak surut. Mereka mencium aroma Rezim Orba yang penuh korupsi akan segera tumbang.

“Saya dan beberapa mahasiswa ITM terus menggalang kekuatan. Kami bertemu sembunyi-sembunyi di sebuah rumah sederhana yang dihuni penjaga lahan milik mantan Wali Kota Medan Bachtiar Djafar di Jalan Eka Warni Medan Johor,” kata Sahat.

Rekan seperjuangan Sahat di ITM antara lain Tongam Siregar (Alm), Ihutan Pane, Syahrul Isman, Romy Prapanca, Ade Irawan Sinik, Syukur Alfajar, Ahmad Marabdi Siregar, Octo Fitria dan lain-lain selalu berbagi tugas menggalang mahasiswa.

“Kalau dari Unika Santo Thomas kami selalu komunikasi dengan Mangasi Purba aktivis GMNI, Ikhwaluddin Simatupang dari Senat Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Anas Lubis Senat Fakultas Teknik UISU, dan Wirastuti dari STIK-P Medan,” tutur Sahat.

Gerakan mahasiswa semakin massif. Berselang dua hari setelah penebakan Ronaldson, ribuan mahasiswa dari sejumlah kampus turun ke jalan membawa poster bertuliskan “Laksanakan Sidang Istimewa, Soeharto Mundur.”

Mahasiswa long march dari depan Kampus ITM Jalan Gedung Arca menuju Taman Makam Pahlawan Jalan SM Raja Medan. Bentrok kembali terjadi persis di persimpangan Jalan Gedung Arca – HM. Joni.

“Saat itu saya dihajar anggota TNI karena mencoba menerobos blokade TNI. Beruntung saya diselamatkan fotograper Harian Waspada yang belakangan saya tahu bernama Ucok Faisal,” kenang Sahat.

Awal pekan, 4 Mei 1998, ribuan mahasiswa Medan berdemonstrasi di dalam kampus masing -masing. Situasi semakin panas. TNI mulai berpatroli dengan tank dan panser di dalam kota di Medan. Paling tidak sekitar 5000 mahasiwa gabungan terlibat dalam aksi 4 Mei tersebut. Sahat memimpin mahasiwa ITM. Mereka menyanyikan lagu-lagu nasional. Selang beberapa saat, mereka mencoba berdemonstrasi ke luar dari kampus dan menerobos pasukan keamanan yang berjaga di luar kampus. Mereka berpawai di sekitaran kampus. Polisi melihat aksi itu berpotensi menimbulkan kerusuhan. Polisi kemudian menghentikan mereka. Kontak fisik pun kembali terjadi. Mahasiswa kemudian melempari petugas dengan batu, memanah dengan ketapel, dan melempar bom molotov. Petugas membalas aksi tersebut.

Satu unit mobil sedan Suzuki Baleno milik, PT Hari Rezeki Kita Semua, dibakar massa di Jalan Brigjen Katamso, Kampung Baru, Rabu siang, 6 Mei. (Sumber: Waspada, 7 Mei 1998)

Mahasiswa juga membakar ban dan tumpukan kayu di badan jalan untuk menghalangi pasukan anti-huru-hara mendekat. Melihat pasukan anti huru-hara bertambah banyak, mahasiswa ITM masuk ke dalam kampus dan menutup pintu pagar. Selanjutnya mereka melempari petugas dengan batu dari dalam kampus. Lokasi Kampus ITM yang berdekatan dengan Markas Polsek Medan Teladan (Medan Kota) memicu bentrok berlanjut hingga larut malam.

Berhari-hari aksi mahasiswa di Medan akhirnya meluas menjadi kerusuhan massal di Jalan Sutrisno/Antara, Aksara Plaza, Jalan Brigjen Katamso lalu ke Jalan Djuanda, Ahmad Dahlan, Jalan Imam Bonjol. Simpang Limun dan lain -lain.

“Saya lari dari kejaran intelijen Kodam I/BB ke arah perumahan Cemara Asri dan diselamatkan kakak senior saya mahasiswa Teknik Geologi bernama Binsar Pakpahan,” kata Sahat. Saat itu Sahat baru selesai menandatangani kuasa hukum dan menyerahkan sejumlah bukti pecahan granat gas air mata dan selongsong peluru yang ditembakkan ke dalam kampus ITM kepada Direktur LBH Medan Kusbianto disaksikan sejumlah wartawan. “Salah satunya adalah jurnalis Majalah Tempo Bambang Soedjiarto yang akhirnya jadi senior saya di Tempo,” ungkap Sahat.

Pengalaman di lapangan menjadikan naluri dan intuisi Sahat sangat tajam. Dia mampu menggalang pemuda dan mahasiswa hanya dalam satu atau dua kali pertemuan. Bakat penggalangan itu dia dapatkan saat berada di Forsolima. “Saya dulu jadi Ketua Departemen Pendidikan dan Propagada di Forsolima,” ujar Sahat.

Namun perdebatan sengit di kalangan aktivis kadang tak terelakkan. Saat sahabatya Pius Lustrilanang mendirikan organisasi Brigade Siaga Satu (Brigass), Sahat ditunjuk membentuk Brigass di Medan. “Saya diprotes kawan-kawan dan sempat dimusuhi karena Brigass dianggap organisasi semi militer (milisi). Saya kemudian mundur dari Brigass apalagi Pius malah bergabung dengan Prabowo Subianto,” kata Sahat.

Takdir sebagai aktivis kadang tak tertebak. Setelah malang melintang menggalang kekuatan rakyat dari satu kota ke kota lain di Indonesia, Tahun 2005 Sahat bergabung dan menjadi jurnalis muda di Tempo. Sambil terus menggalang kekuatan rakyat, Sahat mengasah keterampilan dan idealisme jurnalis.

“Saya banyak belajar dari jurnalis senior Harian Indonesia Raya dan Kompas Jus Soemadipraja. Kebetulan saya dan Bang Jus sama-sama satu barisan dengan Sri Bintang Pamungkas saat awal menumbangkan Orba. Saya sering mampir ke rumah Jus Soemadipraja di Depok, Jawa Barat. Lewat rekomendasi Jus Soemadipraja saya diterima di Tempo,” kata Sahat.

Saat Pilpres 2014, Sahat aktif menggalang jaringan aktivis 98 mendukung Joko Widodo. Dia mendeklarasikan relawan Aliansi Masyarakat Sipil untuk Indonesia Hebat (Almisbat) di Taman Ismail Marzuki Jakarta bersama sejumlah aktivis Aldera dan Forum Mahasiswa Jombang. Tugas Sahat memenangkan Jokowi -JK di Sumut bersama tim kampanye yang di pimpin Budiman Nadapdap dan politisi senior PDI Perjuangan Panda Nababan. Hasilnya Jokowi – JK menang di Sumut.

Berbeda dengan Pilpres 2014, di Pilpres 2019, Sahat bersama rekan – rekannya aktivis 98 ITM membentuk Relawan Indonesia Kerja (RIK). Targetnya memenangkan Jokowi – KH.Ma’ruf Amin di Sumut dan beberapa provinsi di Pulau Sumatera yang dianggap lemah seperti Aceh, Sumbar dan Kepri serta Provinsi Bangka Belitung. Berbeda dengan Pilpres 2014, di Pilpres 2019, Sahat berada dalam struktur Tim Kampanye Daerah (TKD) sebagai Wakil Direktur Relawan. Sahat rela mundur sebagai Komisaris BUMD Sumut PT Dhirga Surya karena berada dalam struktur tim kampanye. Meski harus kehilangan jabatan bergengsi sebagai Komisaris BUMD, namun Sahat tak menyesal.

“Saya satu-satunya wartawan yang dipercaya Gubernur Sumut Tengku Erry menjadi Komisaris BUMD. Namun saya harus mundur karena dalam struktur Tim Kampanye Daerah (TKD). Saya juga tidak menulis berita apapun tentang hiruk pikuk Pilpres di Sumut untuk Tempo agar saya terhindar dari memanfaatkan media saya untuk kepentingan capres – cawapres yang saya dukung. Saya mendukung Jokowi karena percaya dia orang baik,” pungkas Sahat mengakhiri. (***)

Penulis Adalah: Sastroy Bangun Redaktur Waspada Online, Seperti Dikisahkan Sahat Simatupang Dalam Wawancara Kilas Balik Peristiwa Mei 98.

Check Also

Beredar Hoaks Nama Menteri, Erick Thohir Sebut Penyebarnya Ingin Masuk Kabinet

  JAKARTA – Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin, Erick Thohir menyebut ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: